Halaman

Tampilkan postingan dengan label Buku Misi Regu Elang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Misi Regu Elang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2020

Buku 5 - Kasus Malam Qadar

Kasus Malam Qadar

Oleh: Caritra Sari



Ilustrasi oleh Rahman A. Nur

***

Bab Satu



"Biimoo, gas abiis!" seru Ardi dari dapur. Dia mematikan kompor yang dipakai untuk memasak sop iga. "Duh, mana pas lagi masak, baru setengah matang nih!"

Wira juga mematikan kompor di sebelah Ardi, lalu mengangkat perkedelnya yang baru sebagian digoreng.

"Sini aku beliin di warung depan," tukas Saka yang sedang memotong buah.

Ardi melepas tabung gas kecil itu dan menyerahkannya pada Saka, sedangkan Satya meninggalkan pekerjaan membulati perkedel dan menggantikan tugas Saka membuat sop buah. Dia melirik jam dinding--waduh, sudah jam lima! 

"Tolong bantuin Bimo ngatur takjilnya dulu, Dwi," pinta Satya pada Dwi yang sedang merekam kegiatan mereka. Regu Elang lalu bergegas merampungkan pekerjaan memasak mereka.

Sebagai salah satu tugas dari ekskul pramuka, hari ini mereka mengadakan acara buka puasa bersama anak-anak panti asuhan Yayasan Dompet Yatim dan Dhuafa di Kodam, Bintaro. 

Pak Haji Naryo, ayah Bimo yang juga pemimpin yayasan, sedang pergi umroh ke tanah suci. Jadi kegiatan operasional yayasan dipasrahi pada anak-anaknya. 

Untuk kegiatan bukber ini Mas Erwin kakak tirinya Bimo menyuruh Bimo yang bertanggung jawab.

Begitu tabung gas yang baru datang, Ardi dan Wira segera melanjutkan memasak. Sop buahnya sudah selesai dan langsung disajikan oleh Satya dan Saka. Dwi kembali merekam video dan Bimo membuka acara, di musholla panti asuhan yang terletak di samping rumah Bimo.

Anak itu berdiri di ujung barisan peserta bukber yang duduk berhadapan di atas tikar. Dia memakai baju koko putih, sorban kotak-kotak merah, dan tersenyum hangat pada semua hadirin.

"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh!" sapanya ceria. Anak-anak panti menjawab salamnya dengan semangat. 

"Selamat soreee… selamat datang pada yang kami hormati Pak RT, Pak RW, dan kakak-kakak dari Regu Elang SMPN 177 Bintaro. Adik-adik dan kakak pengurus panti, apa kabar semua?"

"Baiiiik Kaaak Bimoooo!" Ruangan kembali riuh dengan suara anak-anak. 

Bimo tertawa dan melanjutkan kata sambutannya dengan ucapan terima kasih. Satya dan Saka duduk manis di sampingnya, mengikuti acara dengan seksama.

"Wah, si Bimo pede banget ya," bisik Satya ketar-ketir. Dia nanti juga akan memberi sedikit prakata, tapi sepertinya tidak bisa seluwes Bimo. Bimo terlihat menguasai keadaan, bisa membuat peserta tergelak maupun tersentuh dengan nasehatnya.

"Dia udah biasa tampil, Satya. Dari kecil ayahnya pasti memberi contoh dan membimbingnya cara bicara di depan umum," ujar Saka sambil tersenyum menenangkan.

"Oh… iya juga sih. Aku masih suka grogi kalau tampil di depan orang-orang gitu. Gugup ngomongnya, takut salah."

Saka mengangguk. "Itu wajar, kok. Biasanya kalau bicara topik yang dikuasai, kita bisa lebih lancar menjelaskan. Lihat aja Wira yang nyerocos kalau jelasin teorema matematika. Tenang aja, kamu cuma tampil sebentar, kan. Lagipula ada Bimo, dia pasti nolongin kalau kamu butuh bantuan."

Saka lalu pamit ke belakang untuk membantu Ardi dan Wira. Setelah itu Satya tampil, hanya mengucapkan beberapa patah kata. Bimo masih berdiri di sampingnya, membuat Satya merasa aman dan lancar bicara.

Tak terasa adzan Magrib tiba. Semua peserta menyantap kolak ubi dan sop buah yang disediakan, lalu mengantri wudu dan sholat Magrib. Setelah itu mereka makan bersama. Acara bukber selesai usai makan. Anak-anak panti lalu bersiap sholat tarawih, sementara Regu Elang beres-beres dan mencuci piring.

"Dwiii bantuin kek, enak bener dari tadi cuma ngerekam video doang?" protes Ardi. "Pinggangku encok nih!"

"Wahaha dasar kakek-kakek!" ejek Dwi, lalu kabur sebelum ditimpuk pakai spons cuci piring. "Aku bantu beresin sound system dan gulung tikar di depan ya."

"Sekalian nyapu ngepel ruang depaan!"

"Ogah!!"

Satya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ardi dan Dwi. Setelah pekerjaan mereka selesai semua, karena musholla panti tidak mengadakan sholat tarawih, mereka pun berangkat ke Mesjid Raya Kodam Bintaro.

"Bim, lumayan banyak yang dateng ya?" tanya Satya.

"Yah, mungkin mereka pada mau iktikaf, atau sekadar mengejar pahala malam Qadar."

"Iktikaf dan malam Qadar? Apaan tuh?" tanya Dwi.

"Iktikaf adalah berdiam di masjid. Biasanya diisi dengan sholat sunnah, dzikir, membaca ayat Al Qur'an, mengikuti kajian, dan ibadah lainnya," jelas Bimo. 

"Malam Qadar atau Lailatul Qadar itu adalah suatu malam di bulan Ramadhan saat Allah menurunkan kitab suci Al Qur'an ke muka bumi. Beribadah pada malam Qadar pahalanya seperti orang yang beribadah seribu bulan."

"Hah, seribu bulan!"

"Itu sama dengan 83 tahun," timpal Wira.

"Bayangkan kalau pada malam itu kamu sedang iktikaf di mesjid dan memperbanyak ibadah… wih, pahalanya benar-benar pol," Bimo merangkul dan menepuk-nepuk pundak Dwi. "Keren, kan?"

"Banget!"

Mereka pun segera berwudhu. Karena mesjidnya sudah agak penuh, mereka kebagian tempat di belakang, dekat pintu tempat wudhu. Tas mereka dikumpulkan di dekat tiang, agar mereka dapat sujud tanpa harus kepentok tas ransel masing-masing.

Saat tarawih dimulai, tiap dua rakaat salam. Seusai sholat tarawih yang kedua Bimo keluar barisan. Ardi menatapnya bertanya, apa mau diamankan tempat sholatnya. Bimo hanya menggeleng dan bilang dia kebelet. Saat dia kembali sholat tarawih yang keempat sudah selesai. Bimo lalu merapat ikut sholat di samping Wira.

Karena sudah terlambat, Bimo bermaksud tidak ikut sholat witir yang menjadi penutup rangkaian sholat tarawih. Tapi sebelum sholat witir dimulai, seseorang berteriak dari selasar samping mesjid.

"Astaghfirullah, ada maliiiing!"

Sontak sholat witirnya batal, semua jamaah bubar. Ternyata seorang jamaah pria menemukan gembok kotak amal masjid tergeletak di lantai dekat kaki kotak, sudah dirusak. Marbot mesjid segera mengecek kotak tersebut, dan menyatakan benar bahwa uangnya telah dicuri.

"Kotak ini tadinya penuh, tapi sekarang sudah berkurang sepertiga," kata bapak itu. "Ada seseorang yang membongkarnya dengan paksa dan mengambil uangnya."


***



Bab Dua



Para jamaah mesjid diminta untuk tidak pulang dan kembali ke dalam.

"Kita perlu mempersempit waktu kejadian," kata Pak Muh, kepala dewan keamanan mesjid. "Siapa saja yang tadi keluar wudhu atau ke toilet setelah shalat tarawih dimulai?"

Beberapa orang menyebut orang di sebelahnya telah keluar. Pak Muh mencatat nama dan perkiraan waktunya.

Pak Sugeng ke toilet setelah sholat tarawih yang kelima. Dialah yang menemukan kotak itu dalam keadaan terbuka.

"Nggak mungkin Pak Sugeng pelakunya," kata seorang bapak di sebelahnya. "Beliau baru saja keluar."

"Eh, ini Bang Ozen tadi juga keluar," kata bapak yang lain. Dia memandang curiga pada seorang pemuda bertato dengan tampang preman. "Agak lama juga, waktu mau sholat isya sampai rakaat pertama tarawih ketiga."

"Maksudnya apa nih, Pak," tanya Bang Ozen dengan logat batak yang kental. Dia kelihatan tidak suka dituduh sembarangan. 

"Aku cuma keluar sebentar karena sakit perut, bah! Malu kali sampai kentut pas baru takbir pertama, jadi kucepat keluar. Untungnya toilet kosong, lumayan lama aku di sana. Perlu kucerita juga mencret-mencret, kah?!"

"Ee benar itu si Bang Ozen tidak bohong, kentutnya bau duren, bah!" sahut orang di sebelahnya yang sama-sama orang Batak.

Beberapa orang terdengar cekikikan di belakang, tapi segera terdiam karena dipelototi Bang Ozen. Bapak yang mengadu tadi cuma mendengus.

"Ya saya kan cuma ngasih tahu Pak Muh aja, bukan nuduh situ… walaupun situ pernah jadi ketua preman di sini," ketus bapak itu.

"Sudah, sudah. Ada lagi?" kata Pak Muh menengahi.

"Saya Pak, tadi keluar sebentar," kata seorang anak laki-laki berkacamata yang berada dekat Pintu Dua. Satya mengamatinya, sepertinya usianya hanya 1-2 tahun di atasnya.

"Oh, Rusdi anaknya Bu Aminah ya? Kapan kamu keluar?" tanya Pak Muh.

"Setelah tarawih pertama, Pak. Saya juga buru-buru kebelet pipis, untungnya enggak ngantri. Masih ada satu toilet yang tidak terkunci. Setelah pipis saya ketemu Bimo yang mau ke toilet."

Satya berpaling ke arah Bimo, berbisik, "Kenalan kamu, Bim?"

Bimo mengedikkan bahu. "Dulu tinggal di seberang rumahku. Kakak kelas, sekarang udah lulus SMP."

"Kalau kamu bagaimana, Bim?" tanya Pak Muh.

"Saya keluar ke toilet setelah sholat tarawih yang kedua, Pak. Karena toiletnya penuh sempat nunggu sebentar, lalu saat Rusdi keluar saya masuk," jelas Bimo. "Saya kurang memperhatikan gemboknya sih, tapi pas lewat kotak amal seingat saya kondisinya masih tertutup."

Pak Muh mengerutkan kening. "Bang Ozen dan Rusdi melihat ke kotak amal juga?"

Kedua orang itu hanya menggeleng dan mengedikkan bahu. "Saya nggak memperhatikan, Pak, karena pengen ngejar tarawih," kata Rusdi.

"Saya lihat pas buru-buru ke toilet, sempat tersandung kotak itu... tapi kondisinya masih bagus dan gemboknya masih terpasang," ujar Bang Ozen.

"Oh iya, ada lagi Pak yang keluar," tiba-tiba seseorang dari shaf depan berkata. "Pas baru shalat Isya, Mas Simin tadi keluar, tapi enggak balik lagi."

Mas Simin seorang pemuda kurus berusia dua puluhan dan berambut keriting. "Oh, tadi saya masuk lewat pintu belakang dan lanjutin sholat di sana, soalnya udah ketinggalan."

"Kamu kenal, Bim?" bisik Satya.

Bimo mengangguk. "Mas Simin itu pedagang asongan. Dia sering mampir ke musholla panti."

"Ada yang lihat waktu Mas Simin masuk?" tanya Pak Muh.

"Anu, Pak, saya sholat persis di depan Pintu Tiga. Waktu sholat ada yang nyusul di samping pilar, tapi saya enggak tahu itu siapa, sebelumnya saya enggak kenal Mas Simin. Cuma saya juga lupa pas tarawih dan rakaat yang ke berapa, soalnya saya ngantuk hehehe…"

"Saya masuk pas rakaat kedua tarawih yang kedua," kata Mas Simin. "Di samping bapak ini."

"Ada lagi yang keluar-masuk mesjid?" tanya Pak Muh. Tidak ada yang menjawab.

"Oke, jadi pertama Bang Ozen keluar, disusul Mas Simin. Lalu Mas Simin masuk, sementara Rusdi keluar. Lalu Bimo keluar, Rusdi masuk. Bang Ozen masuk mesjid, baru terakhir Bimo masuk. Setelah itu Pak Sugeng keluar dan menemukan kotak tersebut sudah terbuka. Begitu, ya?"

Mendengar kronologi kejadian seperti itu, semua mata lalu berpaling pada Bimo. Bimo-lah yang terakhir keluar sebelum pencurian terjadi. Satya yang berada di sebelah Bimo melihatnya memucat.

"Bukan saya yang mengambilnya, Pak," sangkalnya lirih.

"Bener, Bim?" tanya Rusdi sambil mengerutkan kening. "Kudengar kemaren kamu sempat minjem sepedanya Ato, lalu nabrak pagar dan nyemplung ke got. Sepedanya rusak, kan?"

"Benar begitu, Bimo?" tanya seseorang dari depan. Rupanya Mas Erwin, yang dari tadi hanya diam mendengarkan. Dia menerobos kerumunan dan bergegas menghampiri Bimo. "Kamu kok belum cerita?"

Bimo menatap kakaknya dengan wajah memelas. "Iya, Mas… aku enggak cerita karena enggak mau ngerepotin. Aku mau benerin sepedanya pakai uangku sendiri. Demi Allah aku nggak ngambil uang dari kotak amal itu, Mas," ujarnya dengan suara serak.

"Coba geledah aja tasnya, Pak," usul seseorang, yang diikuti suara setuju dari yang lain. "Kalau emang bukan dia yang ambil kan harusnya enggak ada di situ."

Pak Muh menghampiri Bimo, lalu menepuk pundaknya. "Maaf ya, Nak Bimo, ini demi kebaikan kita semua."

Bimo melirik ke Mas Erwin yang menatapnya tajam, lalu mengangguk. Tidak bisa menolak.

Pak Muh memanggil marbot mesjid dan menyuruhnya mengambilkan tas Bimo. Ketika marbot itu merogoh tas berwarna merah ngejreng tersebut, dia tertegun. 

Lalu dengan wajah tidak percaya, dia mengeluarkan lembaran-lembaran uang yang sepertinya dimasukkan dengan tergesa-gesa. Jumlahnya cukup banyak, walau nominalnya bercampur. Ada uang seribuan maupun seratus ribuan di sana. 

Bapak itu lalu mengambil salah satu uang lima ribuan yang penuh corat-coret. Dia memperhatikannya sebentar, lalu berpaling pada Pak Muh.

"Ini benar uang dari kotak amal. Saya ingat uang ini berasal dari kotak tersebut."


***


Bab Tiga



Jamaah masjid langsung ribut.

"Ya Allah, enggak nyangka, ya… si Bimo itu cuma tampangnya doang yang alim, tapi ternyata kelakuannya nyolong uang mesjid!"

"Mana sih? Oooh.. itu ya… anaknya Haji Naryo kan?"

"Yang punya Yayasan Dompet Yatim dan Dhuafa itu? Duh, kalo anaknya aja begitu, jangan-jangan bapaknya juga menggelapkan uang yayasan?!"

"Hush, enggak boleh nuduh sembarangan gitu! Itu namanya fitnah!"

"Ya kan belom ada buktinya aja!"

"Mungkin Bimo-nya aja yang terpengaruh pergaulan bebas. Anaknya Pak Kiayi masa hobinya nongkrong di studio sama anak band, main musik dan nyanyi-nyanyi gitu!"

"Hah masa? Padahal dia kan juara lomba baca Qur'an, lho! Bacaannya bagus banget, bikin aku merinding. Katanya dia tahfiz juga…"

"Halah, zaman sekarang mah yang cuma hafal doang banyak!"

"Ya gitulah, berarti didikan ortunya gak bener!"

"Lho kok jadi ortunya yang disalahin…"

"Eh, yang namanya buah itu jatuh enggak jauh dari pohonnya!"

"Iya, Pak Haji Naryo itu kan lagi umroh sama bini mudanya, jangan-jangan hasil nilep uang yayasan!"

"Hah, emang istrinya ada berapa?"

"Ih, kamu enggak tahu ya, ibunya Bimo itu istri kedua Pak Haji! Istri pertamanya tuh ibunya Mas Erwin. Enggak tahu deh aslinya istrinya ada berapa!"

"Ya ampun, pokoknya aku enggak bakal nyumbang apa-apa lagi ke yayasan itu!"

"Astaghfirullah, kenapa kalian pada ngomongin orang begini?"

"Ibu-ibu, bapak-bapak, tolong diam sebentar," tegur Pak Muh dengan nada keras. Orang-orang langsung terdiam, memperhatikan Pak Muh.

"Kami akan menyelesaikan masalah ini di kantor. Bang Ozen, Rusdi, Bimo, dan Mas Simin harap ikut saya. Yang lain silakan meneruskan sholat witir, lalu dimohon tidak meninggalkan mesjid dulu sebelum saya persilakan, ya…"

"Duh, kenapa jadi berbelit-belit begini, Pak Muh?" protes seseorang. "Kan sudah jelas pelakunya siapa, barang buktinya pun sudah ada. Kenapa jadi kita yang ditahan?"

"Sabar, Pak. Kita coba telusuri masalahnya dengan hati-hati. Saya belum mendengar penjelasan dari Bimo."

"Penjelasan apa lagi, sih? Kalau cuma mau nanya alasan ya selesaikan sendiri saja. Yang penting kami sudah tahu Bimo pelakunya."

Bimo mematung, wajahnya pucat pasi. "Tapi Pak, bukan saya yang--"

"Diam, kamu," potong Mas Erwin. Dia menyeret Bimo keluar. Tak berapa lama sayup terdengar suara bentakan-bentakan dari sana.

Pak Muh menggeleng, terlihat sedih. "Maaf Pak, tolong tunggu sebentar saja. Silakan sholat witir dulu, Pak, supaya kita semua bisa tenang. Tolong jauhi prasangka buruk. Bantu dengan doa, Allah yang akan menunjukkan kebenarannya."

Pak Muh lalu bergegas keluar, diikuti oleh marbot yang menunjukkan jalan pada Bang Ozen, Rusdi, dan Mas Simin.

Saka menggenggam lengan Satya. Satya hanya mengangguk.

"Wira, perkiraan waktu?"

"19.15 sejak sholat Isya dimulai dan Bang Ozen tersandung kotak amal, sampai 19.45 saat Pak Sugeng memberitahukan uang dari kotak itu dicuri," jawab Wira mantap. Dia mengeluarkan kertas dan pensil dari kantongnya. "Detil waktu kronologinya segera aku catat."

Satya berterima kasih, lalu berpaling pada Ardi.

"Ardi, tolong jaga pintu keluar. Sekalian tanyakan pada tukang parkir apakah ada yang keluar atau masuk mesjid sejak jam 19.15 sampai 19.45."

Ardi mengangguk dan langsung pergi.

"Saka, tolong jaga tas kita dan kotak amal itu. Dwi, rekam video untuk memantau semua pintu dan perhatikan siapa yang keluar-masuk ke toilet."

Satya lalu beranjak keluar menuju toilet pria, yang berada sepuluh meter di belakang Pintu Empat. 

Ada tempat wudhu dengan sepuluh keran yang saling berhadapan di sana, lalu lantainya menurun dua undakan menuju empat buah ruangan kecil dengan pintu aluminium yang menutup rapat. 

Satu pintu tertulis label "Gudang", sedangkan ketiga pintu lainnya adalah toilet. Semua pintu berindikator label hijau, pertanda tidak ada orang dan tidak dikunci. Secarik kertas kecil tertempel pada pintu di samping Gudang, tulisannya "Rusak".

Satya kemudian berpaling dan menghampiri kotak amal itu, yang terletak di dekat tempat wudhu. Kotak transparan dari kaca itu kakinya yang terbuat dari aluminium menempel permanen pada lantai. Kacanya tidak pecah. Kaitan engselnya hampir terkoyak oleh tang. Gembok kecil yang lengannya sudah patah dirusak itu tergeletak di atas kotak.

Dari kotak amal itu, melalui jendela kecil di atasnya Satya bisa melihat Pintu Dua, yang sejajar dengan Pintu Empat, tempat Wira dan Saka sedang berdiri. Di samping kakinya tas mereka bertumpuk.

"Sat, aku baru sadar… tas kita ini di samping pilar, mudah sekali diraih bila ada orang yang lewat. Tadi kita sholat di shaf terakhir agak ke tengah, sehingga enggak bisa memantau tas-tas ini ketika sholat," kata Saka. Satya mengangguk membenarkan.

Wira lalu memberikan rincian perkiraan waktu kejadian. Satya membacanya dan bergumam, "Kalau tebakanku benar, ada waktu kejadian yang salah di sini."

Kemudian dia berjalan ke Pintu Tiga, yang ternyata juga sama ada pilarnya. Satya memeriksa Pintu Satu dan Dua. Tidak ada yang aneh, hanya ada tempat penitipan sandal dan kotak asongan di dekat Pintu Satu.

"Tidak ada yang keluar masuk, begitu kata tukang parkir," lapor Ardi saat Satya jalan ke depan. "Pintu keluar parkiran mesjid hanya di dua tempat, jadi mereka bisa melihat jelas. Selain itu, keamanan di daerah sini cukup ketat, karena masih dekat komando utama daerah militer TNI AD. Oh ya, tadi Dwi bilang semua pintu aman, sudah tidak ada yang keluar sejak sholat witir dimulai."

Satya mengangguk, "Pelakunya bukan orang luar. Dia masih ada di sini."

"Kamu udah tahu siapa pelakunya, Sat?" tanya Ardi.

Satya cuma tersenyum misterius, lalu berbelok ke arah kantor pengelola mesjid.


***

Bab Empat



Satya mengetuk pintu ruangan kantor, lalu masuk. Pak Muh sedang bicara secara pribadi dengan Mas Erwin. Bang Ozen duduk di sofa tamu, bersidekap dengan tampang bosan campur kesal. Rusdi memainkan HP, sedangkan Mas Simin mengepit jaketnya, melingkarkan tangan ke atas perut. 

Bimo duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu, kedua siku bertumpu di atas lutut, tangan menutupi wajahnya yang menunduk.

Satya duduk di sampingnya, menyentuh lengannya pelan.

"Kamu enggak apa-apa?"

Bimo mengusapkan tangan ke kepala, menggenggam sejumput rambutnya. Pipinya merah, matanya basah.

"Kalau ayahku tahu dia bakal marah besar, Sat. Walaupun begitu aku akan menerimanya kalau memang salah," lirih Bimo sambil memejamkan mata. "Tapi aku enggak melakukannya. Orang berprasangka buruk dan mencaci-maki aku, enggak apa-apa... tapi mendengar mereka bicara jelek tentang Ayah… aku enggak mau Ayah disakiti seperti itu, Sat…"

Satya lalu meremas tangannya, mencoba memberikannya dukungan. Dia lalu memanggil Bang Ozen.

"Maaf kalau saya mengganggu, Bang. Waktu Bang Ozen lagi di toilet, apa Abang enggak mendengar sesuatu?" tanya Satya.

Bang Ozen berpikir-pikir. "Yah, aku cuma mendengar seseorang keluar masuk ke toilet. Pintu dibuka-tutup sebanyak empat kali."

Satya mengangguk.

"Kak Rusdi, waktu Kakak masuk ke toilet, hanya ada satu bilik yang tidak terkunci?"

Rusdi mengedikkan bahu. "Iya, kalau kekunci labelnya merah, kan? Ini masih ada satu yang hijau."

"Iya, ada satu toilet yang rusak, kan," timpal Bimo. "Pintunya merah semua. Makanya aku sempat nunggu salah seorang keluar."

"Ada seseorang yang berbohong di sini," kata Satya kemudian, membuat Pak Muh dan Mas Erwin berhenti bicara dan berbalik mendengarkannya.

Satya berdiri dan menunjuk ke arah pintu.

"Pintu di ruangan kantor ini memiliki kunci. Artinya pintu bisa dibuka dan dikunci dari luar atau dalam. Namun, pintu aluminium di toilet itu hanya bisa dikunci dari dalam. Berarti ada seseorang yang bersembunyi dan baru keluar setelah tidak ada orang."

Satya memperhatikan sekeliling. Bimo dan Pak Muh tampak menyadarinya.

"Seseorang keluar setelah sholat Isya dimulai. Orang tersebut berusaha membuka engsel kotak amal, namun gagal. Berhubung dia melihat orang lain yang sedang keluar mesjid, dia bergegas menuju toilet dan bersembunyi di bilik toilet yang rusak, menguncinya dari dalam. 

"Setelah semua orang keluar, dia pun keluar dan menyelesaikan pekerjaannya dengan mematahkan gembok. Sayangnya dia buru-buru, karena perkiraan waktunya yang melenceng. Jamaah sudah hampir selesai tarawih. Agar tidak menarik perhatian dan karena tasnya berada di pintu seberang, dia memasukkan uang tersebut ke tas Bimo, yang sudah sering dia lihat sebelumnya. 

"Dia juga tahu Bimo terlambat tarawih, jadi akan berada di mesjid setelah orang-orang pulang. Mungkin saat itu dia akan mengambil uangnya," papar Satya. 

"Dia berbohong tentang waktu kembalinya ke mesjid. Dia tidak balik saat awal tarawih, melainkan di saat akhir. Dia sengaja memilih Pintu Tiga yang sudah penuh sehingga bisa nyelip di samping pilar."

Satya lalu berjalan ke hadapan pelaku. Kedua tangannya terkait di saku celana panjang, berbicara dengan mantap ala detektif ternama.

"Pelakunya adalah Anda, Mas Simin."

Mas Simin terlihat ketakutan. "A-apa? Jangan sembarangan nuduh, ya!"

Satya tersenyum tipis. "Anda masuk mesjid dari Pintu Satu, di barisan depan. Saat sholat Isya sedang berlangsung, Anda keluar. Memutari selasar depan di belakang pengimaman, Anda bergerak ke kotak amal dan melaksanakan aksi Anda. 

"Melalui jendela kecil di sana Anda melihat Rusdi yang sedang beranjak keluar dari Pintu Dua, tahu bahwa dia akan ke toilet. Anda lalu segera masuk ke bilik toilet yang rusak dan menguncinya, supaya pintunya tidak terbuka bila ada yang salah masuk. Anda mendengar Rusdi masuk dan keluar, Bimo masuk dan Bang Ozen keluar, dan terakhir Bimo keluar. Barulah Anda keluar dan mengambil uang itu. 

"Anda tidak menduga Pak Sugeng akan keluar dan menemukan kejadian ini secepat itu. Tadinya Anda berharap kotak amal itu baru ditemukan saat rombongan orang keluar mesjid pas pulang tarawih. Saat itu terlalu banyak orang yang sudah pergi dan dengan suasana yang kacau, tidak mungkin dilakukan penggeledahan satu per satu."

Mas Simin menggeleng, terlihat tambah pucat. "Kamu jangan asal ngomong, buktinya mana?"

Satya mundur selangkah, berhenti di samping Bang Ozen yang sudah ikut berdiri. 

"Anda telah membongkar kotak itu dengan tang. Bukti tersebut masih terus Anda pegang sampai sekarang, karena tidak ada waktu untuk menyembunyikannya. Bisa tolong lepas jaket Anda dan tunjukkan benda yang dari tadi berusaha Anda sembunyikan?"

Mas Simin menatap Satya dengan marah, tapi lalu menciut takut saat Bang Ozen yang kekar itu menghampirinya. Dia membuka jaket dan mengeluarkan tang yang disimpannya di saku dalam jaket.

Dengan menangis dia lalu menjelaskan tentang ibunya yang sakit keras dan tidak adanya dana untuk membeli obat. 

Dia mengaku khilaf saat melihat kotak amal itu mulai penuh. Dia juga meminta maaf pada Bimo dan Mas Erwin karena tidak bermaksud mencemarkan nama baik mereka. 

Dia hanya tahu Bimo sering ikut iktikaf sehingga pasti tinggal lebih lama di mesjid, dan tidak akan ada yang mencurigainya karena dia anak yang alim. 

Tadinya dia bermaksud membayar kembali uang yang diambilnya dari kotak amal, bila penghasilannya dari berdagang sudah mencukupi. Tapi ternyata aksinya ketahuan dan keadaan jadi berantakan begini.

"Seharusnya Mas Simin cerita ke pengurus mesjid saja, coba ajukan pinjaman. Insya Allah kita siap membantu jamaah yang kesulitan. Ada dana kesehatan yang bisa digunakan juga," kata Pak Muh. Beliau lalu mengajak semua masuk ke mesjid untuk menjelaskan duduk perkaranya pada jamaah, agar membersihkan nama baik Bimo dan keluarga.

Bimo dan Satya keluar terakhir dari ruangan. Bimo lalu memeluk Satya dengan erat.

"Makasih banyak, Satya," bisiknya parau, sedikit terbata karena menahan tangis. "Semoga Allah membalas kebaikanmu berlipat ganda."

Satya mengamini, lalu menepuk-nepuk punggung Bimo. Senang karena akhirnya bisa membantu sahabatnya.


***

Catatan Penulis:

Ya Allah akhirnya selesai jugaaaa, tadinya udah mau nyerah karena udah tanggal 25 tapi sama sekali belum bikin outline apalagi nulis... alhamdulillah akhirnya kekejar hehe... btw waktu Manda baca ini dia surprised si Satya bisa jadi kayak detektif gitu. In case you forgot, cerita pertamanya Satya emang cerita detektif. Dia memecahkan kasus pencurian lencana pramuka Kak Darma di cerita Wing Tapak Hitam. Jadiii ya begitulah, jadi Shinichi Kudo ala-ala huehehe... hope you enjoy the story :)


SELESAI













Minggu, 26 April 2020

Buku 4 - Rahasia Peta Buta

Rahasia Peta Buta

Oleh: Caritra Sari



Ilustrasi oleh Rahman A. Nur

***

Bab Satu



Satya mengucek matanya yang gatal di balik kain hitam penutup mata.

"Aduh, masih lama enggak, sih?" gumam Dwi yang duduk di samping Satya. Dari tadi dia gelisah. Tidak ada yang bisa menjawab, karena mereka semua tidak ada yang tahu ke mana dibawa pergi.

Mobil tronton yang mereka tumpangi mengerem mendadak dan membunyikan klakson. Beberapa klakson kendaraan dari arah belakang juga ikut ramai.

"Kenapa Dwi, kamu kebelet pipis?" tanya Satya.

"Ah, paling dia ketakutan karena gelap," ejek seseorang sambil tertawa. Suaranya Aryo.

"Dih asal nyahut aja, siapa yang ngajak kamu ngobrol! Aku cuma pengen tahu kita udah sampai mana. Perasaan udah lama banget kita berangkat. Lagian kenapa pakai ditutup mata dan diambil HP nya segala, sih," sungut Dwi yang paling akrab dengan teknologi. Begitu tidak memegang HP sepertinya dia jadi mati gaya.

Seseorang di depan Satya menggeser posisi duduknya.

"Baru juga satu setengah jam. Kita masih di kota, kok," jawab Wira. "Kayaknya kita enggak ke Puncak deh. Mungkin masih sekitaran Banten atau arah Parung."

"Kok kamu bisa tahu, Wir?" tanya Bimo di kanan Satya.

"Cuaca panas. Jalanan padat dan macet, kontur jalan rata. Kita bukan sedang di tol. Dengan asumsi kecepatan konstan seperti ini, kita bisa hitung radius jarak dari sekolah dan memperkirakan lokasi tujuan. Tadinya kupikir kita akan ke Situ Gintung, Ciputat, tapi mestinya kalau ke sana enggak nyampai satu setengah jam juga udah sampai sih…" jawab Wira terdengar sambil berpikir.

Kriik… kriiik… kriiiik…

Semua terdiam, karena tidak ada yang bisa membayangkan perhitungan geospasial seperti Wira yang ahli matematika itu. Bimo menyikut Satya, Satya menyikutnya balik. Seseorang terdengar cekikikan. Satya lalu menepuk-nepuk lutut Wira untuk membesarkan hatinya.

"Uhh apaan sih?" suara Ardi kayak baru bangun tidur.

"Ihh Ardi bau ileeer!!" seru Dwi sambil tertawa.

"Enak ajaa!"

Begitu mobil berhenti, suara galak Kak Bakti langsung terdengar.

"Yang bukan ketua regu dilarang buka tutup mata. Tunggu giliran turun, ketua regu di depan."

Satya melepas kain penutup matanya, lalu mengerjap silau. Setelah berhasil menyesuaikan pandangannya, dia mengintip ke luar. Mereka berada di parkiran yang cukup luas, berbatasan langsung dengan pepohonan di tepi hutan. Ada sebuah rumah besar di dekat gerbang masuk, tapi dari posisi mereka tidak terlihat plang nama tempat itu.

Tak lama terdengar seseorang membuka slot bak tronton. Rupanya Kak Darma. Dia mengabsen masing-masing regu, sekalian menyebutkan nama kakak pembina yang akan menemani tiap regu. Satu per satu turun, sampai tinggal Regu Elang dan Regu Jaguar.

Pandu, ketua regu Jaguar melipat tangan di dada, terlihat seperti jaguar yang mengintai anak ayam berbaris. Aryo pura-pura menggaruk hidung, padahal dia mengintip dari balik tutup matanya.

"Regu Jaguar sama--"

"Darma. Regu Elang sama aku," putus Kak Bakti memotong ucapan Kak Darma. Kak Darma kemudian menyuruh Pandu dan teman-temannya turun.

Setelah semua keluar dari mobil, mereka pun berbaris. Satya melihat ada lebih banyak Kakak Pembina dari biasanya, sebagian tidak dia kenal. Apa mungkin mereka teman-teman Pramuka Penegak dari regu Kak Darma?

Pak Basri membuka acara latihan rutin mereka hari itu, lalu dilanjutkan dengan penjelasan kegiatan oleh Kak Darma.

"Kali ini kita belajar mencari jejak. Kalian adalah para Kesatria yang menyelamatkan Tuan Putri dari Raja Monster. Tugas kalian adalah membawa Tuan Putri pulang ke istana, yaitu sebuah rumah pondok kayu yang berada dalam hutan ini. Di sana ada Pak Basri dan Kak Karin yang jadi Raja dan Ratu yang menunggu Tuan Putri pulang," kata Kak Darma.

"Masing-masing regu mulai dari titik yang berbeda dan mendapat peta buta. Kalian harus melengkapi peta itu dengan titik lokasi pondok regu lain. Kalian juga akan mendapat Tuan Putri, yaitu seorang kakak pembina. Pastikan kalian tidak kehilangan mereka. Kalau Tuan Putrinya sampai hilang atau dimakan monster, regu kalian didiskualifikasi. Anggota regu yang kelayapan sendirian akan dimakan monster dan tidak boleh melanjutkan misi. Regu yang semua anggotanya dimakan monster sampai tinggal sisa satu orang akan didiskualifikasi. Regu yang berhasil mengantar Tuan Putri sampai istana dengan jumlah anggota terbanyak akan memenangkan tantangan ini, mendapat poin dan hadiah."

Anak-anak langsung bergumam, sepertinya semua bersemangat ingin memenangkan misi!

"Oke, sekarang ikuti kakak pembina. Ketua regu pastikan semua anggotanya selamat. Yang lain follow the leaders," perintah Kak Bakti.

Mereka lalu masuk ke dalam hutan. Kak Bakti berjalan di depan. Satya mengikuti di belakangnya, berpegangan dan memandu yang lain yang masih memakai penutup mata. Setelah beberapa lama mereka lalu sampai di lokasi. Kak Bakti menyuruh mereka melepas penutup mata masing-masing.

Ada sebuah rumah kayu kecil di sana. Di sebelahnya ada bendera merah putih terpasang di tiang tinggi. Di pintu masuknya tertempel karton bertuliskan "Regu Elang (E)". Isinya hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dan ruang tengah. Mereka memutuskan untuk duduk di halaman luar sambil berembuk.

Satya membentangkan dua lembar peta yang mereka dapat. Peta pertama berisi sedikit gambar. Ada barisan pepohonan bambu, tulisan "Rawa Buaya", aliran sungai yang bercabang ketika mentok di pohon beringin, Air Terjun Bidadari, gerbang dan parkiran, dan arah mata angin. Peta yang kedua berjudul "Pondokan" berisi 10 titik pondok regu, salah satunya bertuliskan "Regu Elang". Tidak ada petunjuk arah mata angin maupun lokasi.

"Ini jadi kita mesti taruh peta pondokan di atas peta lokasi ya?" tanya Ardi sambil mencoba menumpuk peta tersebut.

Wira menggeleng, lalu memisahkan peta itu kembali dan menggeser peta pondokan jadi miring. "Kita tidak tahu di mana lokasi pondokan kita sebenarnya. Bisa jadi kertasnya harus diletakkan miring seperti ini. Kita harus menemukan pondokan lain, melihat mata angin, dan petunjuk sekitar untuk mengetahui lokasi kita."

"Duh, ribet amat?!" keluh Dwi. "Oke Google, tunjukkan lokasi restoran KFC terdekat! Ane keburu laper mak!"

Bimo tertawa berderai. Dwi nyengir dan menimpuk anak itu pakai daun kering.

"Tenaang, pertolongan pertama pada kelaparan telah tiba... wiiiuuu... wiiiuuu... wiiiuu...!" seru Ardi menirukan suara ambulans. Dia merogoh tasnya dan membagikan lontong pada semua orang. Kak Bakti yang memperhatikan di belakang mereka juga kebagian.

Akhirnya Satya meminta Wira mengambil alih komando. Wira lalu memanjat pohon kelapa di atas bukit di belakang pondokan dan melihat ke sekeliling.

"Aku menemukan tiang bendera pondokan lain di arah timur. Ayo kita cek dulu," katanya.

Mereka lalu berangkat, melewati pepohonan yang lebat. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah pondok yang kosong. Tulisannya "Regu Macan (C)".

Wira memperhatikan kedua peta buta itu, lalu membuat beberapa catatan kaki sambil berdiskusi dengan Saka. Suara Bimo dari dalam pondok tiba-tiba mengagetkan.

"Satya, lihat sini!" serunya dengan nada panik.

Mereka semua masuk ke dalam. Ternyata ada secarik kertas putih di atas meja yang kotor. Pada kertas itu ada sebuah tulisan berwarna merah, seperti dibuat dengan jari yang berdarah dan tergesa-gesa. Hanya satu kata tertera di sana, membuat semua merinding.

Tulisannya adalah "Tolong." 

***


Bab Dua




Saka langsung mengambil kertas itu dan memeriksanya. Dia mengerutkan kening.

"Ini bukan darah," katanya. "Ini cat minyak berwarna merah. Tintanya masih basah, jadi belum lama ditulis."

"Siapa yang iseng meninggalkan pesan begini?" Bimo terdengar marah.

"Mungkin Regu Macan sendiri?" tebak Ardi. "Rama kan suka nge-prank orang."

"Tetap saja, pesan minta tolong begini bukan buat mainan. Pintu ini tidak tertutup saat kita sampai, seolah ada yang mendobrak masuk. Gimana kalau ada yang benar-benar butuh pertolongan tapi tak ada yang bergerak karena mengira itu pesan bohongan?" geram Bimo.

Dwi menepuk-nepuk bahu sahabatnya. "Sudahlah, kalau ini pesan beneran mana mungkin ditulis pakai cat minyak, bukan?"

"Mungkin itu semacam kode," gumam Wira. Semua menengok ke arahnya.

"Kode apaan?" tanya Ardi penasaran.

"Apa kalian lihat di belakang nama regu ada huruf tambahan? E untuk regu kita, C untuk Regu Macan. Mungkin ini pesan yang ditinggalkan kakak pembina?"

Semua tampak berpikir.

"Coba kita tanya ke--Kak Bakti?! Kak Bakti!" panggil Satya sambil bergegas keluar.

Kak Bakti tidak ada.

"Guys, Tuan Putri kita hilang!" seru Satya. "Berpencar jadi 3 tim dan cari dia! Berkumpul di sini dalam 10 menit!"

Setelah heboh mencari Kak Bakti yang kabur, Satya kembali ke depan pondok Macan tanpa hasil. Aduh, bagaimana ini… mereka baru mulai masa sudah didiskualifikasi?

"Tuan Putrinya di sini, Sat," panggil Ardi sambil melambaikan tangan. Dia menggandeng tangan Kak Bakti yang kelihatan kesal.

"Apaan sih, orang cuma mau pipis," geram Kak Bakti. Dia menepis lengan Ardi, tapi Ardi hanya nyengir seram dan tidak mau melepasnya.

"Pipis apaan! Mana ada orang pipis sambil lari loncatin semak-semak!" balas Ardi.

"Itu karena kaget, masa ada yang tiba-tiba teriak kalap sambil ngejar orang," ketus Kak Bakti. Mereka masih sahut-sahutan menyalahkan satu sama lain sampai akhirnya Satya terpaksa menegur.

"Stooop! Stop, jangan berantem terus!" seru Satya. "Maaf Kak Bakti, mulai sekarang kalau mau pipis bilang saja ya, nanti ditemani sama Ardi."

“Hah, masa pipis aja pake ditemenin?” protes Kak Bakti.

“Dih, siapa juga yang mau lihatin Kakak pipis, yeee!” ujar Ardi. “Kita cuma mau mastiin Kakak enggak kabur lagi!”

Kak Bakti memutar bola matanya, tapi akhirnya setuju.

Wira lalu mengajak mereka kembali ke pondokan dan mengecek ke arah lain. "Dari gambar ini ada dua pondokan dekat kita. Kita perlu menentukan pondok Macan ini di titik yang mana. Jadi kita harus menemukan pondokan berikutnya dulu."

Mereka kembali berpencar jadi dua tim, yang satu ke Utara dan satu ke Selatan. Ternyata di Utara Satya menemukan pondokan Regu Jaguar. Aryo, Pandu, dan dua orang temannya sedang makan siang. Kak Darma duduk di atas batang pohon yang ditebang sambil makan roti daging.

Kak Bakti menghampiri Kak Darma lalu memberi isyarat. Kak Darma kemudian bangkit dan mengikutinya, jalan agak menjauh dari halaman pondokan. Ardi yang mau ikut jadi ciut setelah Kak Bakti menatapnya tajam. Akhirnya dia hanya mengawasi mereka berdua.

"Eh, ada si Satya. Lama amat baru sampai sini, pasti sempat nyasar, deh," panggil Aryo dengan nada mengejek.

“Enggak, kok! Kan emang jaraknya agak jauh,” kilah Satya.

"Memang sudah berapa pondokan yang kalian temui?" tanya Pandu dengan nada tenang. Dia menyingkirkan piringnya ke tumpukan piring kotor dan meminum jus jeruk dari termos airnya.

"Dua," aku Satya, berpaling padanya. "Kalian berapa?"

"Sudah lima, termasuk pondokanmu," jawab Pandu.

Ah, tadinya Satya mau menawarkan kerja sama, tapi kalau Regu Jaguar sudah menemukan lebih banyak, dia tidak punya keunggulan untuk bernegosiasi.

"Mana anggota tim kamu yang lain? Udah pada kemakan monster, ya?" tanya Aryo sambil terkekeh.

Satya menggeleng. “Monster gimana sih maksudnya? Kami nggak nemu monster apa-apa, tuh? Regu kalian juga kok tinggal berempat? Lagi berpencar apa gimana?”

"Itu cuma kakak pembina yang memakai kostum putih-putih. Tapi mereka beneran akan menangkap anggota yang jalan sendirian. Kami sudah kehilangan dua anggota tim karena monster itu," jelas Pandu.

Oalah! Untunglah regu mereka tidak ada yang jalan sendiri.

"Oh… jadi kalian berpencar toh? Pantas cepat sekali bisa ketemu lima tempat," gumam Satya. "Eh iya, kamu sudah lihat kondisi pondokan Macan, belum?"

"Hmm, kertas bertinta merah di kamar itu, ya? Sudah. Itu kode bahwa regu tersebut sudah didiskualifikasi."

"Hah?! Kenapa?" tanya Satya penasaran.

Pandu mengedikkan bahu. "Kata Kak Darma karena Tuan Putrinya kabur. Kakakmu juga hampir kabur tuh."

Huh, ternyata begitu… semua kakak pembina akan mencoba kabur untuk membuat mereka terdiskualifikasi!

"Jalan lagi, yuk," ajak Aryo sambil bangkit. Dia memperhatikan peta di tangannya. "Kurasa aku sudah tahu selanjutnya harus ke mana."

Sayangnya dia tidak melihat dan tersandung Wira yang sedang membetulkan tali sepatunya.

"Aduuh! Ngapain sih ngehalangin jalan orang?!" bentak Aryo kesal, setengah menyepak Wira. Wira meringis dan minta maaf, lalu mengambilkan peta yang terjatuh dari genggamannya.

Satya membantu Wira bangun. "Kamu enggak apa-apa?"

Wira hanya mengangguk.

Di kejauhan Kak Bakti meninggalkan Kak Darma, yang lalu menghampiri Aryo dan berjalan menjauh bersama Regu Jaguar.

"Sebentar, aku mau lihat dulu kode di pintu pondokan Regu Jaguar," kata Wira setelah mereka agak jauh.

Satya tertegun, lalu tersenyum. Wah, ternyata teman-temannya masih bersemangat mengerjakan tugas ini. Dia malah tidak kepikiran akan melihat kode itu.

Ternyata di pintu pondokan tertulis “Regu Jaguar (I)”.

“Itu angka satu atau huruf I sih?” tanya Ardi.

Wira mengedikkan bahu. “Kalau melihat pondokan kita dan Regu Macan harusnya itu huruf I ya, bukan angka. Tapi enggak tahu deh, soalnya kita belum lihat pondokan yang lain. Siapa tahu memang ada angkanya.”

Tidak ada yang berkomentar, karena tidak ada yang tahu maksud tambahan huruf itu apa. Sesaat sebelum mereka sampai ke pondokan, tiba-tiba terdengar teriakan keras.

Astaga! Itu suara Bimo!

***


Bab Tiga



"Haiyaaaa!"

Ardi datang dengan pose menyerang. Jagoan Taekwondo itu memang bisa diandalkan dalam situasi genting seperti ini. Tapi dia malah ditabrak Bimo yang lari ketakutan. Mereka berdua jatuh.

"Adududuh! Kamu ngapain sih Biiiiim?!" seru Ardi kesal.

"Ituuu, di-di balik pohon ada hantuuu!!"

"Hantu apaan?!"

"Pokoknya seram deh! Pake baju putih-putih gitu kayak pocong!"

Ardi lalu menggeplak kepala temannya, lalu bangkit dan marah-marah sendiri.

Satya tertawa, membantu Bimo bangun, lalu menjelaskan, "Itu bukan hantu, itu monsternya alias kakak pembina! Kamu pasti lagi sendirian deh. Kok enggak bareng Dwi dan Saka?"

Bimo mendengus. "Tadi si Dwi kebelet boker! Saka nganterin dia. Ngapain aku ikutan nungguin orang berak, kan bau!! Lagian aku kan cuma duduk nungguin mereka di halaman pondokan, enggak jalan-jalan sendiri."

"Yee, tetep aja kamu kelihatan sendirian kan. Para monster itu mengintai kita, tahu!" sungut Ardi kesal.

Mendengar itu Dwi yang baru keluar pondokan langsung ketawa. "Astaga Bimo mau dimakan monster. Kamu kegendutan kali Bim!"

“Apaa?!” seru Bimo lalu mengejar Dwi keliling halaman.

"Udah, udah! Ayo kita baru nemuin dua pondokan nih, nanti keburu sore," kata Satya.

Wira menggelar peta mereka dan menyalin titik pondokan di peta yang satu ke peta yang ada gambar pepohonannya, lalu memberi keterangan nama regu ada masing-masing titik.

"Aku sudah dapat arah mata anginnya. Kalau peta ini menggunakan skala yang sama, kita bisa menemukan semua pondokan ini dengan cepat. Tadi aku juga sempat mengintip petanya Regu Jaguar--"

"Woah, Wira! Gak kusangka kamu bisa nyontek juga. Kirain anak beasiswa jujur semua," komentar Bimo.

Tiba-tiba Wira berhenti menulis. Dia menatap Bimo, tampak mau bicara, tapi kemudian menunduk dan mengurungkannya. Wira menggigit bibir dan menyerahkan peta itu pada Satya.

"Maaf… aku sudah lancang," gumamnya.

Suasana hening. Semua melotot ke arah Bimo. Bimo jadi salah tingkah.

"Yah, sebenernya tadi enggak ada larangan kerja sama atau saling mengungguli yang lain, sih…" kata Bimo sambil garuk-garuk kepala.

"Aku enggak keberatan," sahut Dwi. Dia berkacak pinggang.

"Ehmm... sebenarnya ini kurang sportif ya. Kita kan bukan sedang melawan penjahat," kata Ardi ragu. "Lain cerita kalau kita jujur pada Pandu untuk mengajaknya kerja sama dan dia setuju."

Satya berpaling pada Saka, yang belum berpendapat.

"Bagaimana kalau kita tanya ke Kak Bakti?" usulnya.

Semua berpaling pada Kak Bakti, yang berdiri bersandar di bawah pohon dengan tangan terlipat di dada, memperhatikan mereka.

"Kalau kalian lagi ditemani sama Darma, kalian pasti akan didiskualifikasi. Soalnya dia strict memegang kode etik pramuka yang harus jujur dan sportif," jawab Kak Bakti sambil nyengir. "Tapi kalian beruntung aku yang sedang mengawasi. Kalau sama aku sih santai aja, soalnya aku spesialis pengumpul informasi untuk regu. Aku juga pakai cara begitu, cuma aku nggak pernah bilang sama Darma dan yang lain."

Teman-teman lalu menatap Satya, menunggu keputusan.

"Ya sudah, gini aja… kalau kita ketemu Regu Jaguar lagi, aku yang akan ngomong jujur dan minta maaf atas nama Regu Elang. Kalau mereka minta bantuan dari kita sebagai gantinya, aku tidak keberatan."

Yang lain pada mengangguk setuju. Ardi lalu usul mereka makan dulu sebelum melanjutkan. Dwi langsung melonjak girang. Mereka sibuk menyiapkan makanan.

Wira menghampiri Satya, matanya berkaca.

"Maaf ya, Satya," ujar Wira terbata. "Aku sama sekali enggak mikir ke situ… aku juga enggak suka orang yang curang."

Satya menepuk pundaknya. "Aku tahu Wir, enggak mungkin kamu dapat beasiswa kalau kamu tukang nyontek. Jangan berkecil hati. Kami masih butuh keahlianmu untuk misi kali ini, jadi tolong tunjukkan jalannya ya. Kita akan mengerjakannya sebaik mungkin dengan kemampuan kita sendiri."

Wira lalu tersenyum mengangguk mendengarnya.

Setelah makan mereka kembali menyusuri hutan. Selama berjalan Wira menjelaskan prinsip-prinsip mencari jejak dan navigasi pada anggota regu. Dwi yang buta arah cuma mengangguk-angguk saja, sedangkan yang lain cukup cermat memperhatikan. Mereka melewati pepohonan bambu sesuai dengan perhitungan Wira, membuat mereka semakin yakin atas notasi peta yang dia buat.

Di dekat Rawa Buaya, tiba-tiba Bimo terpeleset. Ardi yang berjalan di sebelahnya langsung menyambar lengannya. Namun karena licin, mereka berdua malah terjatuh!

Bimo berteriak panik, takut digigit buaya. Gerakannya membuat ransel mereka terlepas. Ardi lantas menyeretnya menuju tepian, lalu Kak Bakti menarik mereka dengan sentakan cepat dan keras. Bimo terjerembap di samping Ardi. Saka memeriksa keadaan mereka, yang untungnya tidak terkilir atau luka.

"Aah, gimana nih... persediaan makanan kita!" seru Bimo memandangi ransel yang sudah setengah tenggelam.

"Ya ampun... udahlah, daripada kita ambil terus digigit buaya? Kan konyol!" komentar Ardi.

"Memangnya di sini beneran ada buaya, Kak?" tanya Saka pada Kak Bakti. "Kalau melihat habitatnya sih mungkin aja, tapi ini hutan yang dibuka untuk umum, kan? Masa masih ada binatang buasnya?"

"Setahuku udah enggak ada, sih. Itu Rawa Buaya cuma nama doang," kata Kak Bakti sambil terkekeh.

"Huuh! Kenapa enggak bilang dari tadi?! Tahu begitu aku enggak usah panik, kan," sungut Bimo melotot kesal. Tapi dia sudah tidak mau masuk ke rawa. Akhirnya Ardi yang mengambilkan ransel mereka, walau isinya sudah terendam lumpur dan tidak terselamatkan.

Mereka berhasil menemukan pondok berikutnya di dekat air terjun bidadari. Pondoknya kelihatan kosong, jadi Ardi dan Bimo bermaksud mandi dulu. Soalnya sudah gatal, lumpur hitam yang menempel di seluruh tubuh mereka sudah mulai mengeras. Namun saat masuk, tiba-tiba seseorang langsung menyerang mereka dengan sapu.

"Hiyaaa! Rasakan ini, dasar wewe gombel!" seru seorang anak. Untung Ardi refleks menangkap gagang sapu itu.

"Hei, apa-apaan! Kita bukan wewe gombel!" seru Ardi.

Ternyata anak itu adalah Feri, wakil ketua Regu Tupai. Semua anggota regunya sudah dimakan monster, kecuali Feri dan Rino, yang ngumpet ketakutan di kamar mandi.

"Kami nyeraaah! Tolong Kaaaak! Kami mau udahan!" seru Rino sambil melambaikan sapu tangan putih. Rupanya mereka berpisah jalan menjadi dua tim, lalu navigator mereka sudah tertangkap. Baik Feri maupun Rino tidak pandai mencari arah. Daripada jalan-jalan dan tersesat di hutan akhirnya mereka hanya berdiam di pondok. Kak Bakti lalu menelepon kakak pembina Regu Tupai, memberitahu agar mereka ditemani keluar.

"Lho, Kak Bakti kok bawa HP? Terus kok bisa dapet sinyal?" tuduh Dwi.

"Lha iya dong, yang enggak boleh bawa HP kan cuma pesertanya. Kakak-kakak pembina gimana mau koordinasi buat ngurusin kalian kalo enggak bawa HP? Dan ini masih hutan kota kok, kita bukan di gunung terpencil," tukas Kak Bakti tertawa.

Dwi menatapnya sebal, tapi tak bisa berkata apa-apa. Feri lalu menghampiri Satya, memberitahu bahwa dia mau bantu karena Regu Elang sudah menyelamatkan mereka.

"Ini peta pondokan yang sudah kami temukan. Semoga berguna buat kalian," kata Feri sambil menyerahkan petanya.

Wira segera mencatatnya.

"Wah, berarti kita sudah dapat lokasi semua pondokan, nih... tapi istana rajanya ada di mana?" tanya Bimo. Semua menatap peta dengan penuh tanda tanya.

"Kode huruf itu," gumam Satya kemudian. "Wir, bisa tolong tuliskan kode huruf semua pondokan?"

Wira mengangguk, lalu menuliskannya di bagian atas peta.

E-C-I-R-S-V-O-S-R-R

"Ini anagram, huruf acak yang membentuk suatu kata," bisik Dwi dengan nada kagum. Semua lalu berpikir dan menebak-nebak.

"Cross River," kata Satya beberapa saat kemudian. "Istana Raja ada di seberang sungai."


***

Bab Empat



Karena sudah malam, mereka memutuskan untuk beristirahat di pondok Tupai. Namun berhubung persediaan makanan mereka sudah rusak terkena lumpur, mereka pun tidak bisa makan malam.

"Mamaaaa aku lapeeeer!" seru Dwi.

Bimo menimpuk anak itu dengan kaos agar dia diam.

"Kak Baktiiii pesenin Go-Food dong!" Dwi masih berguling-guling di lantai. Mereka semua menggelar sleeping bag di lantai, sementara Kak Bakti tidur di kasur sendirian.

Kak Bakti yang lagi memainkan HP tidak memedulikannya.

"Satyaaaa bilangin kakakmu Tuan Putri kita pelit! Masa dia tega gak mau ngasih kita makan?! Huaaaa!"

"Astagaa Dwi berisik banget sih! Udah bobo aja kenapa?? Enggak makan sekali kita tuh gak bakalan mati!" ketus Ardi.

"Kata siapa??"

"Tanya aja Saka!"

"Sakaaa!! Emang manusia bisa tahan lapar berapa lama, sih??"

Saka yang sudah tidur lelap lantas terbangun. Sepertinya dia masih setengah sadar, karena Dwi harus mengulangi pertanyaannya.

"Manusia bisa tahan enggak minum selama tiga hari. Kalau makan ada yang bisa sampai tiga minggu. Tapi itu semua tergantung kondisi badan masing-masing," gumam Saka, masih terdengar mengantuk.

Kak Bakti tiba-tiba memutar rekaman audio saat Dwi merengek minta dipesankan Go-Food.

"Ahahahah kamu jadi trending topic di grup WA Pembina, nih!" seru Kak Bakti sambil terbahak.

"Kak Baktiiii!!! Hapus nggak?! Mana sini HP-nya!" geram Dwi sambil meluncur ke kasur, mencoba merebut HP Kak Bakti. Mereka lalu bergelut, yang tentu saja dimenangkan oleh Kak Bakti.

Entah bagaimana akhirnya semua tertidur. Tengah malam Satya terbangun ingin pipis. Tiba-tiba di luar sayup terdengar suara seperti orang minta tolong.

Siapa??

Satya segera membangunkan Ardi.

"Di, ada orang di luar… kayaknya dikejar sesuatu! Aku dengar suara geraman gitu… gimana nih?"

"Mungkin ada yang dikejar monster kali?"

"Ya tapi kan enggak pakai suara seram juga kali! Kalau ada yang dikejar harimau gimana?"

"Ah, masa sih. Kak Bakti bilang kan di sini udah enggak ada binatang buas? Ya udah coba kita lihat dulu."

Ardi menemani Satya ke depan, lalu membuka pintu. Dari balik semak-semak muncul seseorang yang berteriak ketakutan, segera menyerbu mereka.

"Toloooong! Ada babi hutan!!" seru orang itu sambil membanting pintu sampai tertutup. Dia Ogi, navigator Regu Jaguar. Di luar terdengar suara “grok grok” si celeng, tapi tak lama kemudian pergi.

Semua terbangun mendengar keributan itu.

Ternyata Regu Jaguar sedang kemah di dekat sungai. Ogi yang mau pipis lalu keluar, tapi tidak sengaja melewati sarang babi hutan. Induk babi hutan yang mau melindungi anaknya jadi menyerang. Ogi langsung kabur tunggang langgang.

"Hah… terus anggota regu kamu sekarang di mana? Kalau kawanan babi itu menyerang kemah gimana?" tanya Satya khawatir.

Kak Bakti menggerutu, lalu segera menelepon Kak Darma.

"Oi, anakmu nyasar ke sini, nih!" serunya begitu telepon diangkat. Kak Bakti masuk dan menutup pintu kamar agar pembicaraannya tidak didengar.

Untungnya Kak Darma dan anggota Regu Jaguar yang lain tidak apa-apa karena masih di dalam tenda sehingga kawanan babi itu tidak merasa terancam. Keesokan paginya mereka mendatangi lokasi kemah Regu Jaguar. Ternyata mereka sudah beberes dan siap melanjutkan perjalanan. Namun rupanya mereka belum tahu di mana letak istana Raja.

Satya lalu menghampiri Pandu untuk bicara secara pribadi dan meminta maaf. Pandu memandangnya sambil tersenyum kecil.

"Sebenarnya aku nggak masalah, buatku cara begitu sah-sah saja. Tapi kalau kamu memang menawarkan bantuan dan kerja sama, dengan senang hati aku menerimanya."

Satya lalu memberitahu petunjuk yang mereka dapat.

"Tapi persisnya ada di mana?" tanya Aryo yang kemudian datang mengikuti pembicaraan. "Sungai ini ternyata cukup panjang."

Ogi dan Wira memperhatikan peta mereka, lalu bertukar pikiran sampai sepakat.

"Menurutku kita harus menemukan pohon beringin itu dulu," kata Wira akhirnya. "Pohon itu tertera dalam peta, padahal jauh dari lokasi pondokan, jadi kupikir itu sesuatu yang penting."

Tiba-tiba perut Dwi berbunyi kencang. Wajahnya suntuk ketika mereka semua berpaling padanya.

"Apa lihat-lihat? Aku beneran laper dari kemaren siang belum makan!"

Pandu tampak terkejut. "Kalian belum makan?"

Wajah Satya memerah. "Iya hehe… Kemarin ransel perbekalan kami jatuh ke lumpur."

Pandu geleng-geleng kepala, lalu meminta Aryo memberikan makanan mereka.

"Huh, jatah makan siang kita jadi berkurang nih," protes Aryo, tapi tetap memberikan roti daging untuk Regu Elang dan Kak Bakti, juga Ogi yang ketinggalan sarapan.

Mereka lalu menyusuri sungai ke hilir. Semakin ke hilir ternyata sungainya semakin luas. Begitu menemukan pohon beringin yang dimaksud mereka terdiam.

"Gila! Ini sih udah lautan, bukan sungai lagi!" komentar Dwi.

Wira menggeleng. "Ini masih sungai kok. Lebar sungai dari sini ke pohon mungkin sekitar 20 meter. Dari pohon itu ke seberang sekitar 30 meter. Dengan sungai selebar ini dan arus yang deras, cukup bahaya kalau diseberangi dengan berenang."

"Terus gimana?" tanya Bimo. "Emang kamu yakin di seberang itu istananya?"

"Iya, itu dari sini kelihatan benderanya kok," kata Wira. Benar juga, benderanya tampak kecil dan sebagian tertutup pepohonan.

"Siapa aja yang enggak bisa berenang?" tanya Satya kemudian. Ternyata Ogi tidak bisa berenang. Dwi juga mengaku lemas karena kurang makan.

"Kamu mau bikin flying fox?" gumam Pandu pada Satya. Dia memperhatikan tinggi pohon yang bisa dipakai untuk menjadi jangkar.

"Tadinya kupikir lebih simpel kalau bikin jerat pengaman dan kita menyeberang dengan berenang sambil diikat pada jerat tersebut. Tapi flying fox sepertinya bagus juga, bisa menghemat tenaga."

Satya lalu menoleh pada Wira, yang segera menghitung panjang tali yang dibutuhkan dengan teorema pitagoras sederhana. Setelah itu mereka mengecek panjang tali gabungan yang mereka bawa, ditambah tali dari Kak Bakti dan Kak Darma.

"Wah, ternyata cukup nih panjang talinya. Siapa yang bisa berenang ke seberang untuk memasang tali?" tanya Wira.

Ardi mengajukan diri untuk menyeberang dulu ke tengah. Setelah memasang tali pengaman dan menyeberang, Ardi lalu memasang simpul tali-temali yang dibutuhkan untuk membuat flying fox. Pandu yang mengetes duluan, lalu melanjutkan berenang sampai ke sisi seberang dan memasang tali lagi di sana.

Akhirnya semua anggota regu berikut Tuan Putrinya berhasil menyeberang. Sesampainya di istana mereka disambut dengan meriah oleh para kakak pembina. Dwi senang sekali saat mereka disuruh makan makanan yang dihidangkan.

Pak Basri lalu menjelaskan bahwa tantangan ini memang tidak bisa diselesaikan sendirian. Persediaan tali mereka tidak akan cukup untuk menyeberangi sungai yang cukup lebar, jadi mereka butuh kerja sama antar tim. Regu Elang memenangkan sesi latihan kali ini, sedangkan Regu Jaguar juga mendapat poin tambahan karena mau bekerja sama. Mereka pun pulang dengan gembira.


***

Minggu, 22 Maret 2020

Buku 3 - Bencana di Katamso


Bencana di Katamso

Oleh: Caritra Sari 



Ilustrasi oleh Rahman A. Nur
 
***


Bab Satu



"Hatchiiim!"

Satya dan Saka berhenti, menoleh ke belakang.

Wira mengambil sapu tangan dan mengusap hidung. Wajah merah, mata berair.

"Kamu lagi pilek, Wir?" tanya Satya prihatin.

"Iya nih, dari semalam agak pusing," gumam Wira.

Saka merogoh ke dalam tas dan menyodorkan sebuah masker kain pada Wira.

"Kalau lagi sakit pakai masker, Wir, supaya kumannya enggak ke mana-mana. Istirahat dulu, mumpung besok akhir pekan," kata Saka. Dia lalu melirik Satya dan memintakan izin, "Besok Wira ngga usah ikut latihan aja, ya, Sat?"

Satya mengangguk. "Ngga apa-apa kok Wir, yang penting kamu sembuh dulu."

Wira lalu memakai masker itu. "Makasih Satya, Saka. Maaf aku enggak sempet nyari masker, kemarin sibuk ngerawat Mamah dan Abah yang sakit."

Bimo, Ardi, dan Dwi yang tadi jalan di belakang ikut mendengarkan.

"Aku antar pulang, ya, Wir," kata Ardi yang rumahnya searah dengan Wira. "Yok, semua. Sampai ketemu besok, ya!"

"Daah!"

"Aduh, aku jadi takut si Wira kenapa-kenapa. Jangan sampe kena wabah virus corona kayak tahun lalu. Dulu ibuku stress banget, bentar-bentar ngasih info ini itu dari grup WA. Infonya makin lama makin serem, sampai darah tingginya kumat karena terlalu cemas," kata Bimo sambil memasukkan kedua tangan ke saku, menendang kerikil di depannya. "Mulai saat itu Ibu wanti-wanti banget supaya aku enggak deket-deket temen yang lagi sakit."

"Emang gitu info di internet, Bim. Siapa aja bisa nulis, jadi simpang siur. Kita mesti bisa menyaring informasi, jangan main percaya dan forward aja. Cek dulu kebenarannya," komentar Dwi yang paling jago komputer di antara mereka. Dia menaikkan kacamatanya. "Ada juga yang isinya benar tapi tulisannya didramatisir dan bikin takut. Ikuti kabar dari lembaga kesehatan resmi saja. Kalau ada wabah lagi minta ibumu puasa sosmed dulu, kasihan kalau gara-gara pikiran dan perasaan yang jelek mulu malah bikin beliau sakit. Itu beneran ada kasusnya lho, tanya aja Saka..."

Saka tersenyum tipis. "Iya, namanya psikosomatik. Beban mental yang mempengaruhi kesehatan fisik. Darah tinggi termasuk rentan kambuh kalau pikiran kita kacau."

Saka lalu mengajak yang lain ke arah mushola.

"Tapi anjuran ibumu benar, Bim. Jauhi orang yang batuk-pilek, kasih masker kalau dia enggak punya, dan kalau kita sakit jangan ke mana-mana. Tadi kita udah duduk dekat Wira, sekarang sebaiknya kita cuci tangan dulu," kata Saka. Dia lalu mengambil botol sabun cair kecil dari tas dan membuka keran tempat wudhu, menyontohkan cara cuci tangan yang benar.

"Kira-kira besok materinya apa ya?" tanya Satya penasaran. Mereka kembali berjalan menyusuri lapangan badminton. "Jarang-jarang lho kita latihan gabungan sama PMR kayak gini. Apalagi sampai mengundang kakakmu, Saka."

Ayah dan ibunya Saka seorang dokter. Kakaknya yang pertama juga dokter, namanya Dokter Nusa. Karena pembina PMR sekolah mereka kenal dekat, mereka mengundangnya. Pembina Pramuka juga tidak mau ketinggalan, mengikutkan anak-anak untuk nebeng latihan dengan alasan mereka juga perlu mengenal kecakapan medis.

"Hmm... apa ya? Mungkin pertolongan pertama pada kecelakaan? Ada di silabus pramuka soalnya," ujar Saka.

Tiba-tiba seorang anak perempuan berambut panjang dikuncir kuda mendahului mereka dari belakang. Cantik sekali. Anak itu jalan bersama temannya yang berambut pendek. Dia menoleh dan tersenyum manis pada Saka. "Sampai jumpa besok, Saka. Besok kamu ikut, kan?"

"E-eh, i-iya… sampai nanti, Putri," gagap Saka. Wajahnya sedikit memerah ketika anak perempuan itu melambaikan tangan.

Satya mengerutkan kening, tidak pernah melihat temannya seperti itu. Biasanya Saka selalu terlihat kalem dan cool. Satya mau menyikut Bimo, tapi ternyata dia tidak ada di sebelah. Ketika menoleh, rupanya Bimo sedang jalan melambat sambil memperhatikan perempuan kuncir kuda itu. Dia tidak melihat tiang jaring badminton di depan.

DUAK!!

"Aduh!" Bimo terhuyung ke belakang. Putri yang baru jalan beberapa langkah menoleh karena suaranya. Begitu sadar sedang dilihat, Bimo buru-buru bangun, tapi sayangnya dia malah tersandung dan jatuh.

Jeritannya lumayan membuat Satya kaget.

"Kenapa Bim??"

Mereka bergegas mengerubunginya.

"Aaah," lirih Bimo sambil memegangi tangannya. Darah mengalir dari telapak tangannya yang tertancap beling.

"Astaga!" seru Dwi kaget.

Saka sudah berlutut di depan Bimo yang terduduk. Dia menekan pergelangan tangannya dan perlahan mencabut pecahan kaca itu.

"Maaf ya, tahan sebentar," gumamnya.

Bimo memejamkan mata dan menggigit bibir, bahunya sedikit terlonjak saat beling itu lepas. Saka memperhatikan dengan seksama, tapi rupanya tidak ada pecahan lain yang menancap. Dia lalu membantu Bimo kembali ke tempat wudhu mushola untuk mencuci dan membersihkan lukanya.

Putri ternyata anggota PMR. Dia sudah siap di samping Saka, menyodorkan kasa steril untuk mengeringkan tangan.

"Ow, kenapa malah dipenceeet?" protes Bimo ketika Saka menekankan kasa itu ke lukanya.

"Soalnya ini masih berdarah. Kalau 5 menit belum berhenti berarti lukanya cukup dalam, mungkin kena pembuluh darah," jawab Saka dengan sabar.

"Hah… maksudmu… aku bakal matiii??!"

Dwi menggeplak bahu Bimo. "Semua orang juga bakal mati, broo!"

Saka cuma geleng-geleng kepala. "Kalau lukanya dalam perlu ke dokter, bisa jadi butuh dijahit."

Bimo tampak tambah ketakutan.

"Jangan khawatir, tuh pendarahannya udah berhenti," ujar Putri sambil tersenyum, membuat Bimo tersipu. Dengan sigap Putri mengoleskan salep antiseptik dan membalut tangan Bimo dengan perban.

"Pas sampai rumah perbannya udah bisa dilepas ya," pesan Putri.

"Kamu keren banget, Putri, kok bisa siap peralatannya gitu, sih?" puji Satya kagum terhadap kecekatan Putri dan Saka dalam mengobati Bimo. "Kayaknya Saka aja enggak bawa apa-apa, tuh?"

Putri mengedikkan bahu. "Kebiasaan karena tugas piket di PMR, aku selalu bawa kotak P3K kecil di tas."

Satya mangut-mangut. Putri lalu pamit duluan.

"Kamu besok mau izin sakit juga, Bim?" tanya Satya kemudian.

"Ya enggak, lah! Cuma kegores gini aja masa sampai melalaikan tugas negara," ujar Bimo semangat.

"Halah, bilang aja mau ketemu Putriiii! Haloo pengumuman-pengumumaaaan, Bimo suka Putri gaesss!!" sahut Dwi sambil kabur dan tertawa.

"Woi, sini kamuuu!" geram Bimo mengejar Dwi.

Satya cuma bisa nyengir melihat mereka.

***

Bab Dua


Anak Pramuka dan PMR SDN 03 Bintaro sudah berkumpul di lapangan sekolah sejak pagi. Kak Santi, Perawat Sekolah yang juga merupakan Pembina PMR, membuka acara dan memperkenalkan Dokter Nusa pada anak-anak. Ada Kak Darma dan Kak Bakti juga jadi Pembina Pramuka yang membantu mengawasi kegiatan. Hari itu mereka akan mempraktekkan materi pertolongan pertama pada kecelakaan yang teorinya sudah dibahas pada pertemuan sebelumnya.

Anak PMR dibagi dan ditugaskan ke tiap regu Pramuka. Saat tahu regu mereka sekelompok dengan Putri, Dwi langsung cengar-cengir.

"Ehm, ehemm…. Eh gaes pantatku kok mendadak gatal ya?! Aku pindah deket Satya aja deh," gumam Dwi asal sambil pindah tempat duduk, sehingga Bimo duduk tepat di sebelah Putri. Wajah Bimo merah padam, Satya jadi geli melihatnya. Mereka semua lalu berkenalan. Putri ditemani dua anak PMR lain yaitu Eva dan Anisa. Mereka ngobrol sebentar, membahas teori apa saja yang pernah diberikan kakak pembina.

"Wah, ternyata materi pramuka ada kesamaan dengan materi PMR juga, ya…" komentar Ardi. "Kalo di regu kami yang jago masalah medis kayaknya cuma Saka."

Satya melirik Saka, yang dari tadi diam saja. Dia sedang membaca buku catatannya.

"Ah, iyaa… waktu itu Saka sempat masuk eskul PMR, lho…," sahut Putri. "Kamu pinter banget Saka. Aku kagum dengan keluargamu yang berdedikasi jadi dokter dan mengobati orang banyak. Aku jadi semangat ikut PMR. Sayang waktu itu akhirnya kamu keluar dan milih Pramuka…"

Mendengar itu wajah Saka bersemu, tapi dia tidak berkomentar apa-apa.

"Lho? Aku pikir dari awal kamu memang milih eskul Pramuka, Saka?" tanya Ardi.

"Iya, waktu itu aku ikut dua eskul, tapi jadi keteteran. Mami nyuruh aku milih salah satu," jelas Saka.

Satya ingin menanyakan alasannya memilih Pramuka, tapi ternyata Dokter Nusa keburu tampil di depan.

"Selamat pagi, anak-anak! Siapa yang pernah kepeleset terus jatuh gedebuk?" tanya Dokter Nusa membuka percakapan.

Dwi langsung berdiri dan melambaikan tangan. "Ini, Dok! Temen saya Bimo kemaren jatoh gedebuk dan kena beling!" serunya sambil menunjuk Bimo.

"Dwiiii! Apaan sih!!" Bimo kelihatan malu campur kesal.

"Bukan cuma itu Dok, dia juga kejedot tiang gara-gara ngelihatin cewek! Kemaren sore aku lihat sendiri!" seru Aryo dari Regu Jaguar. Anak-anak langsung ribut tertawa.

Dokter Nusa tersenyum lebar. "Waduh, kalian ini kecil-kecil kok ngomongin cewek. Ayo sini kamu ke depan, tadi siapa namanya?"

Bimo bangkit ke depan, lalu Dokter Nusa memeriksa lukanya.

"Wah, ini penanganannya bagus. Lukanya enggak begitu dalam, sih. Kamu langsung ke dokter? Kemarin siapa yang obati?"

"Putri, Dok," jawab Bimo malu-malu.

"Uhuyyyy! Pangerannya malah diselamatkan Tuan Putri!" Aryo bersuit kencang. Anak-anak kembali tertawa. Satya melirik Putri yang menyembunyikan wajahnya di tangan.

"Oke, kalau gitu kita coba praktek seperti ini ya. Untuk PMR Mula dan Pramuka Penggalang fokusnya ke mengetahui dan melakukan pertolongan pertama pada diri sendiri dulu. Yang simpel dulu aja, kejadian sehari-hari seperti lecet dan terkilir. Nanti saya jelaskan juga cara membersihkan luka. Kalian bagi kelompok masing-masing. Ada yang berperan sebagai pasien dan ada yang jadi dokter."

Selesai presentasi dari Dokter Nusa, serempak mereka beraksi. Bimo berpasangan dengan Putri. Dwi dengan Eva, Ardi dengan Anisa, dan Satya dengan Saka. Saka dan anak PMR yang pertama bertindak sebagai dokternya, supaya bisa menunjukkan contoh pada Satya dan yang lain. Lalu perannya dibalik. Berhubung mereka baru pertama kali mencoba, hasilnya jadi acak-acakan. Perban Putri yang dipasang Bimo lepas. Balutan yang Satya buat di tangan Saka terlalu kencang. Jempol Eva menyembul dari perban yang dibuat Dwi. Dan Anisa jadi kayak mumi waktu Ardi memasang perban di kepalanya! Anisa yang jadi mumi lalu mengejar Ardi.

"Haduuuh," Satya memegangi perutnya yang kram karena tertawa. "Ternyata susah juga ya!"

"Sepertinya untuk pertemuan ini segitu dulu. Ada yang mau bertanya?" kata Dokter Nusa sambil tersenyum.

"Dok, gimana kalau ajarin cara ngasih pernapasan buatan? Misal kayak menolong orang tenggelam seperti di film gitu?" tanya Rama dari Regu Macan dengan semangat, sambil memonyongkan mulut seperti mau mencium orang. Anak-anak cewek dari PMR langsung protes.

"Huuu… siapa juga yang mau peragain?? Dasar modus kamu!" seru Eva sambil meleletkan lidah.

Dokter Nusa ketawa geli.

"Sebenarnya itu bukan materi untuk anak SD ya, karena prakteknya enggak semudah seperti yang kelihatan di TV. Ini ada pelatihannya sendiri. Kalau ada orang tenggelam dan tidak bernapas lagi, segera telepon ambulans saja," jelas Dokter Nusa.

"Untuk mengejutkan jantung orang itu butuh tenaga besar. Kalau kamu lihat prakteknya mungkin bakal takut. Setiap kita berusaha memompa dada boneka manekin saat latihan akan terdengar derak bagai tulang patah. Memang tak jarang tulang rusuk orang sampai memar atau bahkan patah karena tindakan ini. Jadi harus dilakukan oleh orang dewasa yang merupakan tenaga terlatih."

Anak-anak pada mengangguk-angguk.

“Enggak semua yang dilihat di TV itu bener. Secara prakteknya hampir semua yang dimunculin di TV Indonesia untuk hal yang berikaitan dengan kedokteran ini salah. Jadi jangan suka diikutin,” pungkas Dokter Nusa.

Karena tidak ada pertanyaan lagi, Dokter Nusa pun pamit mau bertugas di rumah sakit.

"Oke, PR kalian besok adalah membuat video bersama kelompok untuk memeragakan apa yang sudah dipraktekkan hari ini. Bikin sebagus mungkin, kalau perlu dandan dan pakai obat merah supaya kelihatan berdarah beneran gitu," kata Kak Santi kemudian, menutup pertemuan kali itu.

Setelah berdiskusi sebentar, mereka pun sepakat mengerjakan tugas kelompok itu di rumah Putri.

"Tenang aja, besok aku bawa alat make up dan spesial efek lengkap," sahut Dwi yang hobi sinematografi itu dengan semangat. "Mau didandanin kayak zombie juga bisa!"

Gantian Bimo menggeplak lengan temannya itu.

"Awas ya kalo aku yang disuruh jadi zombie! Nanti kumakan kau! GRAOO!!"

Semua lalu beberes dan beranjak pulang.

Tiba-tiba Kak Santi memanggil Saka.

"Saka, tas Dokter Nusa ketinggalan nih, kayaknya tadi dia buru-buru," kata Kak Santi. "Saya kembalikan ke kamu, ya?"

"Oh, iya Kak, makasih," kata Saka sambil mengambil tas hitam itu. Dokter Nusa sepertinya lupa kalau dia bawa dua tas. Saka lalu memeriksa isinya. Ternyata perlengkapan P3K yang tadi sempat dipakai untuk peragaan.

"Kamu mau nyusul Dokter Nusa ke rumah sakit sekarang?" tanya Satya.

"Enggak, kayaknya ini bukan tas kerja utamanya sih, mungkin sengaja disiapkan buat presentasi di sini aja," kata Saka menutup kembali tas itu. Dia lalu mengambil HP dan mengirim pesan pada kakaknya. "Besok saja aku antar ke rumahnya, setelah dari rumah Putri di Palmerah."

"Lho? Kirain entar malem ketemu di rumah?"

Saka menggeleng.

"Kak Nusa udah punya rumah sendiri di Slipi. Gapapa, Slipi kan udah deket dengan Palmerah."

"Ohh gitu… besok aku temani deh," kata Satya sambil tersenyum. "Pengen tahu juga rumahnya Dokter Nusa hehehe..."

Putri lalu pamit pulang pada anggota Regu Elang. "Dah, Saka!"

Saka mengangguk canggung, mukanya kembali pias.

"Kok cuma Saka yang didadahin sih?" sungut Bimo saat mereka juga beranjak pulang.

"Cieee ada yang cemburu nih yee," goda Dwi sambil mengacak rambut Bimo. "Sakaaa, nggak nyangka kamu ya... cinta lama bersemi kembali hahaha!"

Bimo menepis tangan Dwi, sama-sama memerah mukanya seperti Saka.

Satya dan Ardi saling berpandangan.

***

Bab Tiga


"Hey guuuuys! Yo, what's up broo... welcome back to my channel--"

"CUUUT!! CUT CUT CUT!" Dwi melotot pada Bimo. "Kok jadi channel kamu sih Bim?! Harusnya kan channel Regu Elang! AYO ULAANG!"

"Busyet dah sutradaranya galak amat!" gerutu Bimo, lalu pura-pura merapikan rambut sambil melayangkan senyum sok cool pada Putri. Anak perempuan itu hanya cekikikan melihatnya.

"Ready?? 1… 2… 3… ACTION!"

"Hai teman-temaaaan!! Jumpa lagi dengan aku Bimo dari Regu Elang Pramuka Penggalang SDN 03 Bintaro, pembawa acara yang paling ganteng di sekolah ini!" Bimo membuka video mereka dengan lihai, lalu mengedipkan mata ke kamera.

"Kali ini kita kedatangan tamu-tamu cantik niiih dari Palang Merah Remaja sekolah kita. Mereka adalah para perawat handal yang berjaga di barisan belakang dan sigap menarik para peserta upacara yang mau pingsan."

Kamera berputar pada Ardi dan Satya yang lagi berbaris. Ardi sempoyongan dan berlagak mau pingsan, lalu ditarik oleh Anisa yang berdiri di belakang. Kemudian Bimo kembali loncat ke depan kamera.

"Pingsan?? Ya iya lah, Senin pagi buru-buru berangkat mau upacara sampai lupa sarapan? Ohoho… biasa itu mah, aku juga sering begitu haha... Sempat sekali pandangan gelap dan hampir jatuh, untung keburu ditarik ke UKS dan dikasih teh manis panas hehehe… mereka ini baik sekali. Rela gantian piket jaga UKS dan penuh dedikasi pada kerjaan menolong orang lho gaes! Yuk ah enggak usah kelamaan basa-basi, kita kenalan dulu!"

Putri, Eva, dan Anisa lalu muncul di layar dan memperkenalkan diri. Mereka menjelaskan akan memeragakan beberapa cara pertolongan pertama pada kecelakaan.

"Yak, CUT!" seru Dwi. Dia tersenyum lebar, wajahnya terlihat puas. "Bagus banget gaes! Siap-siap untuk adegan selanjutnya ya!"

Eva lalu membantu mendandani Satya dan Ardi sebagai orang sakit. Ternyata Eva pintar memakaikan make-up lho! Maklumlah orang tuanya punya usaha Wedding Organizer dan kakaknya tukang rias andalan yang sering disewa orang.

Tak berapa lama wajah Satya kelihatan lebam seperti habis berantem, lengkap dengan benjol di kepala. Aslinya itu karet lateks yang ditempel dan dibedaki dengan warna kulit dan dibuat seperti bonyok. Satya sampai terkesima melihat hasilnya. Kalau bundanya lihat dia kayak gini pasti langsung menjerit histeris.

Ardi terlihat pucat dan mimisan, sedangkan Bimo mendapat luka lecet, baret di lengan, dan telapak tangan yang tertusuk benda tajam.

Dwi kemudian merekam saat mereka terhuyung memasuki ruangan UKS, ceritanya habis ikut tawuran.

Putri, Eva, dan Anisa yang sedang piket langsung tanggap dan menyuruh mereka berbaring di tempat tidur. Putri memarahi mereka sebentar karena sudah ikut tawuran. Sembari memeragakan mengobati Bimo, Putri lalu menjelaskan prinsip-prinsip perawatan luka sayat dan pendarahan pada pemirsa. Eva menjelaskan mengenai trauma benda tumpul saat mengobati Satya, dan Anisa menjelaskan mengenai penanganan syok dan mimisan. Saka berperan sebagai asisten yang menyediakan alat-alat kesehatan pada para "dokter" dan menjelaskan fungsi dan cara memakainya.

Hari sudah siang ketika mereka berhasil menyelesaikan tugas.

"Mantap gaes, malam ini aku edit dulu videonya. Nanti kalau udah jadi aku upload ke Youtube channel regu kita ya," kata Dwi.

Setelah membereskan perlengkapan syuting, Putri menjamu mereka dengan siomay bikinan sendiri. Bimo lalu mengajaknya mengobrol, kelihatannya asyik sekali. Saat Satya melirik Saka, dia sedang mencuri pandang pada Putri dan Bimo dengan muram, lalu mengecek jam tangannya dengan gelisah. Sebelum Satya bisa bertanya ada apa, Saka sudah keburu beranjak bangun.

"Eh, aku pamit duluan ya teman-teman, soalnya masih mau mampir ke tempat kakakku."

Mendengar itu Satya jadi ingat dia berjanji menemani Saka. Dia pun ikut pamit. Ternyata Bimo, Ardi, dan Dwi juga beranjak bangun.

"Yaah, kok pada buru-buru amat, sih?" tanya Putri.

"Iya, maaf ya Put… sore ini aku ada les piano, nanti aku bisa terlambat," jelas Saka dengan senyum kaku.

"Ya udah deh, hati-hati di jalan ya, salam buat Dokter Nusa."

Saka mengangguk, lalu keluar untuk menelepon kakaknya sementara Ardi dan Dwi mengambil tas perlengkapan mereka.

"Ah, nggak asik banget sih kamu Saka, padahal si Putri lagi cerita-cerita. Nggak bisa lihat orang seneng, ya?" tuduh Bimo saat melewati Saka. Dia menabrak bahu Saka dengan pelan, lalu berjalan duluan di depan. Ardi dan Dwi masih di belakang, jadi hanya Satya yang melihat kejadian itu. Saka tidak membalas ucapan Bimo. Dia hanya menunduk dengan raut wajah keruh.

Satya lalu memanggilnya. "Saka--"

"Oh iya Satya, kakakku bilang dia lagi enggak di rumah, lagi piket di Rumah Sakit Tarakan. Jadi agak jauh, harus ke Stasiun Tanah Abang dulu kalau naik kereta. Kamu sama yang lain pulang duluan aja, aku bisa ke sana sendiri," kata Saka sambil tersenyum.

"Ah, enggak apa-apa kok, sekalian jalan-jalan," tukas Satya. Ardi dan Dwi yang menyusul mereka lalu mengiyakan.

KRL ke Tanah Abang hari Minggu siang itu cukup lengang. Ardi membantu nenek-nenek yang mau naik. Satya memberi tempat duduk pada ibu hamil, dan Saka memberi masker pada bapak-bapak yang batuk.

Sesampainya di Tanah Abang mereka memutuskan untuk jalan kaki ke RS Tarakan. Menurut Dwi yang mengecek Google Maps jaraknya hanya 20 menit dari stasiun. Baru setengah jalan rupanya Bimo sudah kehausan. Tadi dia lupa mengisi ulang botol minumnya di rumah Putri.

Akhirnya mereka singgah dulu di Alfamart cabang Jalan Bridgen Katamso. Karena cuaca terik, perempatan jalan itu terlihat sepi dari para pejalan kaki. Gedung pasar swalayan itu terlihat kusam dan catnya retak. Sepertinya ruko ini gedung lama yang sudah tua. Ada dua toko dengan plang memudar di samping Alfamart, tapi keduanya tutup.

"Pada mau nitip apa?" tanya Bimo. Dwi memberikan uang dua puluh ribu, nitip Pocari Sweat dua botol. Satu untuknya dan satu lagi untuk Ardi yang juga haus tapi bokek. Saka menggeleng ketika ditanya, sedangkan Satya menemani Bimo masuk ke dalam.

Wih, sejuknya masuk ke ruangan ber-AC. Tidak ada orang lain yang sedang belanja. Satya segera mengambil susu kotak dingin dan membayar, sedangkan Bimo masih memilih-milih minuman di dalam.

KRATAKK!

Tiba-tiba terdengar bunyi retakan yang keras.

Dua karyawan pria di ujung ruangan lari dengan mata terbelalak, berteriak-teriak. "Cepat keluar! Gedungnya--"

KRAAK!!

Suara gemuruh yang memekakkan telinga menelan teriakan semua orang. Satya yang berdiri di depan pintu terdorong keras keluar oleh kedua orang itu, sekilas melihat Bimo sedang menolong kasir yang terjatuh. Sesuatu menohoknya dari belakang. Satya terjerembab dan tertindih seseorang.

Gedung itu pun roboh.

***

Bab Empat


"SATYA!!"

Ughh… seseorang memanggil namanya. Kepalanya pusing sekali. Dia tidak bisa bergerak, susah bernapas… tertimpa oleh sesuatu. Kaki dan tangannya perih. Dunia bagai berputar, lalu tiba-tiba beban yang menghimpitnya terangkat.

"Ardi! Pegang tangannya," perintah seseorang di dekat Satya.

Saka? Satya membuka mata, samar melihat Saka mengambil ponsel dari kantung celana dan melemparnya pada seseorang.

"DWI!! Emergency Dial 1!" teriak Saka. "Pak Gojek, tolong panggil polisi atau pemadam kebakaran! Satya, ada yang terasa ngilu atau sakit?"

Satya menggeleng lemah.

"Ardi, angkat pada hitungan ketiga. Satu… dua… tiga!"

Ardi dan Saka membantu Satya pindah berbaring di tempat yang aman.

"Tarik napas dalam. Kamu bisa lihat jelas?" Setelah memastikan Satya dalam keadaan sadar sepenuhnya, Saka segera memeriksa tubuh Satya.

"Satya baik-baik aja kan, Saka?" tanya Ardi khawatir. Orang-orang mulai berkerumun. Beberapa abang ojek online yang tadi mangkal di depan membantu karyawan yang tadi berhasil keluar. Rekannya tampak terduduk di sampingnya sambil meringis. Darah membercak di sekitar celana panjangnya yang sobek.

"Saka, kakakmu mau bicara!" panggil Dwi tegang sambil menyalakan loud speaker ponselnya Saka.

"Apa yang terjadi?" tanya Dokter Nusa, terdengar tenang.

"Aku, Dwi, dan Ardi lagi nunggu Satya dan Bimo beli minuman di Alfamart Jalan Katamso. Gedungnya satu lantai dan sudah tua. Enggak ada gempa atau apa pun tiba-tiba saja terdengar bunyi retak dan atap sisi sebelah kiri gedung runtuh. Sisi atap sebelah kanan sudah miring tapi masih utuh. Pintu kacanya sudah pecah," lapor Saka cepat dengan nada yang sama.

"Ada korban? Gimana kondisinya?"

"Satya temanku sempat terdorong keluar oleh dua karyawan yang berhasil keluar. Satya sadar, lengannya lecet, lutut memar." Saka lalu memperhatikan karyawan yang tadi menabrak Satya keluar gedung. "Dua karyawan pria usia dua puluhan. Satu orang betisnya sepertinya kena pecahan pintu kaca, kelihatan syok. Satu lagi kepala benjol dan pelipisnya berdarah. Temanku Bimo dan mbak kasir masih terjebak di dalam. Bagian kanan gedung dekat kasir masih muat orang berdiri. Beberapa abang ojek sedang mencoba masuk."

"Oke, ambulans sudah berangkat, sampai sana dalam 5 menit. Perhatikan kondisi gedung, jangan paksa evakuasi kalau tidak memungkinkan. Pantau kondisi korban dan tunggu bantuan datang saja."

"Ya, Kak," sahut Saka lalu memutus panggilannya. Dia menarik dan membuka tasnya Dokter Nusa, lalu dengan cepat mengelap luka lecet Satya dengan kain antiseptik dan menyuruh Ardi mengompres memar di lutut Satya.

"Aku cek pegawai toko yang terluka dulu," pesannya sebelum bangkit. Satya menarik tangannya.

"Saka, Bimo gimana? Tadi dia dekat kasir."

Saka tersenyum tipis. "Tadi aku dengar suaranya minta tolong. Tenang saja, nanti akan ditangani dengan baik."

Saka lalu bergegas mendatangi orang yang syok tadi, menyuruhnya berbaring miring dan bersandar ke belakang dengan nyaman, posisi kepala lebih rendah dari kaki. Dia lalu segera memeriksa dan membersihkan luka sayat di kakinya.

Dwi rupanya mengikuti Saka, masih sempat-sempatnya merekam aksi temannya itu. Dia juga merekam upaya penyelamatan yang dilakukan para abang ojek terhadap Bimo. Mereka sudah bisa masuk ke dalam. Walau beton penyangga sisi kanan tidak runtuh seluruhnya, ruang geraknya cukup sempit.

Mbak penjaga kasir rupanya berhasil selamat tidak tertimpa beton karena ditarik dan dilindungi oleh Bimo, hanya terkilir kakinya saja. Bimo sendiri menjerit ketika hendak diangkat abang ojek.

Saka langsung bangkit dan berlari, mengecek kondisinya.

"Sebentar, pelan-pelan Pak, jangan diangkat sembarangan, mungkin kakinya patah," cegah Saka.

"Tapi kita harus cepat keluar, Dek. Kalau gedungnya ambruk lagi gimana?" protes abang ojek.

Untungnya ambulans dan mobil pemadam kebakaran sudah keburu datang. Merekalah yang akhirnya mengeluarkan Bimo. Para korban yang sudah keluar gedung segera diangkut ke rumah sakit. Keluarga masing-masing juga dihubungi.

Kak Darma langsung memeluk Satya begitu dia sampai di UGD. Rupanya kondisi gedung yang runtuh itu memang sudah tua dan mengkhawatirkan, namun tidak kunjung direnovasi. Toko di sebelah Alfamart saja sudah tutup dan ditinggalkan pemiliknya. Pemilik gedung saat ini sedang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Sedangkan pemilik gerai Alfamart itu berjanji membiayai pengobatan para korban. Karena lukanya sudah ditangani dan tidak ada keluhan lain, Satya diperbolehkan pulang.

"Bimo gimana?" tanya Kak Darma prihatin sambil memandangi sosok yang tampak tertidur di tempat tidur samping Satya.

"Kasihan, dia sedang istirahat. Kakinya patah. Orang tuanya lagi ke luar kota, tantenya juga sibuk menjaga adiknya, jadi dia sendiri. Katanya malam ini mau dirawat inap," jawab Satya.

"Oke, nanti aku dan Bakti gantian temani Bimo di sini. Kakak mau ngomong dulu sama Dokter Nusa ya," ujar Kak Darma. Satya mengangguk.

Tak lama kemudian Saka menghampiri Satya. Dia terlihat lelah dan khawatir, tapi tersenyum ketika melihat Satya.

"Terima kasih ya, Saka, untung kamu ada di sana," kata Satya sambil membalas senyum.

"Sama-sama. Aku senang bisa membantu walau cuma sedikit… Kamu akan baik-baik saja," katanya menenangkan. "Istirahat dan minum obat, segera ke dokter kalau ada keluhan tambahan."

Satya mengangguk, lalu menanyakan kabar yang lain. Ardi dan Dwi rupanya sudah pulang. Saka sendiri nanti dijemput Kak Melia. Dia menawarkan tumpangan pada Satya dan Kak Darma, yang dengan senang hati disambut Satya.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Putri masuk dengan muka pucat.

"Kakaak, syukurlah Kakak selamat huhuhu...," ujar Putri sambil menangis. "Maaf baru sampai, kami sudah berangkat secepat mungkin."

Olala… rupanya mbak penjaga kasir itu kakaknya Putri! Orangtuanya juga datang, suasana ruang UGD pun jadi ramai. Dokter Nusa bercerita kronologi kejadiannya dan menenangkan mereka.

Putri lalu memandang Saka dengan terkejut.

"Saka! Kamu yang nolongin kakakku?" tanya Putri dengan rasa kagum tergambar jelas di wajah.

Saka menggeleng pelan. "Bimo yang lindungin kakak kamu waktu gedungnya runtuh. Setelah itu kakakmu dibantu keluar gedung oleh abang ojek."

"Ohh… Bimo mana?" tanya Putri kemudian, khawatir.

"Itu, lagi tidur--" tunjuk Satya.

"Uhh--lho, ada Putri?"

"Bimoooo!!!" Putri segera berpaling dan mendatangi tempat tidur Bimo. Dia kembali menangis, menggenggam tangan Bimo erat-erat. "Makasih banget yaaa… Kamu udah nolongin kakakku huhuhu… sampai kamu sendiri patah kaki begitu! Pasti sakit banget, ya?"

"Eh, kakakmu? Engg-sekarang udah enggak sakit kok Put, kan tadi udah dikasih obat hehehe…" jawab Bimo salah tingkah. Bimo terperangah waktu Putri bilang kasir itu adalah kakaknya. Mereka lalu mengobrol bersama.

Saka lantas memalingkan pandangan.

"Eh, Saka, waktu itu aku sebenernya mau tanya, kenapa kamu milih masuk Pramuka?" tanya Satya iseng.

"Oh, itu… tapi jangan bilang siapa-siapa ya," gumam Saka. Dia melirik ke belakang sebentar, lalu merendahkan suaranya. "Aku keluar PMR soalnya di sana ada Putri. Entah akunya yang kegeeran atau gimana... dia itu… kayak ngejar-ngejar aku terus…. Aku risih… enggak bisa fokus belajar kalau berada di dekat dia."

Satya hanya manggut-manggut saja.

"Selain itu, di Pramuka ada Bimo," Saka mengaku, membuat Satya kaget.

"Emang Bimo kenapa?"

Saka tersenyum. "Waktu Bimo jadi ketua regu Pramuka Siaga dua tahun yang lalu, dia pernah melawan anak-anak yang sering mem-bully aku. Setelah itu sampai sekarang aku nggak pernah lagi diganggu. Aku amat berterima kasih," jelasnya. "Selain itu, aku juga senang berada di regu ini dan merasa cocok dengan kalian. Jadi aku lebih memilih ikut Pramuka dan melepas PMR."

Wah, tak disangka kesetiaan Saka terhadap regu mereka diawali oleh perbuatan baik Bimo. Satya pun tersenyum senang.

Seminggu kemudian, ketika Dwi memutar hasil editing rekaman videonya di depan peserta gabungan Pramuka dan PMR sekolah, semua terbengong-bengong. Bak sinetron campur aksi laga, cerita tentang bahaya tawuran sekolah dan akibatnya pada siswa pun mengulir, lengkap dengan musik dan spesial efek audio-visual. Serasa nonton film perang kemerdekaan beneran, benar-benar dramatis!

Apalagi ada aksinya Saka menolong "korban tawuran" dari gedung Alfamart yang dirusak para pelajar yang beringas. Semua yang nonton ikut deg-degan saat melihat proses penanganan dan evakuasi korban. Video kelompok mereka paling bagus, semua bertepuk tangan dengan kencang saat video selesai diputar. Mereka pun dapat nilai tertinggi untuk tugas itu. Horeee!

***

Catatan Penulis:

Alhamdulillah akhirnya selesai jugaa cerita kali ini hehehe... Seperti cerita banjir kemarin yang memakai data-data real, cerita ini juga terinspirasi dari kejadian nyata, yaitu robohnya Gedung Alfamart di Jalan Katamso, Slipi, bulan Januari yang lalu. Aslinya gedung itu 3 lantai, dan memang tiba-tiba roboh tanpa gempa, hanya karena gedungnya sudah tua. Tapi di cerita ini gedungnya dibuat 1 lantai saja supaya enggak separah yang asli kerusakannya. OK keep safe & stay healthy guys!  

Rabu, 12 Februari 2020

Buku 2 - Penyelamatan Perahu Karet

Penyelamatan Perahu Karet

Oleh: Caritra Sari


Ilustrasi oleh Rahman A. Nur

***

Bab Satu



"Sat, aku bareng kamu, ya," panggil Ardi ketika Satya mengambil sepedanya di parkiran.

"Lho, kamu ngga bareng Saka naik mobil?"

"Enggak, mobilnya Saka enggak muat. Aku cuma nitip ransel sama anak-anak."

Mereka lalu menggowes sepeda meninggalkan sekolah. Hari sudah sore, para siswa yang ikut ekskul hari itu sudah bubar.

"Si Wira gimana, jadinya dibolehin nginep sama mamahnya? Katanya disuruh jaga adek?" tanya Satya sambil memperhatikan jalan.

"Boleh, tuh ... mungkin karena dibilang mau ikut baksos, kali. Tadinya adeknya mau ikut, tapi terus dilarang mamahnya karena bakal ngerepotin dia."

Tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara klakson mobil, cukup kencang. Ardi tidak kaget, tapi Satya yang di sisi tengah jalan sempat limbung. Untungnya dia cepat menguasai sepedanya.

Sebuah sedan biru melambat di kanan Satya. Jendela belakangnya terbuka, kepala Bimo nongol dari sana.

"Santai amat sih Bang, serasa jalanan milik berdua aja. Di belakang udah mulai macet nih gara-gara kalian. Kalo mau curhat mbok yao jangan di tengah jalaaan!" seru Bimo. Dwi sontak tertawa. Wira yang duduk di ujung juga senyum-senyum.

Satya melirik ke belakang mobil, yang masih kosong melompong. Ingin protes, tapi dia tahu kalau dia salah. Naik sepeda bersebelahan seperti ini sebenarnya bahaya, karena makan badan jalan dan menyusahkan pengendara lalu lintas di belakang. Selain itu, mereka jadi rawan terserempet kendaraan.

"Woi, Ardi! Ranselmu isinya apaan, kok berat banget?!" seru Dwi kemudian. Ardi tidak menjawab, cuma meleletkan lidahnya.

Jendela depan lalu terbuka. Saka dan kakaknya yang sedang menyetir melongok dari sana. "Satya, Ardi, ikut bareng nggak?" tanya Kak Melia, kakaknya Saka yang kuliah di Fakultas Kedokteran UI.

"Eh, enggak usah Kak, makasih … lagian enggak muat, kan ... masa kita mau duduk di atap mobil hehehe …," canda Satya.

Dia langsung disoraki Bimo dan Dwi.

"Huu … kalau kalian mah duduknya di bagasi aja! Hahaha …."

"Ya udah kita duluan ya, Sat," pamit Saka.

"Eh udah tahu jalannya, kan? Nanti enggak usah nungguin aku, langsung masuk aja. Ada Kak Darma di rumah."

"Iya, gampanglah itu. Yuk, duluan yeee!" lambai Bimo. Mobil itu berlalu dengan cepat. Di belakangnya ternyata sudah ada beberapa sepeda motor.

"Di, aku duluan di depan, ya. Kamu tinggal ikutin aja," kata Satya kemudian. Ardi menyetujuinya, mereka pun konvoi ke rumah Satya.

Sesampainya di rumah, Kak Darma sedang menemani Kak Melia ngobrol. Teman-teman Satya lagi asyik berlomba menghabiskan kacang mede di toples.

"Sat, kakakmu kayak ninja juga, ya," bisik Bimo. "Tadi pas aku ketok pintu dia masih pake kolor. Eh begitu lihat yang nganter Kak Melia dalam sekejap dia kabur dan pas muncul udah rapi jali wangi gitu."

Satya cuma ketawa. Setelah Kak Melia pulang mereka gantian mandi, makan malam bersama, dan santai-santai di kamar Satya. Dwi dan Ardi lagi tanding game racing di HP (Ardi pinjam HP Saka karena HP dia butut). Wira baca komik, Bimo menyetel musik, sementara Satya dan Saka mengobrol tentang rencana besok.

"Besok kakakmu ikut, Sat? Katanya sakit?" tanya Bimo sambil mengecilkan suara radio di meja belajar.

"Cuma demam karena radang tenggorokan. Hari ini kan udah istirahat dan minum obat, kayaknya sih udah baikan," jawab Satya sambil menumpuk tas mereka di pojokan agar tidak sempit dan ada ruangan buat menggelar kasur lipat. Untuk sesaat dia terpana melihat ransel Ardi yang paling gede sendiri, kayak orang mau naik gunung.

"Lokasi baksosnya di mana, Sat?" tanya Saka yang sedang duduk bersila di atas kasur Satya.

"Lokasinya di Lebak, Banten. Beberapa desa terkena banjir bandang akibat longsor dan hujan deras. Ada yang sampai terisolir karena jembatan akses jalannya putus diterjang banjir."

"Wah, di mana, tuh? Kayaknya kita mesti pelajari medan dulu, deh," gumam Bimo. "Wiiiir! Navigator!"

Wira menengadah, lalu menutup komiknya. "Ada peta, nggak?" tanyanya mendekat.

"Aku cari dulu atlasnya. Sementara lihat Google Maps dulu aja, kayaknya bisa lebih detil deh," ujar Satya. Bimo lalu mengais HP Saka yang sedang dimainkan Ardi, dan melemparnya pada Wira. Soalnya di antara mereka yang HP nya paling bagus dan lengkap aplikasinya cuma Saka dan Dwi.

"Yah, Bimooo! Padahal bentar lagi menang!" sungut Ardi.

Wira lalu membuka aplikasi peta di ponsel itu. Mencari alamat dan menelusuri medan. Anak itu memang andalan regu mereka dalam navigasi lokasi baru dan mencari jejak. Dia bisa membaca peta buta dan mengingat peta secara akurat dengan cepat.

"Ini longsornya di kaki Gunung Halimun. Kalau dari deskripsimu, lokasinya mungkin di sekitar sini, ya, Sat?" tanya Wira sambil memperbesar peta dan menunjuk ke satu titik. Satya yang telah menemukan atlas menyerahkannya pada Saka.

"Kemaren Kak Budi ada ngirim lokasi di WA. Aku forward ke grup, ya."

Setelah dicek ternyata memang benar itu lokasi yang ditunjuk Wira. Saka lalu menandai lokasinya di atlas. Bimo menarik Dwi yang masih asyik main supaya berkumpul. Wira menjelaskan akses jalan menuju ke sana pada yang lain.

"Aduh, aku susah nginget jalan," sahut Dwi sambil garuk-garuk kepala. “Katanya mau bagi tugas? Aku sesi dokumentasi buat presentasi nanti, kan? Jadi enggak perlu ikut jalan keliling kampung."

Ardi menimpuknya pakai bantal. Sebelum Dwi membalas dan terjadi perang bantal, Satya lalu membenarkan.

"Saka, kamu gantiin aku presentasi tentang pilah sampah ya. Bimo nemenin buat mimpin di sesi games. Dwi dokumentasi, jadi kalian bertiga tetap di posko. Aku, Wira, sama Ardi nanti yang bergerak di lapangan buat bagi-bagi makanan dan logistik di kampung itu. Tapi kalau presentasinya bisa kelar cepat, kalian mesti siap bantu kerjaan lain. Nanti teknisnya koordinasi sama Kak Budi."

Semua mengangguk-angguk dan mengiyakan.

"Berhubung masih musim hujan jangan lupa siapkan jas hujan dan baju ganti kalian ya. Sekarang mendingan kita tidur cepat, simpan tenaga buat besok."

"Oke, bos!" 

***

Bab Dua



Mereka berangkat habis subuh, setelah sarapan. Lokasinya lumayan jauh, perkiraannya dua setengah jam perjalanan dari rumah Satya di Bintaro. Kak Budi menyetir mobil Kijang miliknya. Di sampingnya duduk Kak Darma, sedangkan Satya dan kawan-kawan duduk di barisan tengah dan belakang.

Sepanjang jalan Kak Budi bercerita tentang musibah banjir bandang yang menimpa daerah itu minggu lalu. Longsor di kaki gunung terjadi karena pertambangan liar dan penggundulan hutan. Ada 30 desa yang terkena banjir, dengan lebih dari 3.200 keluarga yang mengungsi ke delapan pos. Mereka akan mengadakan dapur umum buat para pengungsi, membantu di tenda kesehatan, dan membagikan makanan pada desa yang terisolir. Beberapa kwartir pramuka juga berkumpul dan turun sebagai tim yang bergerak ke lokasi-lokasi yang terisolir. Kak Darma mengiyakan, berkomentar bahwa teman seregunya juga ikut semua.

Bimo menyikut Satya.

"Wah, gawat. Berarti ada Kak Bakti," gumamnya.

Satya meringis. Kak Bakti beberapa kali menemani Kak Darma saat melatih pramuka di sekolah. Waktu pertama kali datang mereka kira dia preman, soalnya kelihatan urakan dan galak. Dia pernah menghukum Satya dan Bimo yang terlambat datang latihan, lari sepuluh kali mengelilingi lapangan bola RT yang terletak di seberang sekolah.

Sesampainya di lokasi mereka segera beraksi. Semua tas dikumpulkan, diberi nomor, dan dijaga panitia. Saka, Bimo, dan Dwi mengatur meja dan menggelar presentasi, sementara Satya, Wira, dan Ardi mengikuti Kak Darma ke tepi sungai Ciberang. Dari atas bukit terlihat jalan dan jembatan yang rusak, rumah yang tergenang sampai ke atap, dan ladang bebatuan yang lebar di samping sungai.

"Parah juga ya, kerusakannya?" tanya Ardi.

Kak Darma mengangguk. "Katanya ada 200 jembatan roboh dan jalan yang amblas sampai 40 meter. Tiga ribu rumah dan kantor pemerintahan rusak."

Wira mengerutkan kening setelah menatap pemandangan di bawah beberapa saat. "Sungainya bergeser," katanya sambil menunjuk ladang batu. "Itu tadinya sungai, tapi karena longsor airnya tumpah ke kampung di tepinya. Sungainya terkuras jadi batu, kampungnya berubah jadi sungai."

"Wow," gumam Satya sambil melongo.

"Kita harus hati-hati," kata Wira kemudian. "Muka bumi saat ini udah enggak sesuai peta. Perhatikan kondisi sekitar agar enggak tersesat. Nanti aku kasih tahu titik-titik acuan yang bisa jadi patokan arah."

Satya cuma bisa mengangguk. Boro-boro tahu ke mana mereka mesti bergerak. Di hadapan mereka membentang lautan air yang diselingi atap rumah dan pepohonan. Dia sudah tidak tahu mana yang daratan dan mana jalannya karena semua sudah berubah menjadi sungai.

Mereka segera menuju pusat komando kwartir pramuka di bawah. Setelah pengarahan sebentar, mereka mendapat perahu karet, peta, data hunian rumah yang akan dikunjungi, berikut logistik yang akan dibagikan. Kak Darma lalu memompa perahu dan mengecek perlengkapan keamanannya.

"Wira nanti di perahu aja, jagain barangnya supaya enggak jatuh ke air," pesan Satya ketika mereka menaikkan barang. Paket makanan berisi nasi bungkus dan teh manis, dimasukkan ke plastik bening yang diikat supaya kedap air.

"Sayang banget ini plastiknya sekali pakai buang, kita mau ramah lingkungan tapi paketnya malah pakai plastik," komentar Ardi. Ada seratus bungkus yang akan dibagikan ke tiga puluh keluarga.

"Yah, mau gimana lagi ... kalau pakai rantang nanti rantangnya mesti dijemput dong. Udah gitu kalau jatuh ke air atau butuh dilempar nasinya bisa tumpah enggak kemakan," ujar Satya. Dia melipat sling yang disediakan untuk melempar paket ke rumah penduduk yang sulit dijangkau.

"Yuk, buruan. Udah mendung nih, kayaknya bentar lagi hujan. Udah pada bawa jas hujan, kan?" tanya Kak Darma. Semua mengiyakan, lalu memakai jaket pengaman dan naik ke perahu satu per satu. Kak Darma duluan duduk di ujung, memegang kayuh. Di depannya tertumpuk paket logistik dan Wira, sedangkan paling depan ada Satya dan Ardi. Agak sempit memang, mereka duduk berdempetan. Lalu Kak Darma mulai mengayuh.

Wuaah! Satya cengar-cengir. Rasanya seperti naik perahu bebek di pinggir danau.

"Kok lambat amat sih, Kak, kapan sampenya nih? Kalo gini mah mending aku jalan, toh airnya masih sepinggang," komentar Satya.

Kak Darma mendengus. "Berat, tahu! Makanya kamu diet, makan jangan kebanyakan!"

"Huuu … enak saja! Aku kan masih masa pertumbuhan! Kakak aja kali yang kurang olahraga!"

Ardi tertawa geli melihat perangai kakak adik itu. Setelah menyeberangi sungai, sampailah mereka pada barisan rumah yang terendam banjir. Wira lalu mengarahkan agar mereka menghampiri rumah pertama. Sebuah rumah kecil bercat krem dan beratap merah.

"Assalamualaikum, permisiiii ... pakeeet!" seru Ardi dengan tangan membentuk corong. Sayangnya mereka tadi tidak dikasih toa.

Belum ada yang menyahut, jadi Satya ikut berteriak menirukan tukang pengantar makanan.

"GO FOOOOOD!!"

Semua langsung cekikikan.

"Buuu, ada Go Foooood!" Sayup terdengar suara anak kecil dari dalam.

"Hah?? Go Food?! Kok bisa?!"

Seorang ibu-ibu berdaster ungu lalu membuka pintu dan muncul dari dalam rumah. Satya mengecek daftar penghuni, mengambil empat paket nasi bungkus, dan turun dari perahu. Ardi juga turun membawa paket sembako.

"Permisi, Bu, ini rumah Pak Bejo, ya?" tanya Satya ramah. "Kami mau mengantar makanan dari acara baksos."

"Ohh, ya ampuun, makasih banyak Deek!" sahut ibu itu berkaca-kaca, menerima paketnya. "Sejak musibah itu kami cuma saling berbagi makanan dengan tetangga. Ini persediaannya udah menipis."

Mereka lalu pamit dan beranjak ke rumah sebelah. Sama seperti rumah pertama, penghuni rumah bersuka cita menyambut bantuan yang diberikan. Sampai di rumah yang ketujuh ternyata penghuninya lebih banyak dari data mereka.

"Iya, waktu banjir kemaren saudara saya lagi pada ngumpul di rumah, jadinya rame," kata bapak yang muncul ke depan rumah. Dari lantai dua rumahnya terlihat banyak anak-anak yang mengintip.

Satya menghampiri Kak Darma untuk meminta pendapatnya. Kalau banyak rumah seperti ini, rumah yang diujung jalan bisa tidak kebagian paket.

"Ya sudah, kasih aja. Toh memang kita bawa beberapa paket lebih untuk antisipasi. Kalau nanti ada yang kurang kita balik lagi saja," kata Kak Darma memutuskan. Satya mengangguk dan melaksanakan perintahnya.

Semakin lama jalanan di komplek itu semakin menurun, banjirnya semakin dalam. Satya yang tadinya masih bisa jalan karena banjir hanya sepinggang kini harus berenang untuk sampai ke rumah tujuan. Ada rumah bertingkat yang lantai satunya hampir terendam semua.

Di rumah ketiga belas, lantai duanya tidak memiliki balkon, sehingga penghuni rumah sulit keluar untuk menerima paketnya. Tadinya Satya mau melempar paket dengan sling, tapi ketika diukur sling yang dibawa ternyata kurang panjang. Dia lalu segera membuat simpul untuk menambah panjang tali, kemudian melempar paketnya melalui jendela.

Sementara hujan mulai turun dan dengan cepat menderas. Langit gelap oleh awan hitam tebal, tak tampak tanda-tanda hujannya akan selesai dalam waktu cepat. Permukaan air sesekali bergelombang dan membuat arus yang menambah berat medan. Di perempatan jalan rumah yang kedelapan belas, arus air tiba-tiba menguat. Saling bertabrakan membuat pusaran. Perahu karet mereka lantas oleng.

Oh, tidak! Sebagian paket yang mereka bawa jatuh ke air dan terbawa arus.

***


Bab Tiga



Satya dan Ardi langsung berenang mengejar, sementara Kak Darma berjuang mengendalikan perahu. Wira berusaha menjaga agar sisa paketnya tidak jatuh.

"Di, kamu ke kanan," pinta Satya. Arus ke kanan lebih kuat, paketnya sudah agak jauh. Dengan cepat Ardi yang atletis itu menyusul, mengais lima paket nasi bungkus yang mengambang.

Lima belas menit kemudian mereka berhasil mengamankan perahu dan paket. Satya berpegangan pada ujung perahu, terengah-engah. Ardi lalu memanjat naik dan membantu menarik Satya.

"Gimana paket kita, Wir?" tanya Ardi agak keras, menghalau deru hujan. Wira sudah menutupi paket mereka dengan jas hujannya Ardi dan Satya yang sejak tadi dilepas, supaya tidak menghalangi mereka ketika berenang.

"Aman, masih lengkap. Tapi ini hujannya makin deras. Kita mau lanjut atau putar balik?" tanyanya. "Masih ada dua belas rumah dan tiga puluh empat paket."

Satya menatap Kak Darma dengan bimbang. Wajah kakaknya itu agak pucat, mungkin belum pulih benar dari sakitnya. Apa dia masih kuat mengayuh di tengah derasnya hujan?

"Dari sini masih jauh, Wir?" tanya Satya akhirnya.

Wira melihat ke sekeliling, membuat perhitungan dan membandingkannya dengan peta.

"Harusnya enggak terlalu jauh. Kira-kira tiga ratus meter dari plang Indomaret itu ada rumah berikutnya," katanya sambil menunjuk ke barisan rumah di ujung jalan. Kak Darma mengangguk pada Satya.

"Oke, kalau gitu kita lanjut aja, tanggung tinggal dikit lagi," kata Satya mengambil keputusan.

Walau sudah mulai lelah, Mereka berusaha mengerjakan tugas secepat mungkin. Di rumah kedua puluh empat, ternyata ada keadaan darurat. Ada seorang ibu hamil yang mengalami pendarahan.

"Kak, tolong antar mereka ke posko," kata Satya. Ardi dan suami ibu itu membopong pasien ke luar rumah. Satya mengambil paket yang tersisa supaya ada ruang buat suami-istri itu duduk.

"Terus kamu sama Ardi gimana, Sat?" tanya Wira khawatir.

"Ini tinggal sisa enam paket lagi, kan? Aku sama Ardi bisa lanjut nganter paket ke tujuan. Setelah itu kita berenang buat nyusul pulang."

Kak Darma menggeleng. "Enggak, Sat, bahaya. Jaraknya terlalu jauh, apalagi kamu udah kecapekan. Setelah mengantar paket itu mendingan kamu sama Ardi nunggu di depan Indomaret aja, supaya ada patokan. Nanti aku balik lagi untuk jemput kalian."

Mereka menyetujuinya, lalu berpisah.

Satya dan Ardi berenang, melanjutkan perjalanan mengantar paket. Entah mereka yang sudah lelah atau memang jarak antar rumahnya semakin jauh, rasanya lama sekali baru mereka sampai di ujung gang. Rumah di ujung itu ternyata kosong.

"Ardi, istirahat dulu. Kakiku kram," pinta Satya. Ardi mengangguk, lalu menarik Satya ke atas balkon rumah kosong itu. Untungnya balkon rumah cukup lebar, mereka bisa berteduh sambil berselonjor kaki. Ardi kembali memanggil dan mengintip ke dalam rumah untuk memastikan penghuninya tidak ada.

“Nggak ada bau-bau yang aneh, kan?” tanya Ardi terdengar gugup.

“Hah? Maksudnya gimana?”

Ardi mengedikkan bahu. “Yah, siapa tahu penghuninya masih ada di dalam, tapi sudah meninggal dan tidak ada yang tahu ….”

“ARDIII!!! Jangan bikin takut, deh!”

Ardi cuma cengengesan.

Langit semakin gelap, diiringi petir menyambar.

"Aduh, Kak Darma gimana ya … aku takut mereka kenapa-kenapa di jalan," gumam Satya.

Ardi menghela napas, lalu duduk di samping Satya dan membuka bajunya yang basah. "Sudahlah, kita cuma bisa bantu doa. Memang hujan deras menghalangi jarak pandang, tapi Kak Darma kan ditemani Wira. Dia pinter nyari jalan. Kupikir selama enggak ada banjir susulan, harusnya mereka bisa sampai dengan selamat."

Ardi lalu menyuruh Satya buka baju, supaya tidak hipotermia. Saat memakai baju yang basah dan dingin, tubuh akan berusaha lebih keras untuk menghangatkan badan.

"Ah, iya, kalau ada kiriman banjir bandang dari hulu bahaya ya, mereka bisa hanyut terbawa arus kencang."

Ardi mengais bajunya dan mengeluarkan sebuah kantong kedap air. Isinya obat-obatan. Dia lalu mengambil salep Counterpain.

"Mana kakimu yang kram?" tanyanya kemudian.

Satya menunjuk dan memperhatikan Ardi mengurut kakinya.

"Kamu jago mijat juga, Di. Besok buka praktek panti pijat aja," kata Satya sambil tertawa. Ardi menyengir dan menoyor bahu Satya.

"Kalau mau jadi atlit harus tahu yang beginian, biar kalau cedera tahu apa yang harus dilakukan," komentar Ardi.

Tak lama mereka kembali duduk berdempetan sambil memperhatikan hujan.

"Makasih ya Di, udah enakan. Cuma ada masalah baru nih … aku kebelet pipis!"

Ardi cuma geleng-geleng kepala. "Ya udah sana ke bawah, pipis di air aja."

Satya berdecak, tapi menurut. Dalam hati minta maaf sama yang punya rumah karena sudah pipis di depan rumahnya. "Enggak enak banget ya kalo banjir begini. Walau air banyak, tapi enggak bisa diminum. Mandi dan pipis susah. Terus kalo mau BAB gimana?" tanyanya sambil naik ke balkon.

"Menurutmu?? Ya, BAB juga di bawah situ. Kalo bisa di luar pagar rumah biar kotorannya enggak mengapung masuk ke dalam hahaha …."

"Iiiih jorok bangeeet!" seru Satya sambil mengerutkan hidung.

"Tapi bener sih soal banyak air yang enggak bisa dipake. Aku tuh mikir, bisa nggak sih air banjirnya difilter gitu sipaya minimal bisa dipakai MCK?" Ardi bertanya-tanya.

Satya berpikir sejenak.

"Sebenernya salah satu SKU Pramuka Penggalang itu mengerti tentang cara penjernihan air, lho. Bahkan sampai airnya bisa diminum, untuk bertahan hidup di masa darurat. Aku agak lupa apa udah ada di jadwal ya, Coba nanti aku cek lagi program kegiatan pramuka kita."

Ardi mengangguk, lalu garuk-garuk kepala.

"Sat, aku laper, nih. Ini nasi bungkusnya kan tinggal satu buat penghuni rumah ini, tapi kan rumahnya kosong. Kita makan aja, yuk?"

Satya lalu menyetujuinya, karena dia juga lapar. Mereka makan nasi padang itu berdua. Memang nasinya sudah tidak hangat, tapi lumayan untuk mengganjal perut mereka.

Setelah makan dan istirahat sejenak, mereka lalu memutuskan untuk berenang kembali ke Indomaret di ujung gang. Siapa tahu Kak Darma sudah balik arah untuk menjemput mereka.

Hujan masih deras, walau tidak selebat yang tadi. Namun, mendekati Indomaret di perempatan jalan itu, arus terasa semakin kencang. Beberapa ranting dan benda-benda kecil terlihat hanyut di sana.

"Di, kita mau nunggu di mana? Masa gelantungan di plang Indomaret?" tanya Satya. Dia sudah berenang duluan mencapai plang tersebut. Tapi sebelum Ardi menjawab, tiba-tiba sesuatu menabraknya keras dari belakang, membuat pegangannya terlepas. Dia terseret arus, sempat terlelap air. Ketika berhasil menarik napas ke permukaan, Satya baru sadar apa yang tadi telah menabraknya.

Seekor ular piton berukuran besar sedang membelit badannya.

Satya menjerit kencang dan kembali tenggelam.

***

Bab Empat



BLUB BLUB BLUB!!
Satya tidak bisa bernapas, rasanya tercekik. Dia berontak, mencoba membebaskan diri dari ular itu. Tapi sepertinya gerakan itu justru membuatnya semakin terjebak dan tertarik ke dalam.

Arggh, toloong! Dadanya semakin sakit.

Saat dia merasa mendapat sedikit celah untuk kabur, sesuatu kembali menyentuhnya dari samping. Dengan panik dia menepis dan menendang, menggeliat di air. Pandangannya semakin gelap, tapi dia tetap berusaha berkelit. Menarik diri ke atas, lalu tertarik entah oleh pusaran air atau apa lagi. Tiba-tiba dia menabrak keluar permukaan air, megap-megap. Ardi melepas tarikan di jaket Satya dan mencengkeram lengan atasnya.

"SATYA!!" seru Ardi, lalu berusaha menenangkan temannya.

"Ssh, tarik napas. Pegangan padaku," ujarnya dengan nada teguh. Dia bersandar pada pohon di belakang. Menarik lengan Satya agar merangkul pundaknya, lalu memijat tengkuk Satya. Satya menunduk, bertumpu pada dada Ardi, masih gemetar, Batuk-batuk dan memuntahkan air yang sempat tertelan.

"Tenanglah ... ngga apa-apa, kita selamat. Kamu baik-baik saja?" tanyanya memastikan. Satya mengangguk, mengeratkan pegangan. Ardi menarik napas lega.

"Ya ampun jantungku mau copot. Aku mau narik lengan kamu ke atas tapi kamu berontak. Tenagamu kuat banget, peganganku hampir lepas."

"U-ularnya gimana?" tanya Satya tergagap.

Ardi menggeleng.

"Udah hanyut, tadi aku lihat sendiri. Kayaknya ularnya udah mati deh, cuma kebetulan tersangkut karena menabrakmu, dan terasa membelit karena kamu panik."

Satya memejamkan mata dan bergidik. Siapa yang tidak panik kalau tiba-tiba jatuh tertimpa ular?

"Kita udah terseret arus agak jauh dari Indomaret, nanti kakakmu nggak bisa nemuin kita. Kamu bisa berenang ke sana? Aku bantu papah," ujar Ardi.

Satya menggertakkan gigi, lalu mengangguk. Bergeser agar posisinya di samping Ardi, tangan melingkar di pundaknya. Mereka lalu mulai berenang. Cukup sulit karena harus melawan arus dan menghindari barang-barang yang hanyut. Tenaga Satya rasanya sudah terkuras habis ketika mereka sampai di plang Indomaret. Di seberang jalan, Kak Darma berteriak memanggilnya. Dia datang bersama Kak Bakti, yang mengayuh perahu.

"Tunggu di situ, jangan ke mana-mana!"

Begitu sampai Kak Darma langsung membantu mereka naik perahu. Saat akhirnya mereka berhasil tergeletak di lantai perahu, Kak Darma menarik Satya ke dadanya dan memeluknya dengan erat.

"Ya Tuhan, Satyaaa …," bisiknya setengah terisak. Dia menciumi kening adiknya. "Aku lihat waktu kamu hanyut terseret arus, tapi posisi kami masih jauh. Kami segera menyusul secepatnya."

Satya mengepalkan tangannya di punggung jaket Kak Darma, membenamkan wajah sambil berusaha mengatur napas. Dia sangat bersyukur bisa selamat. Kak Darma mengelus-elus kepalanya, membuatnya merasa hangat. Eh, atau badan Kak Darma memang lagi panas?

Satya menengadah, menatap kakaknya sambil mengerutkan kening.

"Kakak demam lagi, ya?" tanyanya.

Kak Darma berdecak. "Cuma anget sedikit kok, ntar di rumah tinggal minum obat dan dibawa tidur aja."

"Lagian si Darma maksa sih, lagi sakit bukannya istirahat di rumah malah ikut baksos. Hujan-hujanan dan kerja keras mengayuh perahu pula. Ya drop lagi deh badannya," sahut Kak Bakti. "Tadi pas sampe di posko dia kelihatan kayak mau pingsan, tapi bersikeras mau balik lagi buat jemput adeknya. Daripada dia kenapa-kenapa di jalan ya udah aku anter aja."

Mendengar itu Satya tersenyum dan memeluk kembali kakaknya. "Makasih ya Kak, Kakak is the best, deh."

"Kok cuma Satya yang dipeluk, sih? Aku kok enggak dipeluk juga, Kak?" komentar Ardi iseng. Bahu Satya langsung terguncang tawa.

Kak Darma mendelik, "Kamu pelukan sama Kak Bakti aja, sana."

Ardi melirik pada Kak Bakti, yang cuma melotot dan pasang tampang 'coba saja kalau berani'.

"Ooh, boleh boleh ... sini duduk di depanku, sekalian bantuin ngayuh perahu," kata Kak Bakti dengan nada mengancam.

“Eh, ogah!” kata Ardi langsung buang muka. Kak Darma dan Satya terbahak melihatnya.

Sesampainya di posko mereka langsung berteduh di tenda dan ganti baju. Kak Darma memberikan selimut pada Satya, tampak masih khawatir. Tapi Satya cuma tersenyum dan bilang dia baik-baik saja. Namun ternyata ada kabar emergensi dari Bimo dan Dwi, yang setelah presentasi tadi bertugas membantu di dapur umum.

"Guys, gawat nih! Penerima baksosnya kebanyakan, di luar antisipasi. Bahan makanan udah habis, sementara panitia belum pada makan," Bimo mengabari.

Semua berpandangan, sama-sama lapar. Satya yang sempat makan pun mulai lapar lagi, karena tadi banyak mengeluarkan tenaga.

Ardi mendengus, lalu meraih ranselnya yang segede gaban.

"Tenang saudara-saudara, aku punya solusinya," katanya santai sambil membuka resleting. Dia lalu mengeluarkan berbungkus-bungkus Indomie dari dalam tas. Semua melongo saking banyaknya Indomie yang dia keluarkan.

"Busyeet Ardiii … kamu mau kemping sebulan apa gimana, ada berapa kardus nih Indomie-nya?" tanya Dwi sambil semangat memunguti bungkus Indomie yang berserakan.

"Ini ada tiga kardus, berarti ada 120 bungkus. Aku bawa buat jaga-jaga aja, takut makanannya kurang. Ternyata betul kan, berarti enggak sia-sia kubawa," komentar Ardi dengan muka puas.

"Ya udah sini pinjam tasmu lagi, buat dibawa ke dapur umum," tukas Bimo.

Saka yang habis bertugas di tenda kesehatan pun lalu membantunya memasak. Akhirnya semua panitia Karang Taruna RT Satya kebagian makanan.

Perut kenyang, hati pun senang. Setelah makan mereka pun bersiap pulang. Di perjalanan Bimo cerita tentang presentasi mereka yang sukses. Semua gantian bercerita mengenai pengalaman masing-masing.

Bimo terkaget-kaget waktu Ardi cerita Satya hampir mati dimakan ular. Satya lalu menggeplak kepala temannya karena mengarang-ngarang cerita yang tidak benar.

"Kayaknya si ular tahu bos kita ini lagi butuh kasih sayang deh, makanya dia meluk Satya dengan sepenuh hati," komentar Dwi yang lalu disambut dengan sorak dan tawa teman-temannya.

Satya lalu mengemukakan pemikirannya tentang ketertarikannya belajar mengenai penjernihan air, barangkali bisa dimasukkan ke agenda kegiatan pramuka mereka.

Kak Darma mengangguk, "Udah ada di jadwal kok, nanti tunggu aja tanggal mainnya."

"Sat, ntar aku nginep di rumah kamu lagi, ya," pesan Ardi. "Mau pulang naik sepeda tapi badanku berasa remuk banget nih."

"Emangnya Indomie, remuk kegencet? Kayaknya Ardi nih yang lagi butuh kasih sayang, pengen remuk oleh cintaaaa uhuyy," tawa Bimo berderai. Dia berkelit karena mau dicekik Ardi, sementara Dwi berusaha menarik lengan Ardi dari belakang, membuat mereka dorong-dorongan.

"Woii mobilnya goyaaang!" protes Kak Budi.

Kak Darma cuma geleng-geleng melihat tingkah regu mereka.

"Sip, tenang aja. Yang lain juga pulangnya maleman aja, istirahat dulu. Ntar kita makan bakwan malang buatan bundaku dulu," kata Satya.

"Eh, iya, nanti pas Kak Melia jemput sekalian diajak makan dulu, ya," timpal Kak Darma.

Tiba-tiba suasana sunyi senyap, cuma terdengar krik-krik jangkrik lewat. Bimo dan Dwi berpandangan, lalu berteriak.

"Cie cieeee … Kak Darma naksir Kak Melia nih yeee … hahahaha!" kompak mereka menyahut kencang.

"Aduuuh, kalian ituuuuu!" protes Kak Darma, yang suaranya kalah oleh tawa anak-anak yang membahana.



===ooo===


Catatan Penulis:
YAYYY!! Alhamdulillah satu lagi cerita Satya dkk selesai! I'm so excited, anak-anak ini semangat memberi saya banyak ide. Semoga cerita selanjutnya juga bisa ditulis dengan lancar, amiin!