Kasus Malam Qadar
Oleh: Caritra Sari
***
Bab Satu
"Biimoo, gas abiis!" seru Ardi dari dapur. Dia mematikan kompor yang dipakai untuk memasak sop iga. "Duh, mana pas lagi masak, baru setengah matang nih!"
Wira juga mematikan kompor di sebelah Ardi, lalu mengangkat perkedelnya yang baru sebagian digoreng.
"Sini aku beliin di warung depan," tukas Saka yang sedang memotong buah.
Ardi melepas tabung gas kecil itu dan menyerahkannya pada Saka, sedangkan Satya meninggalkan pekerjaan membulati perkedel dan menggantikan tugas Saka membuat sop buah. Dia melirik jam dinding--waduh, sudah jam lima!
"Tolong bantuin Bimo ngatur takjilnya dulu, Dwi," pinta Satya pada Dwi yang sedang merekam kegiatan mereka. Regu Elang lalu bergegas merampungkan pekerjaan memasak mereka.
Sebagai salah satu tugas dari ekskul pramuka, hari ini mereka mengadakan acara buka puasa bersama anak-anak panti asuhan Yayasan Dompet Yatim dan Dhuafa di Kodam, Bintaro.
Pak Haji Naryo, ayah Bimo yang juga pemimpin yayasan, sedang pergi umroh ke tanah suci. Jadi kegiatan operasional yayasan dipasrahi pada anak-anaknya.
Untuk kegiatan bukber ini Mas Erwin kakak tirinya Bimo menyuruh Bimo yang bertanggung jawab.
Begitu tabung gas yang baru datang, Ardi dan Wira segera melanjutkan memasak. Sop buahnya sudah selesai dan langsung disajikan oleh Satya dan Saka. Dwi kembali merekam video dan Bimo membuka acara, di musholla panti asuhan yang terletak di samping rumah Bimo.
Anak itu berdiri di ujung barisan peserta bukber yang duduk berhadapan di atas tikar. Dia memakai baju koko putih, sorban kotak-kotak merah, dan tersenyum hangat pada semua hadirin.
"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh!" sapanya ceria. Anak-anak panti menjawab salamnya dengan semangat.
Begitu tabung gas yang baru datang, Ardi dan Wira segera melanjutkan memasak. Sop buahnya sudah selesai dan langsung disajikan oleh Satya dan Saka. Dwi kembali merekam video dan Bimo membuka acara, di musholla panti asuhan yang terletak di samping rumah Bimo.
Anak itu berdiri di ujung barisan peserta bukber yang duduk berhadapan di atas tikar. Dia memakai baju koko putih, sorban kotak-kotak merah, dan tersenyum hangat pada semua hadirin.
"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh!" sapanya ceria. Anak-anak panti menjawab salamnya dengan semangat.
"Selamat soreee… selamat datang pada yang kami hormati Pak RT, Pak RW, dan kakak-kakak dari Regu Elang SMPN 177 Bintaro. Adik-adik dan kakak pengurus panti, apa kabar semua?"
"Baiiiik Kaaak Bimoooo!" Ruangan kembali riuh dengan suara anak-anak.
"Baiiiik Kaaak Bimoooo!" Ruangan kembali riuh dengan suara anak-anak.
Bimo tertawa dan melanjutkan kata sambutannya dengan ucapan terima kasih. Satya dan Saka duduk manis di sampingnya, mengikuti acara dengan seksama.
"Wah, si Bimo pede banget ya," bisik Satya ketar-ketir. Dia nanti juga akan memberi sedikit prakata, tapi sepertinya tidak bisa seluwes Bimo. Bimo terlihat menguasai keadaan, bisa membuat peserta tergelak maupun tersentuh dengan nasehatnya.
"Dia udah biasa tampil, Satya. Dari kecil ayahnya pasti memberi contoh dan membimbingnya cara bicara di depan umum," ujar Saka sambil tersenyum menenangkan.
"Oh… iya juga sih. Aku masih suka grogi kalau tampil di depan orang-orang gitu. Gugup ngomongnya, takut salah."
Saka mengangguk. "Itu wajar, kok. Biasanya kalau bicara topik yang dikuasai, kita bisa lebih lancar menjelaskan. Lihat aja Wira yang nyerocos kalau jelasin teorema matematika. Tenang aja, kamu cuma tampil sebentar, kan. Lagipula ada Bimo, dia pasti nolongin kalau kamu butuh bantuan."
Saka lalu pamit ke belakang untuk membantu Ardi dan Wira. Setelah itu Satya tampil, hanya mengucapkan beberapa patah kata. Bimo masih berdiri di sampingnya, membuat Satya merasa aman dan lancar bicara.
Tak terasa adzan Magrib tiba. Semua peserta menyantap kolak ubi dan sop buah yang disediakan, lalu mengantri wudu dan sholat Magrib. Setelah itu mereka makan bersama. Acara bukber selesai usai makan. Anak-anak panti lalu bersiap sholat tarawih, sementara Regu Elang beres-beres dan mencuci piring.
"Dwiii bantuin kek, enak bener dari tadi cuma ngerekam video doang?" protes Ardi. "Pinggangku encok nih!"
"Wahaha dasar kakek-kakek!" ejek Dwi, lalu kabur sebelum ditimpuk pakai spons cuci piring. "Aku bantu beresin sound system dan gulung tikar di depan ya."
"Sekalian nyapu ngepel ruang depaan!"
"Ogah!!"
Satya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ardi dan Dwi. Setelah pekerjaan mereka selesai semua, karena musholla panti tidak mengadakan sholat tarawih, mereka pun berangkat ke Mesjid Raya Kodam Bintaro.
"Bim, lumayan banyak yang dateng ya?" tanya Satya.
"Yah, mungkin mereka pada mau iktikaf, atau sekadar mengejar pahala malam Qadar."
"Iktikaf dan malam Qadar? Apaan tuh?" tanya Dwi.
"Iktikaf adalah berdiam di masjid. Biasanya diisi dengan sholat sunnah, dzikir, membaca ayat Al Qur'an, mengikuti kajian, dan ibadah lainnya," jelas Bimo.
"Wah, si Bimo pede banget ya," bisik Satya ketar-ketir. Dia nanti juga akan memberi sedikit prakata, tapi sepertinya tidak bisa seluwes Bimo. Bimo terlihat menguasai keadaan, bisa membuat peserta tergelak maupun tersentuh dengan nasehatnya.
"Dia udah biasa tampil, Satya. Dari kecil ayahnya pasti memberi contoh dan membimbingnya cara bicara di depan umum," ujar Saka sambil tersenyum menenangkan.
"Oh… iya juga sih. Aku masih suka grogi kalau tampil di depan orang-orang gitu. Gugup ngomongnya, takut salah."
Saka mengangguk. "Itu wajar, kok. Biasanya kalau bicara topik yang dikuasai, kita bisa lebih lancar menjelaskan. Lihat aja Wira yang nyerocos kalau jelasin teorema matematika. Tenang aja, kamu cuma tampil sebentar, kan. Lagipula ada Bimo, dia pasti nolongin kalau kamu butuh bantuan."
Saka lalu pamit ke belakang untuk membantu Ardi dan Wira. Setelah itu Satya tampil, hanya mengucapkan beberapa patah kata. Bimo masih berdiri di sampingnya, membuat Satya merasa aman dan lancar bicara.
Tak terasa adzan Magrib tiba. Semua peserta menyantap kolak ubi dan sop buah yang disediakan, lalu mengantri wudu dan sholat Magrib. Setelah itu mereka makan bersama. Acara bukber selesai usai makan. Anak-anak panti lalu bersiap sholat tarawih, sementara Regu Elang beres-beres dan mencuci piring.
"Dwiii bantuin kek, enak bener dari tadi cuma ngerekam video doang?" protes Ardi. "Pinggangku encok nih!"
"Wahaha dasar kakek-kakek!" ejek Dwi, lalu kabur sebelum ditimpuk pakai spons cuci piring. "Aku bantu beresin sound system dan gulung tikar di depan ya."
"Sekalian nyapu ngepel ruang depaan!"
"Ogah!!"
Satya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ardi dan Dwi. Setelah pekerjaan mereka selesai semua, karena musholla panti tidak mengadakan sholat tarawih, mereka pun berangkat ke Mesjid Raya Kodam Bintaro.
"Bim, lumayan banyak yang dateng ya?" tanya Satya.
"Yah, mungkin mereka pada mau iktikaf, atau sekadar mengejar pahala malam Qadar."
"Iktikaf dan malam Qadar? Apaan tuh?" tanya Dwi.
"Iktikaf adalah berdiam di masjid. Biasanya diisi dengan sholat sunnah, dzikir, membaca ayat Al Qur'an, mengikuti kajian, dan ibadah lainnya," jelas Bimo.
"Malam Qadar atau Lailatul Qadar itu adalah suatu malam di bulan Ramadhan saat Allah menurunkan kitab suci Al Qur'an ke muka bumi. Beribadah pada malam Qadar pahalanya seperti orang yang beribadah seribu bulan."
"Hah, seribu bulan!"
"Itu sama dengan 83 tahun," timpal Wira.
"Bayangkan kalau pada malam itu kamu sedang iktikaf di mesjid dan memperbanyak ibadah… wih, pahalanya benar-benar pol," Bimo merangkul dan menepuk-nepuk pundak Dwi. "Keren, kan?"
"Banget!"
Mereka pun segera berwudhu. Karena mesjidnya sudah agak penuh, mereka kebagian tempat di belakang, dekat pintu tempat wudhu. Tas mereka dikumpulkan di dekat tiang, agar mereka dapat sujud tanpa harus kepentok tas ransel masing-masing.
Saat tarawih dimulai, tiap dua rakaat salam. Seusai sholat tarawih yang kedua Bimo keluar barisan. Ardi menatapnya bertanya, apa mau diamankan tempat sholatnya. Bimo hanya menggeleng dan bilang dia kebelet. Saat dia kembali sholat tarawih yang keempat sudah selesai. Bimo lalu merapat ikut sholat di samping Wira.
Karena sudah terlambat, Bimo bermaksud tidak ikut sholat witir yang menjadi penutup rangkaian sholat tarawih. Tapi sebelum sholat witir dimulai, seseorang berteriak dari selasar samping mesjid.
"Astaghfirullah, ada maliiiing!"
Sontak sholat witirnya batal, semua jamaah bubar. Ternyata seorang jamaah pria menemukan gembok kotak amal masjid tergeletak di lantai dekat kaki kotak, sudah dirusak. Marbot mesjid segera mengecek kotak tersebut, dan menyatakan benar bahwa uangnya telah dicuri.
"Kotak ini tadinya penuh, tapi sekarang sudah berkurang sepertiga," kata bapak itu. "Ada seseorang yang membongkarnya dengan paksa dan mengambil uangnya."
Para jamaah mesjid diminta untuk tidak pulang dan kembali ke dalam.
"Kita perlu mempersempit waktu kejadian," kata Pak Muh, kepala dewan keamanan mesjid. "Siapa saja yang tadi keluar wudhu atau ke toilet setelah shalat tarawih dimulai?"
Beberapa orang menyebut orang di sebelahnya telah keluar. Pak Muh mencatat nama dan perkiraan waktunya.
Pak Sugeng ke toilet setelah sholat tarawih yang kelima. Dialah yang menemukan kotak itu dalam keadaan terbuka.
"Nggak mungkin Pak Sugeng pelakunya," kata seorang bapak di sebelahnya. "Beliau baru saja keluar."
"Eh, ini Bang Ozen tadi juga keluar," kata bapak yang lain. Dia memandang curiga pada seorang pemuda bertato dengan tampang preman. "Agak lama juga, waktu mau sholat isya sampai rakaat pertama tarawih ketiga."
"Maksudnya apa nih, Pak," tanya Bang Ozen dengan logat batak yang kental. Dia kelihatan tidak suka dituduh sembarangan.
"Hah, seribu bulan!"
"Itu sama dengan 83 tahun," timpal Wira.
"Bayangkan kalau pada malam itu kamu sedang iktikaf di mesjid dan memperbanyak ibadah… wih, pahalanya benar-benar pol," Bimo merangkul dan menepuk-nepuk pundak Dwi. "Keren, kan?"
"Banget!"
Mereka pun segera berwudhu. Karena mesjidnya sudah agak penuh, mereka kebagian tempat di belakang, dekat pintu tempat wudhu. Tas mereka dikumpulkan di dekat tiang, agar mereka dapat sujud tanpa harus kepentok tas ransel masing-masing.
Saat tarawih dimulai, tiap dua rakaat salam. Seusai sholat tarawih yang kedua Bimo keluar barisan. Ardi menatapnya bertanya, apa mau diamankan tempat sholatnya. Bimo hanya menggeleng dan bilang dia kebelet. Saat dia kembali sholat tarawih yang keempat sudah selesai. Bimo lalu merapat ikut sholat di samping Wira.
Karena sudah terlambat, Bimo bermaksud tidak ikut sholat witir yang menjadi penutup rangkaian sholat tarawih. Tapi sebelum sholat witir dimulai, seseorang berteriak dari selasar samping mesjid.
"Astaghfirullah, ada maliiiing!"
Sontak sholat witirnya batal, semua jamaah bubar. Ternyata seorang jamaah pria menemukan gembok kotak amal masjid tergeletak di lantai dekat kaki kotak, sudah dirusak. Marbot mesjid segera mengecek kotak tersebut, dan menyatakan benar bahwa uangnya telah dicuri.
"Kotak ini tadinya penuh, tapi sekarang sudah berkurang sepertiga," kata bapak itu. "Ada seseorang yang membongkarnya dengan paksa dan mengambil uangnya."
***
Bab Dua
Para jamaah mesjid diminta untuk tidak pulang dan kembali ke dalam.
"Kita perlu mempersempit waktu kejadian," kata Pak Muh, kepala dewan keamanan mesjid. "Siapa saja yang tadi keluar wudhu atau ke toilet setelah shalat tarawih dimulai?"
Beberapa orang menyebut orang di sebelahnya telah keluar. Pak Muh mencatat nama dan perkiraan waktunya.
Pak Sugeng ke toilet setelah sholat tarawih yang kelima. Dialah yang menemukan kotak itu dalam keadaan terbuka.
"Nggak mungkin Pak Sugeng pelakunya," kata seorang bapak di sebelahnya. "Beliau baru saja keluar."
"Eh, ini Bang Ozen tadi juga keluar," kata bapak yang lain. Dia memandang curiga pada seorang pemuda bertato dengan tampang preman. "Agak lama juga, waktu mau sholat isya sampai rakaat pertama tarawih ketiga."
"Maksudnya apa nih, Pak," tanya Bang Ozen dengan logat batak yang kental. Dia kelihatan tidak suka dituduh sembarangan.
"Aku cuma keluar sebentar karena sakit perut, bah! Malu kali sampai kentut pas baru takbir pertama, jadi kucepat keluar. Untungnya toilet kosong, lumayan lama aku di sana. Perlu kucerita juga mencret-mencret, kah?!"
"Ee benar itu si Bang Ozen tidak bohong, kentutnya bau duren, bah!" sahut orang di sebelahnya yang sama-sama orang Batak.
Beberapa orang terdengar cekikikan di belakang, tapi segera terdiam karena dipelototi Bang Ozen. Bapak yang mengadu tadi cuma mendengus.
"Ya saya kan cuma ngasih tahu Pak Muh aja, bukan nuduh situ… walaupun situ pernah jadi ketua preman di sini," ketus bapak itu.
"Sudah, sudah. Ada lagi?" kata Pak Muh menengahi.
"Saya Pak, tadi keluar sebentar," kata seorang anak laki-laki berkacamata yang berada dekat Pintu Dua. Satya mengamatinya, sepertinya usianya hanya 1-2 tahun di atasnya.
"Oh, Rusdi anaknya Bu Aminah ya? Kapan kamu keluar?" tanya Pak Muh.
"Setelah tarawih pertama, Pak. Saya juga buru-buru kebelet pipis, untungnya enggak ngantri. Masih ada satu toilet yang tidak terkunci. Setelah pipis saya ketemu Bimo yang mau ke toilet."
Satya berpaling ke arah Bimo, berbisik, "Kenalan kamu, Bim?"
Bimo mengedikkan bahu. "Dulu tinggal di seberang rumahku. Kakak kelas, sekarang udah lulus SMP."
"Kalau kamu bagaimana, Bim?" tanya Pak Muh.
"Saya keluar ke toilet setelah sholat tarawih yang kedua, Pak. Karena toiletnya penuh sempat nunggu sebentar, lalu saat Rusdi keluar saya masuk," jelas Bimo. "Saya kurang memperhatikan gemboknya sih, tapi pas lewat kotak amal seingat saya kondisinya masih tertutup."
Pak Muh mengerutkan kening. "Bang Ozen dan Rusdi melihat ke kotak amal juga?"
Kedua orang itu hanya menggeleng dan mengedikkan bahu. "Saya nggak memperhatikan, Pak, karena pengen ngejar tarawih," kata Rusdi.
"Saya lihat pas buru-buru ke toilet, sempat tersandung kotak itu... tapi kondisinya masih bagus dan gemboknya masih terpasang," ujar Bang Ozen.
"Oh iya, ada lagi Pak yang keluar," tiba-tiba seseorang dari shaf depan berkata. "Pas baru shalat Isya, Mas Simin tadi keluar, tapi enggak balik lagi."
Mas Simin seorang pemuda kurus berusia dua puluhan dan berambut keriting. "Oh, tadi saya masuk lewat pintu belakang dan lanjutin sholat di sana, soalnya udah ketinggalan."
"Kamu kenal, Bim?" bisik Satya.
Bimo mengangguk. "Mas Simin itu pedagang asongan. Dia sering mampir ke musholla panti."
"Ada yang lihat waktu Mas Simin masuk?" tanya Pak Muh.
"Anu, Pak, saya sholat persis di depan Pintu Tiga. Waktu sholat ada yang nyusul di samping pilar, tapi saya enggak tahu itu siapa, sebelumnya saya enggak kenal Mas Simin. Cuma saya juga lupa pas tarawih dan rakaat yang ke berapa, soalnya saya ngantuk hehehe…"
"Saya masuk pas rakaat kedua tarawih yang kedua," kata Mas Simin. "Di samping bapak ini."
"Ada lagi yang keluar-masuk mesjid?" tanya Pak Muh. Tidak ada yang menjawab.
"Oke, jadi pertama Bang Ozen keluar, disusul Mas Simin. Lalu Mas Simin masuk, sementara Rusdi keluar. Lalu Bimo keluar, Rusdi masuk. Bang Ozen masuk mesjid, baru terakhir Bimo masuk. Setelah itu Pak Sugeng keluar dan menemukan kotak tersebut sudah terbuka. Begitu, ya?"
Mendengar kronologi kejadian seperti itu, semua mata lalu berpaling pada Bimo. Bimo-lah yang terakhir keluar sebelum pencurian terjadi. Satya yang berada di sebelah Bimo melihatnya memucat.
"Bukan saya yang mengambilnya, Pak," sangkalnya lirih.
"Bener, Bim?" tanya Rusdi sambil mengerutkan kening. "Kudengar kemaren kamu sempat minjem sepedanya Ato, lalu nabrak pagar dan nyemplung ke got. Sepedanya rusak, kan?"
"Benar begitu, Bimo?" tanya seseorang dari depan. Rupanya Mas Erwin, yang dari tadi hanya diam mendengarkan. Dia menerobos kerumunan dan bergegas menghampiri Bimo. "Kamu kok belum cerita?"
Bimo menatap kakaknya dengan wajah memelas. "Iya, Mas… aku enggak cerita karena enggak mau ngerepotin. Aku mau benerin sepedanya pakai uangku sendiri. Demi Allah aku nggak ngambil uang dari kotak amal itu, Mas," ujarnya dengan suara serak.
"Coba geledah aja tasnya, Pak," usul seseorang, yang diikuti suara setuju dari yang lain. "Kalau emang bukan dia yang ambil kan harusnya enggak ada di situ."
Pak Muh menghampiri Bimo, lalu menepuk pundaknya. "Maaf ya, Nak Bimo, ini demi kebaikan kita semua."
Bimo melirik ke Mas Erwin yang menatapnya tajam, lalu mengangguk. Tidak bisa menolak.
Pak Muh memanggil marbot mesjid dan menyuruhnya mengambilkan tas Bimo. Ketika marbot itu merogoh tas berwarna merah ngejreng tersebut, dia tertegun.
"Ee benar itu si Bang Ozen tidak bohong, kentutnya bau duren, bah!" sahut orang di sebelahnya yang sama-sama orang Batak.
Beberapa orang terdengar cekikikan di belakang, tapi segera terdiam karena dipelototi Bang Ozen. Bapak yang mengadu tadi cuma mendengus.
"Ya saya kan cuma ngasih tahu Pak Muh aja, bukan nuduh situ… walaupun situ pernah jadi ketua preman di sini," ketus bapak itu.
"Sudah, sudah. Ada lagi?" kata Pak Muh menengahi.
"Saya Pak, tadi keluar sebentar," kata seorang anak laki-laki berkacamata yang berada dekat Pintu Dua. Satya mengamatinya, sepertinya usianya hanya 1-2 tahun di atasnya.
"Oh, Rusdi anaknya Bu Aminah ya? Kapan kamu keluar?" tanya Pak Muh.
"Setelah tarawih pertama, Pak. Saya juga buru-buru kebelet pipis, untungnya enggak ngantri. Masih ada satu toilet yang tidak terkunci. Setelah pipis saya ketemu Bimo yang mau ke toilet."
Satya berpaling ke arah Bimo, berbisik, "Kenalan kamu, Bim?"
Bimo mengedikkan bahu. "Dulu tinggal di seberang rumahku. Kakak kelas, sekarang udah lulus SMP."
"Kalau kamu bagaimana, Bim?" tanya Pak Muh.
"Saya keluar ke toilet setelah sholat tarawih yang kedua, Pak. Karena toiletnya penuh sempat nunggu sebentar, lalu saat Rusdi keluar saya masuk," jelas Bimo. "Saya kurang memperhatikan gemboknya sih, tapi pas lewat kotak amal seingat saya kondisinya masih tertutup."
Pak Muh mengerutkan kening. "Bang Ozen dan Rusdi melihat ke kotak amal juga?"
Kedua orang itu hanya menggeleng dan mengedikkan bahu. "Saya nggak memperhatikan, Pak, karena pengen ngejar tarawih," kata Rusdi.
"Saya lihat pas buru-buru ke toilet, sempat tersandung kotak itu... tapi kondisinya masih bagus dan gemboknya masih terpasang," ujar Bang Ozen.
"Oh iya, ada lagi Pak yang keluar," tiba-tiba seseorang dari shaf depan berkata. "Pas baru shalat Isya, Mas Simin tadi keluar, tapi enggak balik lagi."
Mas Simin seorang pemuda kurus berusia dua puluhan dan berambut keriting. "Oh, tadi saya masuk lewat pintu belakang dan lanjutin sholat di sana, soalnya udah ketinggalan."
"Kamu kenal, Bim?" bisik Satya.
Bimo mengangguk. "Mas Simin itu pedagang asongan. Dia sering mampir ke musholla panti."
"Ada yang lihat waktu Mas Simin masuk?" tanya Pak Muh.
"Anu, Pak, saya sholat persis di depan Pintu Tiga. Waktu sholat ada yang nyusul di samping pilar, tapi saya enggak tahu itu siapa, sebelumnya saya enggak kenal Mas Simin. Cuma saya juga lupa pas tarawih dan rakaat yang ke berapa, soalnya saya ngantuk hehehe…"
"Saya masuk pas rakaat kedua tarawih yang kedua," kata Mas Simin. "Di samping bapak ini."
"Ada lagi yang keluar-masuk mesjid?" tanya Pak Muh. Tidak ada yang menjawab.
"Oke, jadi pertama Bang Ozen keluar, disusul Mas Simin. Lalu Mas Simin masuk, sementara Rusdi keluar. Lalu Bimo keluar, Rusdi masuk. Bang Ozen masuk mesjid, baru terakhir Bimo masuk. Setelah itu Pak Sugeng keluar dan menemukan kotak tersebut sudah terbuka. Begitu, ya?"
Mendengar kronologi kejadian seperti itu, semua mata lalu berpaling pada Bimo. Bimo-lah yang terakhir keluar sebelum pencurian terjadi. Satya yang berada di sebelah Bimo melihatnya memucat.
"Bukan saya yang mengambilnya, Pak," sangkalnya lirih.
"Bener, Bim?" tanya Rusdi sambil mengerutkan kening. "Kudengar kemaren kamu sempat minjem sepedanya Ato, lalu nabrak pagar dan nyemplung ke got. Sepedanya rusak, kan?"
"Benar begitu, Bimo?" tanya seseorang dari depan. Rupanya Mas Erwin, yang dari tadi hanya diam mendengarkan. Dia menerobos kerumunan dan bergegas menghampiri Bimo. "Kamu kok belum cerita?"
Bimo menatap kakaknya dengan wajah memelas. "Iya, Mas… aku enggak cerita karena enggak mau ngerepotin. Aku mau benerin sepedanya pakai uangku sendiri. Demi Allah aku nggak ngambil uang dari kotak amal itu, Mas," ujarnya dengan suara serak.
"Coba geledah aja tasnya, Pak," usul seseorang, yang diikuti suara setuju dari yang lain. "Kalau emang bukan dia yang ambil kan harusnya enggak ada di situ."
Pak Muh menghampiri Bimo, lalu menepuk pundaknya. "Maaf ya, Nak Bimo, ini demi kebaikan kita semua."
Bimo melirik ke Mas Erwin yang menatapnya tajam, lalu mengangguk. Tidak bisa menolak.
Pak Muh memanggil marbot mesjid dan menyuruhnya mengambilkan tas Bimo. Ketika marbot itu merogoh tas berwarna merah ngejreng tersebut, dia tertegun.
Lalu dengan wajah tidak percaya, dia mengeluarkan lembaran-lembaran uang yang sepertinya dimasukkan dengan tergesa-gesa. Jumlahnya cukup banyak, walau nominalnya bercampur. Ada uang seribuan maupun seratus ribuan di sana.
Bapak itu lalu mengambil salah satu uang lima ribuan yang penuh corat-coret. Dia memperhatikannya sebentar, lalu berpaling pada Pak Muh.
"Ini benar uang dari kotak amal. Saya ingat uang ini berasal dari kotak tersebut."
Jamaah masjid langsung ribut.
"Ya Allah, enggak nyangka, ya… si Bimo itu cuma tampangnya doang yang alim, tapi ternyata kelakuannya nyolong uang mesjid!"
"Mana sih? Oooh.. itu ya… anaknya Haji Naryo kan?"
"Yang punya Yayasan Dompet Yatim dan Dhuafa itu? Duh, kalo anaknya aja begitu, jangan-jangan bapaknya juga menggelapkan uang yayasan?!"
"Hush, enggak boleh nuduh sembarangan gitu! Itu namanya fitnah!"
"Ya kan belom ada buktinya aja!"
"Mungkin Bimo-nya aja yang terpengaruh pergaulan bebas. Anaknya Pak Kiayi masa hobinya nongkrong di studio sama anak band, main musik dan nyanyi-nyanyi gitu!"
"Hah masa? Padahal dia kan juara lomba baca Qur'an, lho! Bacaannya bagus banget, bikin aku merinding. Katanya dia tahfiz juga…"
"Halah, zaman sekarang mah yang cuma hafal doang banyak!"
"Ya gitulah, berarti didikan ortunya gak bener!"
"Lho kok jadi ortunya yang disalahin…"
"Eh, yang namanya buah itu jatuh enggak jauh dari pohonnya!"
"Iya, Pak Haji Naryo itu kan lagi umroh sama bini mudanya, jangan-jangan hasil nilep uang yayasan!"
"Hah, emang istrinya ada berapa?"
"Ih, kamu enggak tahu ya, ibunya Bimo itu istri kedua Pak Haji! Istri pertamanya tuh ibunya Mas Erwin. Enggak tahu deh aslinya istrinya ada berapa!"
"Ya ampun, pokoknya aku enggak bakal nyumbang apa-apa lagi ke yayasan itu!"
"Astaghfirullah, kenapa kalian pada ngomongin orang begini?"
"Ibu-ibu, bapak-bapak, tolong diam sebentar," tegur Pak Muh dengan nada keras. Orang-orang langsung terdiam, memperhatikan Pak Muh.
"Kami akan menyelesaikan masalah ini di kantor. Bang Ozen, Rusdi, Bimo, dan Mas Simin harap ikut saya. Yang lain silakan meneruskan sholat witir, lalu dimohon tidak meninggalkan mesjid dulu sebelum saya persilakan, ya…"
"Duh, kenapa jadi berbelit-belit begini, Pak Muh?" protes seseorang. "Kan sudah jelas pelakunya siapa, barang buktinya pun sudah ada. Kenapa jadi kita yang ditahan?"
"Sabar, Pak. Kita coba telusuri masalahnya dengan hati-hati. Saya belum mendengar penjelasan dari Bimo."
"Penjelasan apa lagi, sih? Kalau cuma mau nanya alasan ya selesaikan sendiri saja. Yang penting kami sudah tahu Bimo pelakunya."
Bimo mematung, wajahnya pucat pasi. "Tapi Pak, bukan saya yang--"
"Diam, kamu," potong Mas Erwin. Dia menyeret Bimo keluar. Tak berapa lama sayup terdengar suara bentakan-bentakan dari sana.
Pak Muh menggeleng, terlihat sedih. "Maaf Pak, tolong tunggu sebentar saja. Silakan sholat witir dulu, Pak, supaya kita semua bisa tenang. Tolong jauhi prasangka buruk. Bantu dengan doa, Allah yang akan menunjukkan kebenarannya."
Pak Muh lalu bergegas keluar, diikuti oleh marbot yang menunjukkan jalan pada Bang Ozen, Rusdi, dan Mas Simin.
Saka menggenggam lengan Satya. Satya hanya mengangguk.
"Wira, perkiraan waktu?"
"19.15 sejak sholat Isya dimulai dan Bang Ozen tersandung kotak amal, sampai 19.45 saat Pak Sugeng memberitahukan uang dari kotak itu dicuri," jawab Wira mantap. Dia mengeluarkan kertas dan pensil dari kantongnya. "Detil waktu kronologinya segera aku catat."
Satya berterima kasih, lalu berpaling pada Ardi.
"Ardi, tolong jaga pintu keluar. Sekalian tanyakan pada tukang parkir apakah ada yang keluar atau masuk mesjid sejak jam 19.15 sampai 19.45."
Ardi mengangguk dan langsung pergi.
"Saka, tolong jaga tas kita dan kotak amal itu. Dwi, rekam video untuk memantau semua pintu dan perhatikan siapa yang keluar-masuk ke toilet."
Satya lalu beranjak keluar menuju toilet pria, yang berada sepuluh meter di belakang Pintu Empat.
"Ini benar uang dari kotak amal. Saya ingat uang ini berasal dari kotak tersebut."
***
Bab Tiga
Jamaah masjid langsung ribut.
"Ya Allah, enggak nyangka, ya… si Bimo itu cuma tampangnya doang yang alim, tapi ternyata kelakuannya nyolong uang mesjid!"
"Mana sih? Oooh.. itu ya… anaknya Haji Naryo kan?"
"Yang punya Yayasan Dompet Yatim dan Dhuafa itu? Duh, kalo anaknya aja begitu, jangan-jangan bapaknya juga menggelapkan uang yayasan?!"
"Hush, enggak boleh nuduh sembarangan gitu! Itu namanya fitnah!"
"Ya kan belom ada buktinya aja!"
"Mungkin Bimo-nya aja yang terpengaruh pergaulan bebas. Anaknya Pak Kiayi masa hobinya nongkrong di studio sama anak band, main musik dan nyanyi-nyanyi gitu!"
"Hah masa? Padahal dia kan juara lomba baca Qur'an, lho! Bacaannya bagus banget, bikin aku merinding. Katanya dia tahfiz juga…"
"Halah, zaman sekarang mah yang cuma hafal doang banyak!"
"Ya gitulah, berarti didikan ortunya gak bener!"
"Lho kok jadi ortunya yang disalahin…"
"Eh, yang namanya buah itu jatuh enggak jauh dari pohonnya!"
"Iya, Pak Haji Naryo itu kan lagi umroh sama bini mudanya, jangan-jangan hasil nilep uang yayasan!"
"Hah, emang istrinya ada berapa?"
"Ih, kamu enggak tahu ya, ibunya Bimo itu istri kedua Pak Haji! Istri pertamanya tuh ibunya Mas Erwin. Enggak tahu deh aslinya istrinya ada berapa!"
"Ya ampun, pokoknya aku enggak bakal nyumbang apa-apa lagi ke yayasan itu!"
"Astaghfirullah, kenapa kalian pada ngomongin orang begini?"
"Ibu-ibu, bapak-bapak, tolong diam sebentar," tegur Pak Muh dengan nada keras. Orang-orang langsung terdiam, memperhatikan Pak Muh.
"Kami akan menyelesaikan masalah ini di kantor. Bang Ozen, Rusdi, Bimo, dan Mas Simin harap ikut saya. Yang lain silakan meneruskan sholat witir, lalu dimohon tidak meninggalkan mesjid dulu sebelum saya persilakan, ya…"
"Duh, kenapa jadi berbelit-belit begini, Pak Muh?" protes seseorang. "Kan sudah jelas pelakunya siapa, barang buktinya pun sudah ada. Kenapa jadi kita yang ditahan?"
"Sabar, Pak. Kita coba telusuri masalahnya dengan hati-hati. Saya belum mendengar penjelasan dari Bimo."
"Penjelasan apa lagi, sih? Kalau cuma mau nanya alasan ya selesaikan sendiri saja. Yang penting kami sudah tahu Bimo pelakunya."
Bimo mematung, wajahnya pucat pasi. "Tapi Pak, bukan saya yang--"
"Diam, kamu," potong Mas Erwin. Dia menyeret Bimo keluar. Tak berapa lama sayup terdengar suara bentakan-bentakan dari sana.
Pak Muh menggeleng, terlihat sedih. "Maaf Pak, tolong tunggu sebentar saja. Silakan sholat witir dulu, Pak, supaya kita semua bisa tenang. Tolong jauhi prasangka buruk. Bantu dengan doa, Allah yang akan menunjukkan kebenarannya."
Pak Muh lalu bergegas keluar, diikuti oleh marbot yang menunjukkan jalan pada Bang Ozen, Rusdi, dan Mas Simin.
Saka menggenggam lengan Satya. Satya hanya mengangguk.
"Wira, perkiraan waktu?"
"19.15 sejak sholat Isya dimulai dan Bang Ozen tersandung kotak amal, sampai 19.45 saat Pak Sugeng memberitahukan uang dari kotak itu dicuri," jawab Wira mantap. Dia mengeluarkan kertas dan pensil dari kantongnya. "Detil waktu kronologinya segera aku catat."
Satya berterima kasih, lalu berpaling pada Ardi.
"Ardi, tolong jaga pintu keluar. Sekalian tanyakan pada tukang parkir apakah ada yang keluar atau masuk mesjid sejak jam 19.15 sampai 19.45."
Ardi mengangguk dan langsung pergi.
"Saka, tolong jaga tas kita dan kotak amal itu. Dwi, rekam video untuk memantau semua pintu dan perhatikan siapa yang keluar-masuk ke toilet."
Satya lalu beranjak keluar menuju toilet pria, yang berada sepuluh meter di belakang Pintu Empat.
Ada tempat wudhu dengan sepuluh keran yang saling berhadapan di sana, lalu lantainya menurun dua undakan menuju empat buah ruangan kecil dengan pintu aluminium yang menutup rapat.
Satu pintu tertulis label "Gudang", sedangkan ketiga pintu lainnya adalah toilet. Semua pintu berindikator label hijau, pertanda tidak ada orang dan tidak dikunci. Secarik kertas kecil tertempel pada pintu di samping Gudang, tulisannya "Rusak".
Satya kemudian berpaling dan menghampiri kotak amal itu, yang terletak di dekat tempat wudhu. Kotak transparan dari kaca itu kakinya yang terbuat dari aluminium menempel permanen pada lantai. Kacanya tidak pecah. Kaitan engselnya hampir terkoyak oleh tang. Gembok kecil yang lengannya sudah patah dirusak itu tergeletak di atas kotak.
Dari kotak amal itu, melalui jendela kecil di atasnya Satya bisa melihat Pintu Dua, yang sejajar dengan Pintu Empat, tempat Wira dan Saka sedang berdiri. Di samping kakinya tas mereka bertumpuk.
"Sat, aku baru sadar… tas kita ini di samping pilar, mudah sekali diraih bila ada orang yang lewat. Tadi kita sholat di shaf terakhir agak ke tengah, sehingga enggak bisa memantau tas-tas ini ketika sholat," kata Saka. Satya mengangguk membenarkan.
Satya kemudian berpaling dan menghampiri kotak amal itu, yang terletak di dekat tempat wudhu. Kotak transparan dari kaca itu kakinya yang terbuat dari aluminium menempel permanen pada lantai. Kacanya tidak pecah. Kaitan engselnya hampir terkoyak oleh tang. Gembok kecil yang lengannya sudah patah dirusak itu tergeletak di atas kotak.
Dari kotak amal itu, melalui jendela kecil di atasnya Satya bisa melihat Pintu Dua, yang sejajar dengan Pintu Empat, tempat Wira dan Saka sedang berdiri. Di samping kakinya tas mereka bertumpuk.
"Sat, aku baru sadar… tas kita ini di samping pilar, mudah sekali diraih bila ada orang yang lewat. Tadi kita sholat di shaf terakhir agak ke tengah, sehingga enggak bisa memantau tas-tas ini ketika sholat," kata Saka. Satya mengangguk membenarkan.
Wira lalu memberikan rincian perkiraan waktu kejadian. Satya membacanya dan bergumam, "Kalau tebakanku benar, ada waktu kejadian yang salah di sini."
Kemudian dia berjalan ke Pintu Tiga, yang ternyata juga sama ada pilarnya. Satya memeriksa Pintu Satu dan Dua. Tidak ada yang aneh, hanya ada tempat penitipan sandal dan kotak asongan di dekat Pintu Satu.
"Tidak ada yang keluar masuk, begitu kata tukang parkir," lapor Ardi saat Satya jalan ke depan. "Pintu keluar parkiran mesjid hanya di dua tempat, jadi mereka bisa melihat jelas. Selain itu, keamanan di daerah sini cukup ketat, karena masih dekat komando utama daerah militer TNI AD. Oh ya, tadi Dwi bilang semua pintu aman, sudah tidak ada yang keluar sejak sholat witir dimulai."
Satya mengangguk, "Pelakunya bukan orang luar. Dia masih ada di sini."
"Kamu udah tahu siapa pelakunya, Sat?" tanya Ardi.
Satya cuma tersenyum misterius, lalu berbelok ke arah kantor pengelola mesjid.
***
Bab Empat
Satya mengetuk pintu ruangan kantor, lalu masuk. Pak Muh sedang bicara secara pribadi dengan Mas Erwin. Bang Ozen duduk di sofa tamu, bersidekap dengan tampang bosan campur kesal. Rusdi memainkan HP, sedangkan Mas Simin mengepit jaketnya, melingkarkan tangan ke atas perut.
Bimo duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu, kedua siku bertumpu di atas lutut, tangan menutupi wajahnya yang menunduk.
Satya duduk di sampingnya, menyentuh lengannya pelan.
"Kamu enggak apa-apa?"
Bimo mengusapkan tangan ke kepala, menggenggam sejumput rambutnya. Pipinya merah, matanya basah.
"Kalau ayahku tahu dia bakal marah besar, Sat. Walaupun begitu aku akan menerimanya kalau memang salah," lirih Bimo sambil memejamkan mata. "Tapi aku enggak melakukannya. Orang berprasangka buruk dan mencaci-maki aku, enggak apa-apa... tapi mendengar mereka bicara jelek tentang Ayah… aku enggak mau Ayah disakiti seperti itu, Sat…"
Satya lalu meremas tangannya, mencoba memberikannya dukungan. Dia lalu memanggil Bang Ozen.
"Maaf kalau saya mengganggu, Bang. Waktu Bang Ozen lagi di toilet, apa Abang enggak mendengar sesuatu?" tanya Satya.
Bang Ozen berpikir-pikir. "Yah, aku cuma mendengar seseorang keluar masuk ke toilet. Pintu dibuka-tutup sebanyak empat kali."
Satya mengangguk.
"Kak Rusdi, waktu Kakak masuk ke toilet, hanya ada satu bilik yang tidak terkunci?"
Rusdi mengedikkan bahu. "Iya, kalau kekunci labelnya merah, kan? Ini masih ada satu yang hijau."
"Iya, ada satu toilet yang rusak, kan," timpal Bimo. "Pintunya merah semua. Makanya aku sempat nunggu salah seorang keluar."
"Ada seseorang yang berbohong di sini," kata Satya kemudian, membuat Pak Muh dan Mas Erwin berhenti bicara dan berbalik mendengarkannya.
Satya berdiri dan menunjuk ke arah pintu.
"Pintu di ruangan kantor ini memiliki kunci. Artinya pintu bisa dibuka dan dikunci dari luar atau dalam. Namun, pintu aluminium di toilet itu hanya bisa dikunci dari dalam. Berarti ada seseorang yang bersembunyi dan baru keluar setelah tidak ada orang."
Satya memperhatikan sekeliling. Bimo dan Pak Muh tampak menyadarinya.
"Seseorang keluar setelah sholat Isya dimulai. Orang tersebut berusaha membuka engsel kotak amal, namun gagal. Berhubung dia melihat orang lain yang sedang keluar mesjid, dia bergegas menuju toilet dan bersembunyi di bilik toilet yang rusak, menguncinya dari dalam.
Satya duduk di sampingnya, menyentuh lengannya pelan.
"Kamu enggak apa-apa?"
Bimo mengusapkan tangan ke kepala, menggenggam sejumput rambutnya. Pipinya merah, matanya basah.
"Kalau ayahku tahu dia bakal marah besar, Sat. Walaupun begitu aku akan menerimanya kalau memang salah," lirih Bimo sambil memejamkan mata. "Tapi aku enggak melakukannya. Orang berprasangka buruk dan mencaci-maki aku, enggak apa-apa... tapi mendengar mereka bicara jelek tentang Ayah… aku enggak mau Ayah disakiti seperti itu, Sat…"
Satya lalu meremas tangannya, mencoba memberikannya dukungan. Dia lalu memanggil Bang Ozen.
"Maaf kalau saya mengganggu, Bang. Waktu Bang Ozen lagi di toilet, apa Abang enggak mendengar sesuatu?" tanya Satya.
Bang Ozen berpikir-pikir. "Yah, aku cuma mendengar seseorang keluar masuk ke toilet. Pintu dibuka-tutup sebanyak empat kali."
Satya mengangguk.
"Kak Rusdi, waktu Kakak masuk ke toilet, hanya ada satu bilik yang tidak terkunci?"
Rusdi mengedikkan bahu. "Iya, kalau kekunci labelnya merah, kan? Ini masih ada satu yang hijau."
"Iya, ada satu toilet yang rusak, kan," timpal Bimo. "Pintunya merah semua. Makanya aku sempat nunggu salah seorang keluar."
"Ada seseorang yang berbohong di sini," kata Satya kemudian, membuat Pak Muh dan Mas Erwin berhenti bicara dan berbalik mendengarkannya.
Satya berdiri dan menunjuk ke arah pintu.
"Pintu di ruangan kantor ini memiliki kunci. Artinya pintu bisa dibuka dan dikunci dari luar atau dalam. Namun, pintu aluminium di toilet itu hanya bisa dikunci dari dalam. Berarti ada seseorang yang bersembunyi dan baru keluar setelah tidak ada orang."
Satya memperhatikan sekeliling. Bimo dan Pak Muh tampak menyadarinya.
"Seseorang keluar setelah sholat Isya dimulai. Orang tersebut berusaha membuka engsel kotak amal, namun gagal. Berhubung dia melihat orang lain yang sedang keluar mesjid, dia bergegas menuju toilet dan bersembunyi di bilik toilet yang rusak, menguncinya dari dalam.
"Setelah semua orang keluar, dia pun keluar dan menyelesaikan pekerjaannya dengan mematahkan gembok. Sayangnya dia buru-buru, karena perkiraan waktunya yang melenceng. Jamaah sudah hampir selesai tarawih. Agar tidak menarik perhatian dan karena tasnya berada di pintu seberang, dia memasukkan uang tersebut ke tas Bimo, yang sudah sering dia lihat sebelumnya.
"Dia juga tahu Bimo terlambat tarawih, jadi akan berada di mesjid setelah orang-orang pulang. Mungkin saat itu dia akan mengambil uangnya," papar Satya.
"Dia berbohong tentang waktu kembalinya ke mesjid. Dia tidak balik saat awal tarawih, melainkan di saat akhir. Dia sengaja memilih Pintu Tiga yang sudah penuh sehingga bisa nyelip di samping pilar."
Satya lalu berjalan ke hadapan pelaku. Kedua tangannya terkait di saku celana panjang, berbicara dengan mantap ala detektif ternama.
"Pelakunya adalah Anda, Mas Simin."
Mas Simin terlihat ketakutan. "A-apa? Jangan sembarangan nuduh, ya!"
Satya tersenyum tipis. "Anda masuk mesjid dari Pintu Satu, di barisan depan. Saat sholat Isya sedang berlangsung, Anda keluar. Memutari selasar depan di belakang pengimaman, Anda bergerak ke kotak amal dan melaksanakan aksi Anda.
Satya lalu berjalan ke hadapan pelaku. Kedua tangannya terkait di saku celana panjang, berbicara dengan mantap ala detektif ternama.
"Pelakunya adalah Anda, Mas Simin."
Mas Simin terlihat ketakutan. "A-apa? Jangan sembarangan nuduh, ya!"
Satya tersenyum tipis. "Anda masuk mesjid dari Pintu Satu, di barisan depan. Saat sholat Isya sedang berlangsung, Anda keluar. Memutari selasar depan di belakang pengimaman, Anda bergerak ke kotak amal dan melaksanakan aksi Anda.
"Melalui jendela kecil di sana Anda melihat Rusdi yang sedang beranjak keluar dari Pintu Dua, tahu bahwa dia akan ke toilet. Anda lalu segera masuk ke bilik toilet yang rusak dan menguncinya, supaya pintunya tidak terbuka bila ada yang salah masuk. Anda mendengar Rusdi masuk dan keluar, Bimo masuk dan Bang Ozen keluar, dan terakhir Bimo keluar. Barulah Anda keluar dan mengambil uang itu.
"Anda tidak menduga Pak Sugeng akan keluar dan menemukan kejadian ini secepat itu. Tadinya Anda berharap kotak amal itu baru ditemukan saat rombongan orang keluar mesjid pas pulang tarawih. Saat itu terlalu banyak orang yang sudah pergi dan dengan suasana yang kacau, tidak mungkin dilakukan penggeledahan satu per satu."
Mas Simin menggeleng, terlihat tambah pucat. "Kamu jangan asal ngomong, buktinya mana?"
Satya mundur selangkah, berhenti di samping Bang Ozen yang sudah ikut berdiri.
Mas Simin menggeleng, terlihat tambah pucat. "Kamu jangan asal ngomong, buktinya mana?"
Satya mundur selangkah, berhenti di samping Bang Ozen yang sudah ikut berdiri.
"Anda telah membongkar kotak itu dengan tang. Bukti tersebut masih terus Anda pegang sampai sekarang, karena tidak ada waktu untuk menyembunyikannya. Bisa tolong lepas jaket Anda dan tunjukkan benda yang dari tadi berusaha Anda sembunyikan?"
Mas Simin menatap Satya dengan marah, tapi lalu menciut takut saat Bang Ozen yang kekar itu menghampirinya. Dia membuka jaket dan mengeluarkan tang yang disimpannya di saku dalam jaket.
Dengan menangis dia lalu menjelaskan tentang ibunya yang sakit keras dan tidak adanya dana untuk membeli obat.
Mas Simin menatap Satya dengan marah, tapi lalu menciut takut saat Bang Ozen yang kekar itu menghampirinya. Dia membuka jaket dan mengeluarkan tang yang disimpannya di saku dalam jaket.
Dengan menangis dia lalu menjelaskan tentang ibunya yang sakit keras dan tidak adanya dana untuk membeli obat.
Dia mengaku khilaf saat melihat kotak amal itu mulai penuh. Dia juga meminta maaf pada Bimo dan Mas Erwin karena tidak bermaksud mencemarkan nama baik mereka.
Dia hanya tahu Bimo sering ikut iktikaf sehingga pasti tinggal lebih lama di mesjid, dan tidak akan ada yang mencurigainya karena dia anak yang alim.
Tadinya dia bermaksud membayar kembali uang yang diambilnya dari kotak amal, bila penghasilannya dari berdagang sudah mencukupi. Tapi ternyata aksinya ketahuan dan keadaan jadi berantakan begini.
"Seharusnya Mas Simin cerita ke pengurus mesjid saja, coba ajukan pinjaman. Insya Allah kita siap membantu jamaah yang kesulitan. Ada dana kesehatan yang bisa digunakan juga," kata Pak Muh. Beliau lalu mengajak semua masuk ke mesjid untuk menjelaskan duduk perkaranya pada jamaah, agar membersihkan nama baik Bimo dan keluarga.
Bimo dan Satya keluar terakhir dari ruangan. Bimo lalu memeluk Satya dengan erat.
"Makasih banyak, Satya," bisiknya parau, sedikit terbata karena menahan tangis. "Semoga Allah membalas kebaikanmu berlipat ganda."
Satya mengamini, lalu menepuk-nepuk punggung Bimo. Senang karena akhirnya bisa membantu sahabatnya.
Catatan Penulis:
"Seharusnya Mas Simin cerita ke pengurus mesjid saja, coba ajukan pinjaman. Insya Allah kita siap membantu jamaah yang kesulitan. Ada dana kesehatan yang bisa digunakan juga," kata Pak Muh. Beliau lalu mengajak semua masuk ke mesjid untuk menjelaskan duduk perkaranya pada jamaah, agar membersihkan nama baik Bimo dan keluarga.
Bimo dan Satya keluar terakhir dari ruangan. Bimo lalu memeluk Satya dengan erat.
"Makasih banyak, Satya," bisiknya parau, sedikit terbata karena menahan tangis. "Semoga Allah membalas kebaikanmu berlipat ganda."
Satya mengamini, lalu menepuk-nepuk punggung Bimo. Senang karena akhirnya bisa membantu sahabatnya.
***
Catatan Penulis:
Ya Allah akhirnya selesai jugaaaa, tadinya udah mau nyerah karena udah tanggal 25 tapi sama sekali belum bikin outline apalagi nulis... alhamdulillah akhirnya kekejar hehe... btw waktu Manda baca ini dia surprised si Satya bisa jadi kayak detektif gitu. In case you forgot, cerita pertamanya Satya emang cerita detektif. Dia memecahkan kasus pencurian lencana pramuka Kak Darma di cerita Wing Tapak Hitam. Jadiii ya begitulah, jadi Shinichi Kudo ala-ala huehehe... hope you enjoy the story :)
SELESAI

ihhh, kenapa ko si bimo ganteng bgtt xD eh, itu bimo kan? kaya cool bgt gitu xD
BalasHapus