Halaman

Tampilkan postingan dengan label Character Backstory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Character Backstory. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juli 2021

Character - Bimo

Bimo

Oleh: Caritra Sari



***


Bab Satu


***

"Kamu kok enggak ikut latihan pensi, Bim? Udah tiga minggu ditungguin sama yang lain, tuh."

Bimo baru dua bulan mengikuti kegiatan pramuka di SMP dan menjadi ketua Regu Elang ketika Kak Darma, salah satu pembina memanggilnya. Waktu itu Jum'at siang sepulang sekolah. Anak-anak masih ramai membentuk barisan sebelum latihan dimulai.

Bimo mengerutkan kening. "Aku cuma sekali izin enggak ikut latihan kok, Kak, waktu awal bulan ini pas lagi sakit. Selain itu aku ikut terus sampai sekarang."

"Lho? Barusan Kak Rosi kirim pesan nyuruh aku ingetin kamu. Rabu siang kamu ke mana?"

"Hah... Kak Rosi itu yang mana? Rabu siang emang ngapain?"

Kak Darma tampaknya menyadari sesuatu. "Bukan latihan pramuka, tapi latihan pensi, pentas seni. Kak Rosi pembina eskul paduan suara, aku minta bantuannya untuk melatih tim kita. Kamu mewakili sekolah kita di acara pentas seni pramuka se-Jakarta. Mestinya kamu latihan tiap Rabu siang."

GONG! Bimo cuma bisa melongo karena tidak tahu apa-apa. Kak Darma kelihatan prihatin.

"Waktu kamu sakit itu sebenernya kita rapat untuk acara pensi di bulan Oktober. Pas ditanya ada yang mau voluntir nggak, Regu Macan memasukkan nama Reza sebagai gitaris, sedangkan Dwi mengusulkan nama kamu sebagai penyanyi," jelas Kak Darma. Dia terlihat berusaha mengingat. "Katanya 'Bimo itu suaranya sebening emas dan selembut sutera. Kalian tau nggak, waktu ada acara baca Qur'an di SD tukang cilok yang hadir sampe nangis! Ada yang bilang Bimo itu keturunan Daud, lho!'"

"Astagfirullahalaziiim!" Bimo menepok jidat, rasanya ingin memiting kepala Dwi. Anak ituuu... ugh, benar-benar, deh!

Daud itu nama ayahnya Bimo. Sedangkan gerobak tukang cilok tidak sengaja nyusruk ke got waktu mau parkir, sehingga dagangannya tumpah semua. Salah seorang anak lalu berinisiatif menggalang sedekah dari peserta yang datang untuk si tukang cilok yang bernasib malang. Tukang cilok itu sampai menangis terharu saat menerimanya.

"Ehm... Dwi sebagai wakil ketua regu kamu harusnya ngasih tahu kalau kamu akhirnya disetujui jadi pengisi acara pensi. Kayaknya dia lupa, ya?" tebak Kak Darma. "Kalau bisa Rabu depan—"

Pembicaraan mereka terputus karena Kak Darma keburu berpaling. Anak-anak sudah rapi berbaris. Di tengah lapangan, Satya sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan lantang. Kak Darma lalu menghampirinya.

"Kamu lagi ngapain?"

Satya kelihatan bingung. "Katanya yang telat datang latihan harus nyanyi di depan, Kak?"

Kak Darma menggigit bibir, tampak menahan tawa. "Kata siapa?"

"Kata Dwi."

Di barisan belakang, anak-anak langsung tertawa. Beberapa anak di depan tampak nyengir, mungkin ingin tahu apa yang akan Kak Darma lakukan pada Satya, yang notabene adiknya. Kak Darma berdeham. "Sesuai kesepakatan waktu kita pertama latihan, yang telat hukumannya push-up, ya. Kamu telat berapa menit?"

"Lima menit, Kak."

"Push-up lima kali, lalu balik ke barisan regu kamu."

Bimo lalu menyambut Satya yang datang dengan wajah merah, menepuk-nepuk pundaknya sebagai sesama korban keisengan si Dwi.

Ngomong-ngomong tentang Dwi, anak itu hanya cengar-cengir saat bergabung ke barisan. Bertindak normal seolah tidak ada apa-apa. Membuat Bimo jadi keki.

Selesai latihan Bimo menarik Dwi menjauh dari yang lain. "Kamu kok enggak bilang aku mesti ikut latihan pensi? Sengaja biar aku baru tahu pas hari H dan enggak bisa ngelak, ya?"

Dwi memutar bola matanya, tidak menyangkal tuduhan Bimo. "Kamu nggak usah latihan nyanyi juga udah bagus, kok."

Arghh!

"Nggak gitu juga, kali! Lagian kenapa kamu pake acara ngusulin namaku buat nyanyi di pensi segala, sih?"

Dwi sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Dia berkacak pinggang. "Ya supaya sekolah kita dapat juara, lah! Selain uang tunai, juara pertama juga dapat ponsel, lumayan kan buat ganti ponsel kamu yang udah butut."

Bimo mengerutkan hidung. Dia tidak punya komputer di rumah. Laptop cuma ada satu dan dipakai bergantian oleh Ayah, Ummi, dan Mas Erwin. Karena Bimo butuh perangkat untuk keperluan belajar, Ayah lalu memberinya ponsel bekas. Memang memory-nya penuh dan dia harus menghapus berkas secara berkala, tapi di luar itu sebenarnya ponselnya baik-baik saja.

"Kalo udah menang jangan lupa traktir regu kita makan-makan, soalnya anggota regu ini cukup mengenaskan. Emangnya kamu enggak kasihan sama si Wira?"

Waktu pertama membentuk regu, Dwi menarik Wira bergabung ke regu mereka karena menurutnya anak itu kelihatan kayak busung lapar.

"Dwiii...," Bimo kehilangan kata-kata. Dia mengembuskan napas sembari garuk-garuk kepala. "Kamu kan tahu kalau ayahku enggak ngebolehin. Aku harus ngundurin diri—"

"Kenapa sih kamu pengecut banget? Kamu harus berani tampil, dong!"

"Siapa yang takut tampil, sih?!" Kepala Bimo panas. Oke, waktu masih kecil banget dia sempat takut tampil di depan umum, tapi Ayah lantas berulang kali menyuruhnya tampil dan mengisi atau membawakan acara ini itu di panti asuhan binaannya, sehingga Bimo sekarang tidak takut lagi. Kalau mau jujur, dia bahkan menikmati apresiasi pemirsa di pangung. Tapi masalahnya bukan itu.

"Kamu takut dimarahin ayahmu, kan? Ya itu sama aja! Ini udah tahun 2024, lho! Indonesia udah 79 tahun merdeka, masa kamu masih takut menyampaikan pendapat ke ayahmu? Lagian ini kan cuma lomba nyanyi, bukan tawuran antar sekolah!"

Perdebatan mereka terputus oleh kedatangan Satya, yang tampak khawatir.

"Ada apa, sih? Kenapa kalian berantem?"

"Bukan urusanmu," ketus Dwi. "Aku pulang dulu."

Bimo juga pulang dengan tampang bersungut.

Rabu berikutnya Bimo ikut latihan di ruangan ekskul paduan suara.

"Kirain kamu gak bakal muncul. Kan keturunan Nabi Daud suaranya udah merdu," sindir Reza. Dia sedang menyetel gitar, ditemani beberapa anak paduan suara.

Bimo cuma melotot, lalu menghampiri Kak Rosi untuk minta maaf karena sudah melewatkan latihan. Kak Rosi menghela napas kesal.

"Jangan diulangi, ya. Mungkin bagi kamu ini enggak penting, tapi ini tahun terakhir Kakak jadi pembina di sini. Jadi Kakak ingin meninggalkan kesan yang baik. Reza juga udah susah payah berusaha hadir, sedangkan apa lagu yang akan dibawakan saja kamu tidak tahu. Kamu harus berusaha keras mengejar ketinggalan kamu."

Bimo mengangguk dengan tidak enak, lalu mengikuti latihan. Ternyata lumayan capek juga. Dia baru sampai rumah jam 5 sore, terlambat satu jam untuk mengajar Iqra' anak-anak panti. Untungnya Mas Erwin menunjuk dua anak panti yang bagus bacaannya untuk menggantikan Bimo sementara, sehingga semuanya sudah selesai membaca. Bimo menarik napas lega, lalu memanggil kedua anak tersebut untuk kembali bertugas Rabu depan.

"Emang Kak Bimo di sekolah ada acara apa? Kok pulangnya sore banget?"

"Ada latihan sama anak paduan suara, soalnya bulan depan mau ikut lomba."

Mereka cuma ber-O dan mengangguk-angguk saja. Bimo lalu pamit masuk ke rumah. Mas Erwin tidak menyinggung ketidakhadiran Bimo tadi sore di depan Ayah, jadi semua masih aman.

Sampai akhirnya negara api menyerang.

***


Bab Dua


***

Bimo berbaikan dengan Dwi keesokan harinya.

Lebih tepatnya, Dwi berulah menimpuk Bimo dengan bola kertas dan menyebabkan dua baris anak-anak penguasa bangku belakang ikut-ikutan perang saat pelajaran PPKn sebelum pulang. Pak Guru langsung mengeksekusi Dwi dan Bimo, menyuruh mereka membersihkan halaman belakang sekolah. Tak lama setelah bel pulang berbunyi mereka lalu tidak sengaja memergoki Wira. Dia membawa kotak kue dagangan mamahnya, sedang dipalak orang di gang belakang. Tanpa ba-bi-bu keduanya kompak membela Wira, walau harus bonyok sedikit.

"Kenapa deh udah zaman segini orang masih palak-palakan? Gimana Indonesia bisa maju, coba?!" Dwi menyeka bibirnya yang berdarah. Sebenarnya mereka berdua tidak jago-jago amat berkelahi, cuma modal nekat (Dwi) dan bismillah membela teman yang teraniaya (Bimo). Tapi si Dwi orangnya memang agak liar—ehm... out of the box. Otak sama tangannya ikut jalan, musuh jadi takut duluan.

Bimo meraba pipinya yang sempat tertonjok, memutuskan paling cuma bengkak dikit, lalu membantu Wira mengumpulkan kotak kue yang terjatuh.

"Mestinya kamu langsung bilang kalo ada yang macem-macem gitu, Bro," ujar Dwi sambil merangkul Wira. "Soalnya kalo dibiarin ya akhirnya kayak gini, makin ngelunjak."

"Mulai besok kita pulang bareng aja," putus Bimo.

"Mendadak dejavu aku, Bim," gumam Dwi. "Si Saka udah gak dibuli orang lagi, kan?"

Bimo mendengkus. "Enggak, itu mah beda kasusnya dengan ini."

Mereka lalu mengantar Wira pulang, mengobrol dan bercanda seolah-olah masalah yang kemarin sudah selesai.

Yah, karena berulang kali diteror dan digojlok oleh Dwi ("Yang bener dong, jadi ikut lomba apa kagak?! Jadi cowok harus tegas! Jangan maju mundur dan ngasih harapan palsu begitu!") Bimo akhirnya memutuskan untuk latihan pensi dengan sungguh-sungguh. Sayangnya penampilan perdananya (Bimo tidak tahu apakah saking jelek atau saking bagusnya), membuat anak-anak paduan suara tertegun dan memandangnya dengan tatapan seperti Zombie yang sedang melihat makanan.

Seperti api di gudang jerami, gosip "Anak cucu cicitnya Nabi Daud mau ikut lomba nyanyi" dengan cepat menyebar. Dwi cuma terkekeh setiap kali mendengarnya. Bimo berusaha meluruskan kesalahpahaman itu ("Aku bukan keturunan nabi"—Dwi malah menimpali: "Sebenarnya mungkin saja, kan? Siapa yang tahu, coba?"), tapi semua hanya menganggapnya berusaha merendah.

"Soalnya suara kamu beneran bagus, Bim," ujar salah seorang anak paduan suara yang berkuncir kuda dan berkacamata. Bimo lupa namanya siapa. "Kamu punya perfect pitch, bisa mengidentifikasi dan menduplikasi nada dengan sempurna. Vocal range kamu juga luas, dari yang rendah sampai tinggi masih nyampe. Kamu yakin enggak mau berkarir di bidang tarik suara? Aku daftarin ke acara pencari bakat, ya?"

Bimo cuma bisa berseru panik mencegahnya. Selama ini dia hanya hobi, senang-senang saja kalau disuruh menyanyi. Tapi kalau Ayah tahu, dia bisa dicoret dari kartu keluarga.

Rabu itu ruang ekskul paduan suara berubah padat seperti sidang terpidana korupsi. Kak Rosi segera mengusir semua yang tidak terlibat keluar dan mengunci pintu. Tapi anak-anak yang termakan gosip itu tidak mau pergi sebelum mendengar langsung nyanyiannya Bimo, membuat Bimo yang biasanya bisa menenangkan diri jadi grogi berat. Kayak tiba-tiba disuruh sulap memunculkan kelinci dari topi yang kosong.

Dengan keringat dingin dan jantung klotak-klotek kencang Bimo selesai menyanyikan lagu pertama. Suasana hening, lalu mendadak bising bukan kepalang setelah seseorang keceplosan "Oh my God!" dan "BIMOOO OPPAAAA!".

Bimo sontak terlonjak kaget. Kak Rosi kelihatan kesal dan tidak puas karena tidak bisa mendengar dengan jelas, sehingga menyuruh Bimo menyanyi berkali-kali. Selesai latihan rasanya suara Bimo habis. Ardi mengawalnya keluar melalui kerumunan massa (Dwi pura-pura muntah dan menyiram susu basi ke semua arah, membuat cewek-cewek menjerit dan menyingkir).

Sejak itu gosip tentangnya semakin menjadi, semua orang yakin sekolah mereka akan memenangkan lomba pensi kali ini. Dwi juga terus berkoar membanggakan Bimo, sementara Bimo jadi stres sendiri.

Di rumah, Ayah tiba-tiba memanggil Bimo setelah Bimo tiga minggu bolos mengajar di hari Rabu. Bimo langsung panas-dingin.

"Bulan depan kamu ujian tahfiz 18 juz, ya," ujar Ayah tanpa basa-basi.

Bimo melongo. "T-tapi Yah, Bimo baru hapal 16—"

"Kok lama sekali, Nak? Memangnya pulang sekolah kamu ngapain aja?"

Bimo terduduk lemas, tahu dia harus diam kalau Ayah sudah mulai mengungkit hal itu. Bimo sudah gagal memenuhi target dari ayahnya. Harus hafal 30 Juz saat lulus SD. Kenyataannya Bimo hanya sanggup 15 Juz, walau sudah pakai perjuangan darah dan air mata (kata Dwi, karena dia yang menghibur tiap kali Bimo down).

Menurut Ayah, Bimo terlalu banyak main. Bimo hampir tidak bisa ikut pramuka lagi di SMP, tapi Ayah mengalah dan memperbolehkannya ikut asalkan dia bisa khatam pas lulus SMP. Sebenarnya Bimo merasa berat, tapi dia menyanggupi daripada dia jadi no life (kata Dwi). Bimo sudah terlanjur senang punya teman banyak dan kegiatan yang beragam di pramuka selama di SD.

"Pokoknya Ayah mau lihat kamu usaha dulu, ndak Mumtaz juga ndak apa-apa. Prioritaskan ujian hapalan kamu, ndak usah ngurusin pramuka dan ini itu dulu."

Skakmat. Bimo pusing tujuh keliling.

Mulai saat itu Bimo berjuang mati-matian, berusaha memenuhi harapan ayahnya. Dia menyelesaikan semua tugas sekolah sebelum pulang, supaya di rumah bisa fokus menghapal. Selain latihan pramuka di Jumat siang dan latihan pensi di Rabu sore, semua waktu luangnya terpakai. Jam tidurnya berkurang drastis, kadang saking capeknya dia tidak tahu sedang tidur atau terjaga. Rasanya siang jadi malam, malam ya tetap malam. Gelap.

Suatu hari dia masuk ke toilet perempuan, benar-benar tidak sengaja. Sedang linglung dan butek karena hapalannya bolak-balik buyar. Teriakan cewek-cewek itu sontak menyadarkannya, plus seseorang menyiramnya dengan sisa air di ember toilet sekolah. Dia terbirit-birit lari keluar sambil memejamkan mata dan meminta maaf. Sempat kejedot tembok agak keras saat mau keluar, tapi tentu saja itu tidak dianggap sebagai bukti bahwa dia tidak bersalah.

"Anak cucu cicitnya Nabi Daud mengintip cewek di toilet sekolah!"

Biasalah, netizen butuh kabar viral terbaru. Rasanya kepala Bimo mendidih, saingan sama suhu permukaan planet Venus. Dwi menariknya kabur dari kelas sebelum ada anak rohis yang menegur dan menceramahi Bimo panjang lebar tentang hukum mengintip cewek di toilet.

"Kali ini berapa Juz?" tanya Dwi bete. Dia sudah tahu gelagat Bimo kalau sedang kepepet deadline hapalan. Katanya Bimo selalu komat-kamit dan berkantong mata tebal kayak ikan buntal yang menggelepar di pinggir sungai.

"Dua, waktunya sebulan," gumam Bimo, duduk bersandar pada dinding masjid sekolah. Bel masuk sudah berbunyi, tapi dia tidak berminat masuk ke kelas.

"Yang bener aja! Bukannya mestinya kamu enggak menghapal asal-asalan?"

"Ya makanya ini aku berusaha ngafal yang bener, walau Ayah bilang cuma pengen ngelihat usahaku dulu—"

"Basi, tau nggak?!" potong Dwi tanpa ampun. "Udah ah, kamu ke UKS aja dulu. Ntar aku bilangin Bu Guru kamu pusing dan tidur di sana."

Bimo menurut. Dwi memang sering mengesalkan, tapi di saat seperti ini, Bimo merasa bersyukur punya teman yang mengerti sepertinya.

***


Bab Tiga


***

Satya ada di sebelahnya saat Bimo terbangun sambil mengerutkan kening. Mata Bimo lengket, kepala masih pusing. Badan agak lemas. Setelah mengucek mata dia melirik jam dinding, rupanya sudah jam 2 lewat. Anak-anak pasti barusan pulang.

"Aku belum solat Zuhur," gumam Bimo.

Satya menyuruhnya minum dulu. Di atas meja ada teh manis yang sudah tidak hangat lagi.

"Kayaknya enak banget tadi kamu tidur, sampe ngorok gitu," ujar Satya kemudian nyengir.

Bimo cuma memutar bola matanya. "Dwi udah pulang, ya?"

"Katanya ada urusan." Satya mengedikkan bahu. "Kamu sakit apa, Bim?"

"Ehm... enggak sakit apa-apa. Cuma kecapekan aja, kok."

"Karena persiapan pensi?" tanya Satya, memelankan suaranya.

Bimo meringis. Terus terang sekarang dia cuma jalan autopilot saat latihan. Untungnya yang menonton sudah tidak sebanyak dulu. Masalahnya suaranya habis karena banyak membaca Qur'an.

"Kamu ngapain sih, kok bisa begini?" Rabu lalu, Kak Rosi terdengar gusar. "Ini acara udah tinggal tiga minggu lagi. Jaga kesehatan, hindari aktivitas yang membuat suara kamu serak. Pita suara kamu juga butuh istirahat. Mending kamu sekarang minum air anget dan nggak usah nyanyi dulu, deh."

Kak Rosi lalu memberi masukan terhadap penampilannya selama ini.

"Suara kamu memang bagus, kamu enggak kesulitan mencapai nada yang dibutuhkan. Tapi kalau aku nilai sebagai juri, aku bisa merasakan bahwa kamu tidak tampil maksimal. Aku nggak tahu kamu lagi ada masalah apa, apa yang membuat kamu... seolah takut ikut lomba ini... tapi jelas ada sesuatu yang menghambat potensi kamu. Ibarat masakan, walau kamu bisa ngikutin resep sesuai buku, tapi jiwa kamu enggak benar-benar tertuang di lagu ini. Jadi rasanya hambar. Apalagi akhir-akhir ini, berasa banget kalau pikiran dan hati kamu ada di tempat lain." Kak Rosi menghela napas. "Aku benar-benar berharap kamu bisa lebih serius dalam latihan, Bim."

Dengan pernyataan Kak Rosi tersebut, mulai beredarlah gosip edisi terkini. Anak cucu cicitnya Nabi Daud cuma main-main dan tidak niat ikut pensi.

Bimo terduduk lesu.

"Kamu mau mengundurkan diri dari pensi?" tanya Satya prihatin.

Bimo galau... memang sih, karena urusan ujian tahfiz ini, semangatnya ikut lomba pensi jadi turun. Dia sering mempertanyakan apa keputusannya sudah benar. Apa sebaiknya dia mundur saja dari pensi? Tapi, kalau dia bilang mau mengundurkan diri... nanti kan jadi terkesan dia membenarkan gosip itu. Semua orang akan kecewa dan marah padanya. Selain itu, masa belum tanding sudah kabur duluan? Setidaknya, kalau dia masih bersedia ikut... tidak menang pun yang penting sudah berusaha.

"Kalau lomba itu benar-benar memberatkan kamu, ntar aku bilang ke Kak Darma. Mumpung masih ada waktu tiga minggu lagi, mungkin timnya masih bisa diganti." Satya berkata dengan nada menenangkan. Bimo memandangnya, tidak menyangka Satya akan begitu perhatian.

"Aku... sebenernya ada ujian tahfiz, makanya jadwalku sekarang padat," akhirnya Bimo mengaku. "Tapi teman-teman udah ngasih aku amanat buat ikut lomba. Jadi... aku akan berusaha semaksimal mungkin."

Namun, ternyata menjaga perkataannya itu cukup sulit. Seminggu sebelum lomba, Ayah menginterogasi Bimo yang ketahuan bolos mengajar Iqra' di panti. Saat tahu bahwa Bimo ikut lomba nyanyi, Ayah marah besar dan melarangnya ikut.

Pulang sekolah langsung ke rumah, ponsel disita. Tidak boleh ikut latihan pramuka lagi sampai ujian tahfiznya selesai. Yang lebih parah, ternyata tanggal ujiannya sama dengan tanggal lomba pensi. Jadi Bimo benar-benar harus mengundurkan diri.

"Kenapa sih Ayah ngelarang aku ikut lomba nyanyi?" Setelah dimarahi Ayah, malam itu Bimo bertanya pada kakaknya, Mas Erwin. "Dulu juga gitu, main gitar enggak boleh."

Bimo meremas bantal kecil yang dipeluknya. Dulu waktu Bimo ketahuan belajar main gitar bersama anak remaja pengisi acara tujuhbelasan, Ayah sampai memukul jemari tangannya beberapa kali dengan penggaris kayu panjang yang biasa dipakainya mengajar. Tidak sampai lecet, tapi tetap perih. Rasa takut dan sakit yang mencengkeramnya pada saat itu masih membekas sampai sekarang, sehingga Bimo kapok tidak mau memainkan alat musik lagi.

"Kenapa sampe segitunya?"

Mas Erwin menarik napas panjang. "Dengar, Bim... Mas mau ngasih tahu kamu sebuah cerita dari Ibu. Ini terjadi waktu dulu, sebelum Ayah nikah."

Bimo memandang kakak tirinya itu. Mereka seayah, tapi beda ibu. Kadang ada hal tentang Ayah yang hanya diketahui oleh ibunya Mas Erwin.

"Ayah punya seorang kakak, waktu kecil anaknya baik. Tapi terus pas SMP dia mulai suka nongkrong dengan anak band. Main gitar, ngerokok. Terus suatu hari dia bilang mau ikut band itu. Kakek melarang, karena ngelihat kelakuan anak-anak band yang minum minuman keras dan entah apa lagi... tapi kakaknya Ayah bersikeras. Akhirnya dia kabur dari rumah."

Bimo tertegun, tidak tahu kalau Ayah punya kakak. "Terus gimana?"

"Ya nggak pernah pulang lagi. Nggak tahu kabarnya gimana. Ayah sedih, marah. Terluka. Sejak itu anti banget sama anak band dan segala sesuatu yang berkaitan, termasuk seni menyanyi atau memainkan musik."

"Tapi, Mas... itu kan cuma kebetulan aja. Kan enggak semua penyanyi begitu."

Mas Erwin tersenyum tipis. "Memang, tapi kalau kamu melihatnya dari sudut pandang Ayah, Mas pikir Ayah cuma ingin menjaga pergaulan kamu, supaya kamu enggak punya teman yang jelek. Buktinya Ayah ngizinin kamu ikut pramuka, kan? Ayah juga pengen agar kamu memanfaatkan waktu dengan baik, enggak menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal yang membuat kamu lalai ibadah. Mungkin dalam benak Ayah, daripada kamu nyanyi-nyanyi nggak jelas, jauh lebih baik kalau kamu baca Al-Qur'an."

Bimo mendengkus. "Ya kalau bandingannya selalu dengan ibadah sih, semua hobi juga bakal kelihatan buang-buang waktu," keluh Bimo. "Kan kadang aku butuh istirahat, Mas."

Mas Erwin menepuk-nepuk pundak Bimo.

"Kebetulan Mas emang enggak hobi, jadi buat Mas meninggalkan larangan itu bukan sesuatu yang berat. Mas cuma mandang ke Ayah. Ayah ingin anaknya enggak jadi penyanyi atau pemain musik. Ya Mas taat aja, karena Mas ingin menyenangkan orang tua. Toh permintaan Ayah juga bukan hal yang jelek, kan? Selama Mas bisa, ya Mas berusaha menjalankannya."

Bimo mengusap wajahnya. "Ya Bimo juga selama ini gitu, Mas. Waktu orang bilang suara Bimo bagus, bukan berarti Bimo lantas mau jadi penyanyi. Enggak tau kenapa, Bimo enggak kepikiran ke sana. Nggak ngerasa kayak itu bakal jadi profesi yang Bimo pilih, gitu. Bimo cuma seneng aja sesekali melakukannya. Gimana ya jelasinnya... mungkin kayak lagi perjalanan mudik terus pas lagi haus kebetulan ketemu Indomaret. Bawaannya seneng aja bisa mampir beli minuman. Jadi bukan berarti tiap ketemu Indomaret harus berhenti, gitu."

Mas Erwin tertawa kecil. "Ya udah Bim, mungkin harusnya dari awal kamu bilang kalau kamu dapat tugas dari sekolah, supaya Ayah enggak salah sangka. Kalau dari awal kamu bilang baik-baik, Mas pikir Ayah mau ngasih izin. Sebenarnya ini karena kamu ketahuan bolos ngajar kan, makanya Ayah jadi marah."

Bimo menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Jazakallah khoir Mas... tapi ini ya aku nggak bisa lanjut juga. Jadwalnya bentrok dengan jadwal ujian tahfiz. Hari Sabtu pagi aku ujian. Malamnya acara lomba."

"Kamu lomba di mana? Mau Mas antar? Kamu nyusul aja, abis ujian langsung ke sana."

Bimo menengadah penuh harap. "Yang bener, Mas?"

"Iya, gapapa. Tapi ntar kita naik motor ya, Mas nggak enak mau minjem mobil Ayah. Kamu juga harus ngomong dulu sama Ayah. Jangan kabur dari rumah, oke?"

Bimo cengar-cengir. "Iyaaa... insya Allah nanti Bimo ngomong sama Ayah."

"Nah, gitu dong. Jangan cemberut mulu, ntar gantengnya luntur hahaha..."

***


Bab Empat


***

Sejujurnya, Bimo takut pada Ayah.

Ayah itu orangnya pendiam, tapi kalau sudah bicara, suaranya menggelegar. Setiap memberi perintah atau melarang maunya harus langsung ditaati. Terutama masalah ibadah.

Malas-malasan waktu disuruh salat? Oh, rotan beraksi. Susah dibangunkan salat malam dan subuh? Bisa kena siram. Kebablasan salat wajib karena ketiduran? Diseret ke kamar mandi, kena kafaroh istigfar seribu kali, plus tambahan bacaan Al-Qur'an dan piket bersih-bersih di panti.

Sebenarnya semua masih dalam batas wajar. Cuma... entah kenapa selama ini Ayah lebih sering menasehati dan bersikap tegas pada Bimo. Jarang memuji pekerjaannya yang baik. Sementara Ayah tampak lebih sabar dan memberikan dukungan pada adik-adiknya Bimo yang perempuan.

Pada Mas Erwin? Bimo belum pernah melihat Ayah memarahinya. Mungkin karena Mas Erwin itu 12 tahun lebih tua dari Bimo dan sudah paham bagaimana cara berbicara dan bersikap di depan Ayah.

Yah, pokoknya... Bimo jadi agak iri pada saudara-saudaranya. Dia ingin Ayah senang padanya. Dia kan juga ingin disayang. Mungkin karena itulah, tiap kali Bimo mendengar suara keras dan menerima tatapan kecewa dari Ayah, rasanya seperti ditampar. Dia merasa seperti jadi anak yang gagal.

Oleh karena itu, ketika Bimo minta waktu bicara dengan Ayah selepas subuh, rasanya deg-degan setengah mati. Mereka bicara berdua saja, di teras atas mushola panti yang suasananya relatif sepi. Bimo menyuguhi Ayah teh manis dan pisang goreng. Dengan keringat dingin dan pembukaan yang tersendat, dia lalu mengemukakan pemikirannya.

"Bimo mohon sekali ini aja, Ayah... soalnya waktunya udah mepet. Kalau Bimo mengundurkan diri sekarang, belum ada penggantinya. Kalau bisa dipilih dengan cepat pun, mereka belum latihan sama sekali. Kasihan teman-teman yang lain, Ayah... mereka berharap ada yang bisa mewakili sekolah dengan baik di pentas seni ini. Mereka udah memberi amanat pada Bimo, Bimo ingin menunaikannya dengan baik," pinta Bimo.

"Bimo tetap akan ujian tahfiz dulu, baru setelah itu malamnya ikut lomba. Nanti Mas Erwin mengantar pakai motor."

Ayah menatap Bimo lekat-lekat, lalu menghela napas. "Kamu tahu, Nak, kenapa Ayah melarang kamu menyanyi?"

Bimo melirik Ayah dengan takut. "Kemarin... Mas Erwin cerita tentang... kakaknya Ayah," gumamnya. Ayah tidak langsung menimpali perkataan Bimo. Ayah tampak mendengarkan dengan sabar. Bimo lalu memutuskan untuk menumpahkan curahan hatinya.

"Sebenarnya selama ini... Bimo pikir Ayah melarang Bimo nyanyi atau main musik karena dosa, gitu... tapi, Bimo ngelihat anak rohis ada yang nyanyi juga kok, walau syairnya bernada dakwah. Ada juga yang cuma dengerin lagu aja, enggak ikut nyanyi. Ada yang main musik pas ada pesta nikahan doang. Makanya... Bimo merasa Ayah nggak adil udah melarang Bimo dengan keras."

Ayah lantas kelihatan agak prihatin. Lalu berdeham dan mengambil nada menjelaskan seperti biasa saat berceramah di depan umum. Tapi kali ini suaranya tenang, terasa lebih personal.

"Begini, Nak... untuk masalah agama, kamu jangan hanya melihat dan meniru pengamalannya orang lain. Si A kelihatannya soleh, lalu kamu ikutin semua perbuatannya begitu saja. Dalam beribadah, kamu harus punya ilmunya.

"Kalau kamu benar-benar ingin tahu apakah bernyanyi atau bermain musik itu dosa atau tidak, kamu harus mempelajari dalilnya. Ikuti pedoman yang sebenarnya dari Allah dan Rasul. Hukumnya bagaimana, apakah ada keringanan, mana yang boleh dan yang tidak. Baru kamu ambil keputusan sendiri, apa yang harus kamu perbuat. Jangan melihat pengamalan teman kamu dan menyimpulkan dari sana.

"Kenapa? Karena kepahaman dan kemampuan ibadah masing-masing orang itu berbeda.

"Pengamalan itu butuh proses. Ada yang begitu dapat hidayah bisa langsung mengamalkan—beruntung sekali! Ada yang hijrahnya sejengkal demi sejengkal, pelan-pelan mengubah diri dalam meninggalkan larangan Allah dan mengerjakan perintah-Nya. Karena kondisi pengamalan orang yang beragam seperti itulah, kamu nggak bisa meniru amalan seseorang begitu saja.

"Kamu harus pelajari ilmunya. Adapun setelah itu kamu lantas terseok-seok dalam mengamalkan... ada perintah yang kamu baru mampunya segini... ada larangan Allah yang rasanya sulit untuk kamu tinggalkan, atau entah bagaimana terpaksa kamu kerjakan... ya perbanyaklah istigfar. Kamu sadar bahwa kamu salah, toh? Jadi minta ampunlah pada Allah. Minta agar Allah melapangkan hati kamu dan memudahkan kamu dalam ketaatan.

"Jadi untuk masalah nyanyi dan main musik itu dosa atau tidak, sekarang ayo kita kaji ilmunya. Setelah itu coba kamu amalkan sesuai kemampuanmu. Kira-kira begitu, Nak," ujar Ayah menutup nasehatnya.

"Sedangkan untuk masalah salah pergaulan seperti yang telah terjadi pada pamanmu... yang dikatakan Mas Erwin itu memang benar. Ayah yakin kemarin masmu sudah memberikan arahan yang baik. Intinya Ayah tidak keberatan kamu punya teman dan kegiatan di luar sekolah, Nak. Ayah hanya ingin kamu memilih teman yang baik dan kegiatan yang bermanfaat. Kamu bisa mengerti, ya?"

Bimo menarik napas perlahan, lalu mengangguk. Tidak menyangka Ayah akan bicara panjang lebar seperti ini. Rasanya spesial. Bimo merasa begitu diperhatikan.

Barangkali... sebenarnya dari dulu Ayah justru lebih memerhatikannya daripada saudara-saudaranya. Hanya saja, kondisi dia atau ayahnya sedang emosional, sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak diterima dengan maksimal.

Nafsu dan egonya membuat dia berprasangka buruk, mengira Ayah selalu kecewa dan mengkritiknya. Astagfirullahalazim...

"Mengenai lomba pentas seni pramuka kamu, Ayah tidak tahu kondisinya seperti itu. Kalau kamu yakin bisa mengatur waktunya, ya sudah lanjutkan saja."

Bimo perlahan tersenyum, memandang Ayah yang menatapnya penuh pengertian.

Hari pentas seni datang dengan cepat. Bimo sudah menyelesaikan ujian tahfiznya dengan sungguh-sungguh. Mas Erwin mengantar Bimo dan menonton acara lomba di dekat para kakak pembina. Masalah dengan Ayah sudah selesai, Bimo tidak lagi sembunyi-sembunyi.

Rasanya lega.

Dia mencurahkan semua dalam penampilannya malam itu. Menghayati dengan sepenuh hati. Suaranya merengkuh jauh ke luar panggung, menarik orang untuk mendekat. Menuturkan sebuah kisah yang menggetarkan bilik-bilik hati.

Malam sunyi senyap saat Bimo selesai menyanyi. Dari tempat para pembina, Kak Rosi memandangnya lamat-lamat dengan air mata di pipi, kemudian mengangkat dua jempol. Bimo tersenyum lebar dan memberi salam penutup. Panggung lalu meledak dengan riuh tepuk tangan dan teriakan penonton. Teman-teman seregunya memeluknya erat.

Bimo menarik napas puas. Tugas-tugasnya sudah terselesaikan dengan baik.

Seminggu setelah acara pentas seni itu, dia mentraktir semua anggota Regu Elang makan-makan.

***

SELESAI

Selasa, 15 September 2020

Character - Saka

Saka

Oleh: Caritra Sari





***

Bab Satu

Kalau Saja Aku Bisa Menyelamatkanmu Sebagaimana Kamu Menyelamatkanku

***

Tahun keenam Saka di sekolah dasar rasanya begitu berat.

Persis sebelum ujian kenaikan kelas 6 Saka kecelakaan. Pemulihannya cukup lama sehingga dia tidak bisa ikut ujian, jadi dia terpaksa mengulang kelas 5. Temannya yang lama kini bergaul dengan sesama kelas 6, sibuk dengan persiapan ujian kelulusan. 

Saka sudah bukan bagian dari mereka lagi, sedangkan teman sekelas yang baru segan mengobrol dengannya. Sebagian menyangka dia murid idiot atau bermasalah, sehingga harus dihindari.

Anak ekskul PMR memang masih menyapanya, tapi latihan PMR kan hanya seminggu sekali. Tidak punya teman dekat, sehari-hari Saka merasa terasing. Tidak ada yang mau duduk di sebelah Saka, saat istirahat dan makan siang dia selalu sendiri.

Di rumah sudah sepi, di sekolah juga sepi.

Kalau saja Saka tidak punya biola untuk melampiaskan rasa frustasinya, mungkin dia bisa gila.

***

Pagi itu ada murid pindahan dari SD Pembangunan Jaya, sekolah swasta bergengsi di Bintaro. Namanya Badai. Bu Guru menyuruhnya duduk di samping Saka. 

Anaknya easy going dan murah senyum, tubuhnya tinggi kekar dan suaranya nge-bass. Waktu berkenalan, Saka kaget karena Badai sudah berusia 13 tahun, padahal baru kelas lima.

"Waktu kecil aku tinggal di rumah Papa di New Zealand. Setelah pindah ke Jakarta aku baru masuk SD, saat umurku 8 tahun," jawabnya sambil tertawa. 

Tentu saja dia tidak mempermasalahkan Saka yang harus mengulang kelas lima karena kecelakaan dan tidak bisa ikut ujian.

Dengan cepat mereka bersahabat. Badai anak yang pintar, nilainya rata-rata di atas Saka. Dia senang belajar bersama Saka, sama sekali tidak keberatan bila Saka bertanya dan minta diajari. 

Mereka selalu makan siang bersama dan nyambung kalau ngobrol. Badai orangnya perhatian. Dia suka mengirim pesan pribadi ke Saka, baik itu berisi tebak-tebakan, meme, atau sekadar menemaninya belajar di malam hari. Hari-hari sepi Saka pun berakhir.

Badai ikut ekskul Basket dan saat istirahat lebih sering main di lapangan, tapi sepulang sekolah kadang dia suka nimbrung saat Saka ikut kegiatan PMR. Dia anak tunggal, jadi di rumah tidak banyak kegiatan. 

Dia pernah iseng mendatangi Saka saat les biola dan piano. Dia mengaku tidak jago main musik, tapi dia suka bernyanyi. Dia juga beberapa kali main ke rumah Saka, sempat bertemu Kak Melia dan Mami.

Saka tidak mengira mempunyai teman dekat bisa membuatnya sebahagia ini. Selama ada sahabat yang mendukung, rumahnya yang selalu sepi dan jadwal kegiatannya yang seabrek tidak lagi membuat dadanya sesak. 

Saka merasa amat bersyukur memiliki sahabat seperti Badai. Rasanya hidup Saka sekarang sudah sempurna.

Tentu saja, tidak ada yang abadi di dunia ini.

Dua bulan sebelum ujian kenaikan kelas enam, Badai sering terlihat melamun. Saka mencoba bertanya, barangkali ada yang dapat dia bantu, tapi Badai hanya tersenyum tipis dan menggeleng.

"Tetap jadi sahabatku aja, Sak. Itu udah amat membantu."

Setelah ujian selesai Badai menginap di rumah Saka. Itu pertama kalinya Mami mengizinkan Saka bermain online game--mereka main menjadi kru bajak laut. Tengah malam Saka terbangun.

Kamarnya gelap, hanya ada cahaya lampu taman yang masuk lewat sela-sela tirai jendela yang terbuka. Di luar hujan turun deras. Aroma tanah yang segar menemani udara dingin malam itu.

Badai duduk di atas kasur gulung di samping jendela, memeluk lutut dan bersandar pada tempat tidur Saka. Ponselnya tergeletak di dekat kaki. Pandangannya terpaku pada lampu taman, alisnya berkerut, air mata mengalir seperti hujan yang sunyi.

Saka lalu duduk di sampingnya, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia harus bilang apa?

"Dai?" panggil Saka akhirnya. "Kamu kenapa?"

Badai tidak menjawabnya, lama. Saka hanya diam menemani, hampir tertidur ketika Badai menjawab dengan suara serak.

"Orang tuaku bercerai, Sak. Papa mau balik ke New Zealand."

***

Saka tidak bertemu Badai selama liburan kenaikan kelas. Percakapan mereka di chat juga tersendat. Saka amat khawatir. Dia tahu Badai sangat mencintai papanya, tapi kini papanya tega meninggalkan dia dan mamanya. 

Badai sering mengelak saat dia tanyakan kabar, termasuk ketika Saka meneleponnya. Tak jarang telepon dari Saka tak terangkat.

Kelas enam mereka sekelas lagi. Badai memilih tempat duduk di pojok belakang kelas. Saka lalu duduk di sampingnya. Sebulan tak bertemu membuat Saka pangling. 

Rasanya Badai tambah tinggi, tampak lebih dewasa. Sekarang wajahnya lebih tirus dan selalu serius, jarang tersenyum. Lirikan matanya yang tajam membuat teman sekelas mereka takut bicara dengannya. 

Dia jadi lebih pendiam. Dia juga sering terlambat datang dan selalu terlihat lelah. Waktu istirahat dia memilih tidur di kelas daripada main basket atau makan siang.

"Dai, makan dulu. Aku bawain makanan nih." Saka membongkar kotak bento miliknya. Badai mengangkat kepala dari meja. Saka memberikan kotak bergambar Batman padanya, sedangkan dia sendiri mendapat kotak bergambar Robin. Itu adalah kotak makan hadiah dari Papi saat Saka masuk SD, dia selalu merawatnya dengan baik sehingga masih awet sampai sekarang.

"Ini kotak makanmu dari TK?" Badai tampak geli, tapi dia menerima kotak itu dengan senang hati. Isinya nasi, telor dadar, dan sosis goreng. Saka yang masak sendiri. Melihat Badai makan dengan lahap Saka jadi senang. Dia pun berniat membawakan makanan lagi untuknya.

Awal tahun pelajaran ini benar-benar tidak mulus bagi Badai. Dia sering tidak mengerjakan tugas, kadang malah bolos. Dia juga ketiduran di kelas.

"Aku lembur kerja, Sak," akhirnya dia mengaku. Sejak ditinggal papanya, keluarga mereka tidak punya penghasilan tetap. Tentu saja dia lebih memprioritaskan bekerja daripada belajar. Makin lama nilai-nilai Badai makin hancur.

"Tolongin aku, Sak… aku enggak sempat ngerjain tugas-tugas sekolah," suatu hari akhirnya Badai berkata dengan lirih. Dia kelihatan kalut dan berantakan. 

Sudah tiga hari berturut-turut dia disetrap karena tidak mengerjakan PR, Bu Guru mengancam akan memanggil orang tuanya kalau ini terus berlanjut.

"Mamaku enggak punya uang. Tahun depan mungkin aku akan putus sekolah," kata Badai getir. 

"Aku mohon, Saka… aku mesti bisa menyelesaikan sekolahku sekarang, supaya minimal aku punya ijazah SD. Kamu tahu kan… aku enggak akan minta bantuan kamu kalau enggak kepepet banget. Cuma kamu yang aku percaya, Saka…"

Akhirnya Saka setuju. Dia bersedia mengerjakan PR dan membuatkan catatan rangkuman pelajaran agar Badai bisa belajar dengan cepat sebelum ujian.

Awalnya sulit untuk membagi waktu, karena jadwal kegiatan Saka sendiri sudah padat. Saka mengorbankan seluruh waktu luangnya untuk mengerjakan PR Badai. Mereka berdua semakin sibuk dan jarang bertemu di luar sekolah, chat dari Badai juga berhenti.

"Nggak ada uang buat beli pulsa dan kuota internet, Sak. Maaf ya…" kata Badai waktu Saka menanyakan kabarnya. Saka berusaha hadir untuknya, untuk membalas budi baik Badai yang menolongnya saat dia membutuhkan. Namun, sepertinya usaha Saka belum cukup baik. 

Saka… merasa gagal sebagai teman. Dia tidak bisa menyelamatkan Badai, yang mulai bergaul dengan anak nakal. Badai sekarang merokok dan bergabung dengan geng bully.

Saka pernah memergokinya mengantongi uang hasil memalak. Saka mencoba menasehati, tapi Badai tidak terima. Mereka lalu bertengkar.

"Kamu enggak ngerti!" teriak Badai waktu itu. "Orang tuamu baik-baik saja, kamu berkecukupan, otakmu encer. Masa depan kamu terjamin. Kamu pasti akan jadi dokter yang kaya raya seperti yang diharapkan keluargamu. Kamu enggak akan pernah mengerti apa yang harus aku hadapi setiap hari, oke!"

Sejak itu Badai berbalik membenci dan menjauhinya. Dia juga mulai berlaku kasar dan menekan Saka.

Saka benar-benar merasa kehilangan.

***

Bab Dua


Seandainya Aku Bertahan Seperti Ini, Apakah Nanti Kamu Akan Berubah?

***

Sudah jam tujuh malam ketika Saka menabrak pintu belakang rumah dengan lengan atas. Membungkuk memegangi lutut, batuk-batuk. Sesak. Napas pendek, kepala sakit, mata perih, pandangan mengabur. Buru-buru dia merogoh inhalernya di tas, lalu menyemprotkannya ke hidung.

"Saka?" panggil Kak Melia dari dalam. "Kok baru pulang?"

Saka memejamkan mata, masih terengah-engah. Terdengar langkah Kak Melia mendekat. Saka bangkit sembari menekan dada, mengatur napas. Saat Kak Melia muncul dari balik pintu dapur, Saka mencoba tersenyum.

"Dari mana saja?" tanya Kak Melia dengan tangan di pinggang. Dia mengerutkan kening. "Kok bau rokok begini?"

"Latihan PMR," gumam Saka. "Tadi di angkot duduk di sebelah bapak-bapak yang merokok terus."

Kak Melia menghela napas. "Kamu ini… bukannya ganti angkot saja. Ya sudah, mandi dulu sana, baru makan," perintah Kak Melia.

Saka mengiyakan, lalu segera masuk. Saat menunduk di depan kaca kamar mandi tangan kirinya mencengkeram pinggiran wastafel dengan kencang. Jemari kanannya yang tadi diinjak Badai sakit sekali, lecet dan bengkak. Rusuk memar, seluruh badan ngilu.

Bahu Saka gemetar, napas masih berantakan.

Persis seperti perasaannya saat itu.

***

Peraturan keluarga Saka cukup ketat. Mami sudah mendidik dia dan kakak-kakaknya untuk mandiri. Mulai dari membersihkan rumah, masak, dan mengurus diri sendiri. Mereka diajari untuk hidup sederhana, tidak boros, dan tidak mengeluh bila menghadapi kesulitan.

Mereka juga harus bisa mengelola uang jajan masing-masing. Tidak ada penambahan kalau habis sebelum waktunya. Badai sudah mengambil semua uang saku Saka minggu ini, Saka sudah tidak punya ongkos untuk naik angkot. Jadi pagi ini dia berangkat lebih awal karena mau jalan kaki.

Sampai di sekolah pas bel berbunyi. Saka memberikan buku PR Matematika Badai--tulisannya hampir tidak terbaca karena tangannya terlalu sakit untuk menulis. Dia sendiri tidak mengerjakan PR. Tentu saja dia disetrap.

Ini pertama kalinya Saka dihukum berdiri di depan kelas. Wajahnya panas, tapi dia cuma bisa menunduk, menatap kosong ke lantai. Berusaha tidak memikirkan bisik-bisik teman sekelasnya.

Katanya nilainya si Saka sekarang menurun lho.

Bukannya emang dia tinggal kelas?

Eh, enggak! Dulu dia sering rangking satu lho.

Iya, dia enggak pernah dapat nilai tertinggi lagi.

Sekarang kok sampai enggak ngerjain PR gitu ya?

Mungkin karena terpengaruh temannya si Badai itu kali?

Oalah.. memang mereka deket banget sih. Sayang ya, padahal tadinya mereka anak baik-baik.

Ssh… diam, Bu Guru nanti marah.


Saka cuma bisa memejamkan matanya yang perih.

***

"Tadi jam istirahat kok enggak datang?" tanya Friska ketika Saka tiba di perpustakaan sepulang sekolah. 

Saka meringis. Tadi dia mencuri waktu untuk mengerjakan PR IPA. 

"Kalau kamu enggak becus begitu mendingan mengundurkan diri, deh."

Tidak mungkin. Mami sudah tahu dia terpilih jadi wakil sekolah untuk Olimpiade Sains. Kalau dia mengundurkan diri, Mami pasti kecewa.

"Maaf, Friska," gumamnya. "Hari ini dikasih tugas apa sama Pak Fauzi?"

Friska mendengus, lalu memberinya sebundel lembar soal pembinaan tim olimpiade. Belum lama membahas soal, seseorang tiba-tiba menepuk pundak Saka dengan keras.

Badai. Anak itu melempar buku PR-nya ke depan Saka, lalu ngeloyor pergi. Tidak mengindahkan tatapan Friska, Saka segera menyimpan buku tersebut ke dalam tasnya. Friska melotot dengan tatapan tajam.

"Kamu mencontek PR Badai?" tuduh Friska.

"Enggak, kok!" bantah Saka cepat. Pupil mata Friska lalu membesar.

"Kamu mengerjakan PR-nya Badai?" desis Friska. "Sejak kapan?"

Saka berpaling dan pura-pura tidak tahu apa maksudnya.

"Aku nggak nyangka hubungan kalian seperti itu," kata Friska. Saka tidak mau meladeninya, jadi dia diam saja.

"Kamu sadar, kan, kalau kamu sedang di-bully sama Badai?"

Saka menekan pensilnya terlalu kuat. Ujung pensil mekanik itu patah.

"Apa lagi yang sudah dia lakukan? Meminta uang jajanmu?"

Saka meringis. Tebakan Friska tidak sepenuhnya salah.

Suatu hari Saka sedang tidak enak badan. Dia tidak sempat mengerjakan PR Badai, sehingga anak itu disetrap Bu Guru. Sepulang sekolah Badai memukul Saka di gudang belakang. Namun, keesokan paginya dia mencegat saat Saka memarkir sepeda.

"M-maafin aku, Saka… a-aku khilaf," bisik Badai sambil menangis tanpa suara. "Nggak tahu kenapa kemarin rasanya marah banget. Urusan rumahku berantakan. A-aku udah melampiaskannya pada kamu. Padahal kamu cuma mau bantuin aku. Aku jahat banget… aku minta maaf--"

Saka tertegun, memperhatikan badan Badai yang gemetar. Hatinya luluh.

"Nggak apa-apa, Dai. Kamu… mau cerita? Mungkin kamu bakal lebih lega."

Badai memalingkan pandangan ke bawah, tampak rapuh. Dia lalu menggeleng, menutup rapat perasaannya. "Bukan apa-apa, Sak. Biasa, cuma masalah uang. Kemarin ada debt collector yang meneror Mama."

Entah apa yang membuat Saka menawarkan uang sakunya sendiri. Wajah Badai saat itu seperti orang kehausan yang tidak menyangka akan menemukan oase.

"Kamu yakin? A-aku mungkin enggak bisa mengembalikannya, Sak."

"Nggak usah dipikirin… ini cuma sedikit. Mungkin hanya bisa nambahin uang makan keluargamu hari ini."

Saka kira masalah itu sudah selesai, namun ternyata tidak. Beberapa hari kemudian Badai meminta uang Saka, sedangkan Saka sudah memakai uang sakunya untuk fotokopi. Badai menuduh Saka berbohong dan memukulnya. Saka janji akan memberinya di hari Senin, setelah menerima uang saku mingguan.

Setelah menerima uang tersebut Badai meminta maaf, beralasan dia sangat terpaksa. Saka kembali memaafkannya. Semua lalu terulang kembali. Begitu terus sampai akhirnya Saka pasrah. Dia menyetorkan semua uang jajan mingguannya setiap Senin pada Badai.

Memikirkan hal itu sebenarnya membuat Saka merasa malu sekali, tapi daripada dipukuli terus, lebih baik dia menyerahkannya terlebih dahulu.

Terus terang Saka sudah tidak bisa memahami temannya itu. Tiap kali Badai tersadar dan meminta maaf, secercah harapan muncul di hati Saka. Mungkin Badai masih bisa insyaf. Saka hanya perlu… tetap bersabar.

Tentu saja dia tidak mungkin bisa menjelaskan semua itu pada Friska. "Enggak usah ikut campur, Fris. Ini bukan urusanmu," kata Saka akhirnya.

"Terus kamu mau ditindas begitu sampai kapan? Kamu enggak capek?" tanya Friska tidak puas.

Saka sudah sangat capek, tapi… memangnya dia bisa berbuat apa? Paling tidak dia harus bisa menanggung semua ini sampai mereka lulus ujian. Toh kalau benar Badai putus sekolah, mereka tidak akan bertemu lagi.

Yakin? Apa yang menghalangi dia untuk mencegatmu di tengah jalan? Selama kamu masih sekolah di sekitar sini, bisa-bisa dia memalakmu sampai kamu lulus SMA. Suara hati kecilnya berkata, membuatnya takut. Saka menelan ludah.

"Badai bukan seperti yang kamu bayangkan. Sebenarnya dia itu baik, cuma sedang banyak masalah saja," kata Saka mencoba meyakinkan Friska--dan dirinya sendiri.

"Kamu kok malah ngebelain dia sih? Kamu nyadar nggak sih kalo kasus bullying ini udah parah banget, sampai korbannya sendiri membela penindasnya?"

Saka menunduk, lalu berbisik, "Lalu aku harus gimana, Fris?"

"Kamu udah nggak bisa mengatasi ini sendirian, Saka. Cobalah cari pertolongan orang dewasa. Cerita ke orang tuamu, atau ke guru BK. Atau lebih baik lagi, kamu bisa curhat ke mamaku. Dia psikolog. Kalau kamu mau aku bisa bantu kamu untuk daftar konsultasi."

Saka melongo menatap Friska. Dia tidak mungkin bilang ke Guru BK, nanti masalahnya membesar. Pihak sekolah bisa tahu kasus bullying Badai pada siswa lain dan Badai bisa diskorsing atau lebih buruk, dikeluarkan dari sekolah.

Cerita ke Mami? Dia malu dan takut. Mami pasti marah kalau tahu dia menyerahkan sendiri uang jajannya ke Badai.

Mau ke psikolog? Uangnya dari mana? Sekarang saja dia terpaksa memecahkan celengan yang tak seberapa untuk membeli bahan makanan agar dia bisa masak dan makan sepulang sekolah.

Tapi… barangkali lebih baik Badai yang konsultasi ke mamanya Friska, bukan? Mungkin saja beliau bisa menangani Badai sampai insyaf. Penderitaan Saka otomatis akan berakhir tanpa harus konfrontasi dengan sekolah atau orang tua. Saka hanya perlu… membiayainya.

Saka meringis. Mungkin dia bisa mengambil tabungannya di bank? Dia harus memikirkan mesti bilang apa ke Mami saat minta izin menarik uang di bank. Masalahnya, bagaimana caranya dia bisa meminta Badai untuk konsultasi?

"Nanti kupikirkan," putus Saka akhirnya, lalu tersenyum pada Friska. "Terima kasih banyak, Fris."



***

Bab Tiga


Aku Cuma Tidak Ingin Kamu Terus Begini

***

Seperti biasa, hari Senin Saka menemui Badai di gudang belakang sekolah. Tampaknya hari itu suasana hati Badai sedang jelek.

"Mana uangmu, cepat!" hardik Badai. Saka merogoh kantong, cepat menyerahkan uang itu. Badai mengambilnya dengan kasar dan langsung berpaling.

"Dai… Badai, tunggu. Mamanya Friska seorang psikolog. Kalau kamu butuh cerita tentang kesulitanmu--"

"Gila apa kamu??" Badai langsung berbalik dan mendorong badan Saka ke tembok dengan keras.

"Kamu ngadu ke cewek itu?!"

"Enggak! Enggak, Dai, jangan marah dulu. Friska cuma nanya kenapa aku sempat enggak datang ke pertemuan--"

Badai membenturkan kepala Saka. Saka memekik kesakitan, tapi Badai tidak mengindahkan. "Terus kamu bilang apa?!"

"Aku enggak jawab, lalu dia bilang kalau aku butuh bantuan, ibunya bisa membantu."

"Dasar bodoh!" Badai melepasnya tiba-tiba. Saka terduduk jatuh. Kepalanya sakit sekali, seperti ada kembang api yang meledak di dalam. Darah menetes di lantai. Dia mimisan.

Badai lalu tertawa miris. "Kamu pikir aku butuh psikolog?! Aku butuh uang, bukan ngabisin uang ke psikolog!"

Saka bangkit dengan gemetar. "A-aku bantu biayanya, Dai. Aku akan pakai tabunganku--"

"Kamu punya tabungan?" tanya Badai tajam.

Saka membeku, menyadari telah salah ucap.

"Bawa ke sini tabunganmu," perintah Badai.

Saka mundur selangkah, lamat menggeleng. "Aku nggak bisa pakai sembarangan, harus izin Mami."

"Terus kamu mau cerita tentang aku ke mamimu?!"

Saka tidak bisa menjawab. Kalau dia bilang akan berbohong, Badai akan menyuruhnya berbohong demi mencarikan tabungannya untuk kemudian dia ambil. Kalau dia bilang akan jujur ke Mami, Badai pasti akan marah.

"Kamu punya waktu tiga hari," bisik Badai. "Kalau tidak, pacarmu si Friska itu tidak akan selamat."

Saka memandangnya terkejut, tapi Badai sudah keburu pergi sebelum dia bisa bereaksi. Saka berdiri mengepalkan tangan, gemetar. Mulutnya asin oleh darah. Dia menengadahkan kepala sejenak, menunggu sampai mimisannya berhenti.

Menarik napas panjang, Saka lalu membuka baju kemeja seragam dan mencucinya di bawah keran air di dekat gudang. Untung kaos dalamnya berwarna hitam, jadi tidak begitu kelihatan nodanya.

Saat itu dia melihat seorang siswa berjalan ke arahnya. Tidak mau kepergok, dia lalu menyambar kemejanya yang basah dan beranjak kabur ke lawan arah. Saka memakai bajunya sembari jalan dan hanya bisa diam ketika duduk di samping Badai di kelas.

Tentu saja Saka tidak akan menuruti permintaan Badai.

Kalau dia sengaja tidak datang, apa Badai akan semakin marah? Tapi kalau dia lapor ke Guru BK, dia harus bilang apa?

Pak saya dipalak oleh teman sebangku saya? Dia sama sekali tidak punya bukti.

Lapor ke Mami? Sama saja. Selain tidak ada bukti, dia juga malah akan membuat malu dan merepotkan maminya.

Masa sih dia harus datang untuk dipukuli? Memangnya kalau dia babak belur masalahnya akan selesai? Dan lagi Badai tidak main-main memakai kekuatannya. Saka sempat menyangka kepalanya juga bocor waktu Badai menghantamnya ke tembok. Kalau dia pasrah tidak melawan, bisa-bisa dia mati atau koma!

Apa dia harus bilang ke Friska? Tapi bagaimana Friska bisa membantu? Selain itu Badai juga mengancam akan mencelakainya.

Sampai pada hari H Saka belum menemukan jawaban. Dia tidak punya rencana apa-apa, selain mencoba kabur kalau Badai benar-benar mengamuk.

Kamis pagi Badai datang lebih dulu dari Saka. Hati Saka mencelos saat melihat Badai menatapnya tajam, lalu memberinya kode untuk keluar kelas. Mereka jalan beriringan, Badai setengah mendorongnya untuk jalan lebih cepat.

"Jadi? Mana uangmu?" tanya Badai ketika mereka sampai di lokasi. Tempat mereka biasa bertemu itu tersembunyi.

Saka memandangnya gugup. "Aku nggak bisa ambil tabunganku, Dai…"

"Nggak bisa apa nggak mau?!" hardik Badai.

"Enggak bisa," gumam Saka, menguatkan diri. Mungkin… mungkin dia bisa mencoba bicara untuk terakhir kalinya. "Dan enggak mau."

"Apa katamu?!" Badai meninju perutnya. Saka menunduk sakit. Pukulan Badai selalu membuatnya memar, tapi anak itu tidak pernah memukulnya di wajah atau tempat lain yang mudah terlihat.

"A-aku enggak mau kamu begini terus," bisik Saka dengan nada memohon. "Yang kamu lakukan ini salah, Badai…, kamu sadar, kan? Kalau aku enggak menegurmu, berarti aku juga turut bersalah atas kelakuanmu mem-bully siswa lain."

"Sok suci rupanya. Kamu sudah jijik tidak mau berteman denganku? Kamu mau meninggalkanku di saat aku butuh kamu, Saka? Kamu benar-benar pengkhianat, sama saja seperti Papa!" geram Badai. Dia menghantam perut Saka lagi. Saka langsung roboh berlutut di depannya. Mengabaikan rasa sakit yang membelitnya, Saka meraih kaki Badai.

"Aku masih di sini, Dai. K-kalau akhirnya sama-sama dihukum, lebih baik aku bolos dan ikut membantumu bekerja daripada harus berbohong dan mencuri uang untukmu--"

Badai kembali menjambak rambutnya.

"Kamu tahu apa tentang pekerjaan yang harus kulakukan, heh?! Anak sok suci seperti kamu enggak akan bertahan barang sedetik pun. Kamu enggak tahu apa-apa tentang aku, cuma sok mengatur aku harus ke psikolog lah, harus berhenti memalak dan mencari pekerjaan halal lah. Berengsek!" umpat Badai. Dia mendorong kepala Saka sampai tersungkur dan mencekiknya.

"Kamu punya kemampuan materi buat menolong aku, tapi kamu malah menolak. Aku benci orang-orang kayak kamu, cuma bisa omong doang! Dasar payah! Pantas orang tuamu selalu meninggalkanmu sendiri di rumah, mereka pasti tidak menginginkanmu. Mamimu pasti tahu sebenarnya kamu enggak mau jadi dokter, makanya dia enggak pernah memperhatikanmu. Biar mampus sekalian--"

Saka mencengkeram pergelangan tangan Badai, tidak bisa bernapas. Dia sudah yakin akan mati ketika seseorang tiba-tiba menarik dan menampar Badai dengan keras.

"Nggak tahu diuntung! Dinasehatin baik-baik malah mukulin orang!"

Orang itu lalu bergelut dengan Badai. Sepertinya mereka imbang, sampai sebuah suara mengagetkan mereka. Sementara Saka sendiri merasa asmanya mulai kambuh.

"Terus aja, Dai. Kamu udah live dari tadi. Hey guys makasih udah nonton bareng. Kita lagi bersama Badai Anderson dari kelas 6A SDN 03 Bintaro. Kalian lihat kan tadi dia udah mukulin temen sekelasnya, dan kini dia lagi berantem sama anak kelas sebelah. Begitu siaran ini selesai link-nya akan terkirim pada kepala sekolah--"

"Sial! Awas kalian!!" Badai langsung lari tunggang langgang.

Anak yang memegang kamera itu tertawa. Dia mematikan kameranya.

"T-tolong, inhaler-ku tadi terlempar. Asmaku kambuh," pinta Saka dengan suara tercekik.

Anak yang tadi bergelut dengan Badai mencari dan memungut inhaler Saka, lalu menunggu sampai napas Saka melega.

"Bimo, dari kelas 6B," kata anak itu sambil tersenyum. "Ini sahabatku Dwi, kami sekelas. Kamu baik-baik saja? Namamu Saka, kan, ya?"

"Ck… udah jelas dia bonyok gitu kok pake ditanya-tanya segala. Udah, ke UKS aja, yuk," ajak Dwi.

"N-nggak usah!" refleks Saka menolak, tidak ingin bertemu anak PMR. Dia berusaha bangun, meringis menahan sakit. "A-aku enggak apa-apa, kok. Aku ke kelas aja, sebentar lagi pelajaran mau mulai."

Bimo dan Dwi berpandangan.

"Aku antar, ya," putus Bimo.

"Aku rapiin bentar videonya, segera aku kirim," kata Dwi pada Bimo.

"E-eh, jangan!" seru Saka. Bimo dan Dwi memandanginya. Saka menelan ludah.

"Makasih banyak kalian udah nolongin aku, t-tapi tolong video yang tadi j-jangan disebar, ya?"

"Kenapa, Saka?" tanya Bimo sambil mengerutkan kening.

Karena dia sahabatku? Membayangkan mengucapkan hal tersebut sudah bikin perut Saka melilit. Mereka akan mencemoohnya, menganggapnya bodoh karena masih menganggap Badai sebagai seorang sahabat.

Mereka benar, kan? Mana ada orang yang memukuli sahabatnya sendiri? Suara hatinya berbisik.

Mungkin dia memang bodoh, tapi dia tidak bisa melupakan semua kebaikan Badai begitu saja.

Saka menengadah, Bimo masih memperhatikannya. "Aku cuma enggak mau dia dikeluarkan dari sekolah. Ujian tinggal sebentar lagi. Aku ingin dia bisa lulus."

Dwi mendengus. "Aku tetap akan mengeditnya. Akan kukirim ke Bimo."

Bel masuk berbunyi. Bimo lalu mengantarnya ke kelas tanpa berkata apa-apa.


***

Bab Empat


Di Sini Kita Berpisah, Kuharap Kamu Menemukan Teman yang Lebih Baik

***

Saat istirahat tiba Bimo mengajak Saka keluar.

"Kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Bimo memastikan.

Saka mengangguk. "Kalian… kenapa bisa merekam video itu?"

Bimo tersenyum kecil. "Proyeknya si Dwi. Dia memasang CCTV kecil di gudang belakang."

Saka belum mengerti. "Buat apa?"

"Gak tahu, emang anaknya iseng gitu, hobi bikin film pendek. Baru dipasang hari Minggu. Mungkin dia mau nunggu penampakan buat bikin film horor?" Bimo meliriknya. 

"Dia kaget waktu Senin pas lagi ngecek rekaman lihat Badai memalak kamu. Dia kasih tahu aku, aku langsung ke belakang. Cuma kamu udah keburu kabur. Aku gak tahu kamu kelas berapa, jadi kami memutuskan untuk menunggu saja di sana tadi pagi."

Ternyata Bimo anak ekskul pramuka. Siang itu juga Bimo meminta Ardi, salah satu anak pramuka yang jago bela diri, ikut membantunya mengawal Saka.

"Masukin nomor aku dan Ardi ke kontak emergensi kamu," kata Bimo. "Kalau Badai mencegatmu di jalan dan kamu butuh pertolongan, segera telpon."

Saka mengangguk. Perasaan haru menyeruak. Dia baru kenal dengan anak-anak pramuka ini, tapi mereka sudah begitu menjaganya.

Bimo bahkan memasukkannya ke grup WA Kekerabatan Pramuka SDN 03 Bintaro. Tiap malam ada saja anak yang iseng mengabsen anggota grup yang sedang online, mengajak bercanda atau menyemangati yang lagi belajar. Saka merasa menemukan rumah baru yang menerimanya dengan hangat.

"Saka. Jangan kasih dia duit lagi, oke?" pinta Bimo.

Sayangnya Badai tidak terima saat Senin berikut Saka menolak ikut ke gudang belakang dan bilang bahwa dia tidak bisa kasih uang lagi. Senin sore terjadilah kehebohan. Seseorang menempel foto Saka di mading sekolah. Dalam waktu cepat fotonya beredar di semua grup, termasuk grup pramuka.

***

Saka baru membuka ponselnya sepulang les biola. Semua grup sekolah yang dia ikuti ramai. Bimo sepuluh kali menelepon--Saka langsung menelepon balik.

"Saka! Itu beneran foto kamu?!" tanya Bimo saat mengangkat teleponnya.

"Foto yang mana, Bim?"

"Aku kirimin bentar."

Saat foto itu muncul, Saka langsung terduduk lemas. Di foto itu, Saka sedang merokok. Dia duduk di teras toserba Indomaret Point, rokok di tangan kiri. Dia menengok ke kanan, raut wajahnya keras. Alis berkerut dan matanya memicing, tidak pakai kacamata. 

Dari sudut itu dia kelihatan sangar, seperti para berandalan yang mengepungnya. Mereka sedang bermain kartu, meja di depan penuh dengan kartu, kulit kacang, puntung rokok, dan kaleng bir.

Itu geng bully-nya Badai. Badai menyeretnya ke sana sepulang sekolah, menyuruhnya merokok. Karena tidak bisa, akhirnya Saka hanya pura-pura dan memegang puntungnya seolah habis menghisap. 

Sebenarnya dia berpaling ke samping untuk menjauhkan diri dari asap rokok. Dia tidak tahu mukanya akan kelihatan seperti apa, yang jelas saat itu dia sedang menahan napas.

"Itu kamu, Sak?" tanya Bimo lagi. "Kamu merokok?"

Saka memejamkan mata.

"Iya, itu aku," jawabnya pelan. "Aku enggak bisa merokok, Bim. Aku punya asma."

Jangankan menghisap batang rokok, mencium asapnya saja sudah membuatnya batuk berkepanjangan dan asmanya kambuh. Waktu itu dia batuk terus. Duduk selama dua jam di sana benar-benar menyiksa.

Bimo diam sejenak. "Badai memaksamu?" bisik Bimo.

Saka mengepalkan tangannya yang gemetar. "Waktu itu kucingku sakit. Aku pake uang saku untuk berobat. Uang yang aku kasih ke Badai jauh lebih sedikit dari yang biasanya. Dia… marah besar. Dia memukul dan memaksaku ikut hang out bareng teman-temannya."

"Dia tahu kamu punya asma dan enggak bisa ngerokok, kan?" tanya Bimo perlahan.

Saka menggigit bibirnya. "Tahu, Bim. Dia ngambil kacamata dan inhaler aku dan enggak mau balikin kalau aku belum ikuti kemauannya. Asmaku kambuh sore itu. Dia baru ngasih dan nyuruh aku pulang waktu aku hampir pingsan."

"Saka… aku minta maaf, tapi aku terpaksa ambil tindakan. Ini udah gak bener banget, Sak. Dia udah aniaya kamu. Besok pasti rame. Kamu pasti dipanggil kepala sekolah. Aku akan kirim video itu sekarang. Besok aku akan temani kamu, oke."

Saka menggigit bibir. "Makasih ya Bim, aku nggak tahu harus gimana lagi."

Setelah selesai menelepon pintu kamar Saka terbanting terbuka. Kak Melia terlihat amat marah.

"Ini maksudnya apa?!" Dia mengacungkan ponselnya. Foto Saka ada di situ. Saka menelan ludah.

***

Kak Melia adalah perwakilan Mami di sekolah Saka. Mami sering tidak bisa menghadiri undangan dan acara dari sekolah, jadi Kak Melia yang menggantikannya. Kak Melia mendapat foto itu dari grup Orang Tua Siswa Kelas 6A. Tidak ada murid yang bergabung di grup itu, tapi tidak sulit untuk membayangkan perbincangan yang terjadi di sana.

"Jadi gimana ceritanya?" desak Kak Melia. Dia duduk di tempat tidur Saka, sementara Saka duduk di kursi meja belajar, tercenung menatap lantai.

"Ini semacam challenge gitu? Truth or dare? Prank untuk konten Youtube?"

Tenggorokan Saka tercekat.

"Saka… mending kamu jujur deh, daripada masalah ini sampai ke Mami. Kamu bakalan nyakitin Mami, tahu nggak?"

Saka meringis. "A-aku dipaksa, Kak."

"Maksudnya gimana? Kamu bakal dipukul kalo enggak nurut?"

Saka menutup wajahnya yang panas dengan kedua tangan, lalu mengangguk. Dia pasti kelihatan bodoh sekali… cowok macam apa yang tidak bisa melawan orang yang mendindasnya?

"Siapa yang bully kamu?"

"… Badai."

Kak Melia terdiam.

"Sejak kapan?" tanyanya muram.

Saka menggigit bibir.

"Awal kelas enam."

Kak Melia mengusap wajah. Rautnya yang tadi terlihat tidak sabar lantas berubah. Dia meraih tangan Saka, menatapnya dengan lembut.

"Foto ini waktu kamu pulang telat dan bilang duduk di samping bapak yang ngerokok di angkot?" tanyanya pelan.

Saka tidak sanggup menjawab, jadi dia hanya mengangguk.

"Kakak enggak pernah lihat kamu pulang babak belur. Dia sering mukul kamu?"

"Enggak pernah di wajah atau yang mudah terlihat," aku Saka. Dia berhenti sejenak, tidak yakin harus melanjutkan. "Biasanya di perut, rusuk, bahu, atau punggung."

Kak Melia terlihat sedih. Dia meremas jemari Saka. "Tadi kamu dipukuli lagi? Sekarang kamu lagi kesakitan, Saka?"

Saka menggeleng. "Aku dijagain sama anak pramuka sejak minggu lalu. Dia yang nyuruh aku--"

Saka berhenti, baru menyadari dia belum cerita tentang setoran uangnya, apalagi tentang mengerjakan PR Badai.

"Nyuruh kamu apa?"

Saka memejamkan mata. "Nyuruh aku berhenti ngasih uang saku ke Badai. Tadi pagi akhirnya aku bilang ke Badai, tapi sorenya foto ini udah beredar."

Sunyi mengisi ruangan.

"Ada lagi yang ingin kamu ceritakan?" tanya Kak Melia, satu tangan mengelus rambut Saka. "Kakak akan dengerin."

Saka menunduk, tidak tahu dari mana harus memulai.

"Kak… a-aku payah banget ya?" gumam Saka. "Badai dulu teman baikku. Tapi saat dia ada masalah keluarga aku enggak berhasil jadi teman yang baik untuknya. Mungkin… mungkin itu sebabnya dia jadi nakal."

Kak Melia menatapnya lama.

"Kamu enggak bisa melawan karena dia sahabatmu, ya? Kamu berharap kalau kamu terus menemaninya, suatu saat dia akan berubah dan kembali insyaf?"

Saka menggigit bibir dan mengangguk. Seandainya Badai bukan sahabatnya, Saka pasti akan melaporkan perbuatannya pada Mami sejak awal. Saka tidak akan membuatkan PR untuknya, tidak memberinya uang saku, dan tidak mau menuruti perintahnya.

"Apa dia memohon, mengancam, dan membuatmu merasa jadi teman yang terburuk sedunia kalau tidak menuruti perintahnya? Dia sering membuatmu mempertanyakan diri sendiri dan merasa bersalah, Saka?"

Saka memejamkan mata dan mengangguk.

Kak Melia menggenggam tangannya erat.

"Itu namanya toxic friend. Dia sakit, Saka, makanya dia menyiksa kamu secara fisik dan mental. Kamu enggak salah apa-apa. Kamu enggak berhutang padanya. Perbuatannya adalah pilihannya sendiri, kamu enggak bertanggung jawab atas kenakalan yang dia perbuat," kata Kak Melia perlahan.

"Kakak minta maaf masalah sebesar ini sampai bisa luput dari perhatian Kakak. Bukan cuma dia yang perlu disembuhkan, Saka, kamu juga. Nanti Kakak bicara sama Mami supaya kamu bisa konsultasi ke psikolog."

Saka terkejut. "Eng-enggak usah, Kak… Saka enggak apa-apa, kok."

Kak Melia menggeleng. "Pukulan dia mungkin udah enggak berbekas di badan kamu, tapi perkataan dan perlakuannya pada kamu pasti masih menyisakan sakit di sini," Kak Melia menyentuh dada Saka.

"T-tapi Kak--"

"Saka, kamu enggak bisa menyembuhkan temanmu. Kakak juga enggak bisa menyembuhkan luka mental kamu. Kita bukan psikolog," kata Kak Melia. Dia lalu menarik Saka ke dalam rangkulannya. "Kamu enggak bodoh. Kamu bukan teman yang payah. Kakak ngerti betapa kamu ingin temanmu berubah. Kamu teman yang baik, Saka."

A-ah. Akhirnya… akhirnya ada yang mengerti apa yang selama ini dia pikirkan, apa yang dia rasakan. Saka memeluk kakaknya erat, gemetar menahan tangis.

"Ssh… kamu telah berusaha sebaik mungkin. Kita hadapi bersama, ya? Semuanya akan baik-baik saja, Saka."

Keesokan harinya Kak Melia mengantar Saka ke sekolah. Kepala sekolah sudah memanggilnya lewat pesan WA. Bimo juga dipanggil. Badai tidak masuk sekolah, orang tuanya juga tidak bisa dihubungi.

Pak Kepala Sekolah menjelaskan bahwa dia sudah menerima video dari Bimo, juga rekaman audio saat Bimo menelepon Saka. 

Selain itu ada kesaksian dari Friska juga. Saka hanya diminta memberikan pernyataan lengkap tentang apa yang sudah dilakukan Badai padanya selama ini. Saka menceritakan semua dari awal.

"Terima kasih, Saka. Bapak akan bicara dengan orang tuanya Badai."

Saka menatapnya cemas. "Pak, maaf… dia tidak dikeluarkan dari sekolah, kan? Badai… pernah cerita kalau dia ingin ikut ujian, agar bisa dapat ijazah SD. Dia tidak yakin orang tuanya bisa menyekolahkannya lagi tahun depan. Kalau Bapak keluarkan dia sekarang, dia akan putus sekolah."

Pak Kepala Sekolah tampak tertegun, lalu tersenyum pada Saka. "Kamu baik sekali, Nak. Kita akan cari jalan yang terbaik, yang jelas untuk sementara Badai akan kami skorsing."

"Mengenai pencemaran nama baik Saka bagaimana, Pak?" tanya Bimo. "Gara-gara foto itu semua anak jadi mencemoohnya."

"Kami sudah mengadakan rapat internal, nanti kami berikan klarifikasi dan sangkalan resmi dari sekolah, kalau foto itu bukan Saka, melainkan hasil editan photoshop dari oknum," kata Pak Kepala Sekolah dengan berat hati. "Maaf lho ya Saka, Dek Melia, jalan ini kami ambil karena bukan Saka saja yang merasakan dampak dari beredarnya foto itu. Nama baik sekolah juga ikut tercemar."

"Iya Pak, enggak apa-apa. Kami ikut jalan yang terbaik saja," jawab Kak Melia sambil tersenyum.

Mereka pun menyudahi pertemuan. Bimo memeluk dan menepuk punggung Saka.

"Sabar ya bro. Semua anak pramuka akan mendukung dan melindungi kamu."

Saka menggigit bibirnya. "Terima kasih, Bimo. Aku nggak tahu bisa membalas apa buat kamu dan teman-teman."

"Ah, enggak usah dipikirin. Emang udah seharusnya kita saling membantu teman," jawab Bimo sambil tersenyum.

***

Epilog


***

Setelah memutus hubungan dengan Badai, semua berangsur membaik. Saka tidak perlu pontang-panting mengerjakan PR Badai lagi. Jadwal kegiatan Saka kembali normal, nilainya pun perlahan naik. 

Konsultasi dengan psikolog membantu Saka memaafkan dan menerima diri sendiri. Dia semakin dekat dengan anak-anak pramuka, namun tidak ikut bergabung ke ekskul tersebut karena sudah dekat masa ujian.

"Insya Allah tahun depan aku mau ikut, kalau kita satu sekolah lagi," ucapnya pada Bimo. Bimo menyambutnya dengan semangat.

Dua minggu setelah ujian Saka menerima telepon dari nomor tidak dikenal.

"Saka?"

Saka membeku. Suara itu… Saka menggenggam ponselnya erat. Rasa takut menyergapnya tiba-tiba.

Orang itu berdehem. "Saka, ini aku, Badai. Kamu lagi di rumah?"

Saka berpaling, setengah yakin Badai akan muncul dari balik jendela.

Hari itu Kamis sore. Seperti biasa rumahnya kosong, Saka sendirian di rumah. Dia sedang bermain biola di kamar, ditemani kucingnya si Buntal.

"Maaf nelpon tiba-tiba, tapi ini… ini mungkin terakhir kali aku bisa ngomong sama kamu," kata Badai pelan. "Aku di depan rumah kamu. Aku… boleh ketemu?"

Jantung Saka berdebar, napasnya mulai berantakan. Dia dan Badai sama-sama menjalani program konsultasi pada psikolog. Psikolognya bilang dia boleh bertemu Badai kapan pun dia siap. Masalahnya Saka sama sekali tidak merasa siap.

"Saka?"

"A-aku di rumah," bisik Saka. "Aku akan ke teras depan. T-tolong, jangan masuk."

Badai terdiam. "Aku mengerti. Aku di luar pagar. Aku enggak bermaksud buruk. Aku cuma ingin lihat keadaanmu."

Saka lalu berjalan ke teras depan. Dia berhenti di bawah kanopi teras, di samping jejeran pot bunga. Benar saja, Badai menunggu di balikgerbang, hanya sepuluh meter di depan Saka. Untuk sesaat mereka hanya berpandangan, tidak melepas ponsel masing-masing.

"Kamu kelihatan jauh lebih baik dari sebelumnya," gumam Badai. "Kamu sehat, Saka? Asma kamu masih sering kambuh?"

Saka menggeleng. "Alhamdulillah sehat. Kamu sendiri gimana?"

Badai mengedikkan bahu, tersenyum tipis. "Seperti yang kamu lihat. Tenang saja, sekarang aku bisa makan setiap hari."

Saka menggigit bibir, tidak tahu mau bilang apa. "Besok mamamu datang untuk ambil raport?"

Badai membeku, raut wajahnya berubah. "Mamaku sudah meninggal, Saka," ujarnya pelan.

Saka memucat. "Maaf, Dai, aku nggak tahu. Sejak kapan?"

Badai memejamkan mata. "Seminggu sebelum ujian. Mama sakit kanker paru-paru. Penyakit itu adalah salah satu alasan kenapa dulu aku mencari uang dengan membabi-buta. Di rumah sakit, ternyata mamimu yang menangani Mama. Mamimu baik sekali, dia membantuku agar bisa menemani Mama di saat-saat terakhirnya."

Oh… jadi itu sebabnya Saka tidak pernah melihat Badai lagi di sekolah. Dia hanya tahu sekolah meminta Badai mengikuti pembelajaran jarak jauh dari rumah.

"Kamu baik-baik saja, Dai?" tanya Saka khawatir.

Badai mengangguk. "Aku akan pindah ikut Papa ke New Zealand. Besok Papa mengambil raport dan mengurus dokumen sekolahku. Lusa kami berangkat, makanya… aku ingin ketemu kamu sebelum pergi."

Badai menarik napas, lalu menatap Saka lekat. "Aku… mau berterima kasih pada kamu, Saka. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku tidak bisa ikut ujian. Kamu… sabar sekali padaku, terus memberi aku kesempatan untuk memperbaiki kelakuanku, walau aku sudah menyakiti kamu lahir dan batin," bisik Badai, suaranya bergetar.

"Saka, Aku juga mau meminta maaf. Aku tahu, enggak ada yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahan dan membalas semua kebaikanmu. Aku cuma bisa mendoakan semoga Tuhan memberimu kehidupan yang baik. Aku pun akan terus berusaha memperbaiki diri. Semua kenangan tentang kamu akan aku simpan baik-baik, karena kamu hal yang terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku enggak tahu kenapa aku bisa mendapat teman sebaik kamu," ujar Badai tercekat. Dia mengusap pipinya yang basah.

"Aku akan belajar sebaik mungkin agar bisa menjadi dokter seperti keluargamu. Aku ingin membalas budi baik kalian dengan membaktikan diri di jalan yang sama. Aku ingin menjadi orang baik dan meneruskan kebaikan kalian pada orang lain yang butuh bantuan. Maafin aku, Saka. Aku benar-benar minta maaf."

Saka terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Rasa sakit yang ditinggalkan Badai kadang masih terasa, Saka pun sedang berjuang memulihkan diri. Tapi dia sungguh bersyukur akhirnya Badai bisa kembali ke jalan yang benar. Pengorbanannya selama ini ternyata tidak sia-sia.

"A-aku sudah memaafkan kamu, Dai. Aku senang sekali semua berakhir baik untukmu. Aku doakan semoga amal baik mamamu diterima di sisi-Nya, dan semoga kamu mendapat kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik bersama papamu ya…"

Badai terisak, menangis tanpa suara. Untuk sesaat tidak ada yang bicara. "Kamu teman yang baik sekali, Saka. Aku sungguh beruntung bertemu denganmu. Salam buat keluargamu, ya… Semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali, dengan kondisi yang lebih baik dari sekarang. Semoga pada saat itu aku diberikan kesempatan untuk membalas budi baikmu."

Badai lalu mematikan teleponnya. Mereka bersitatap sambil tersenyum. Badai mengangguk padanya, lalu berbalik pulang. Saka lantas terduduk di tepian paving block teras. Rasanya lemas dan lega, seperti habis menangis semalaman. Si Buntal mengeong dan menempelkan kepala di betis Saka, seolah bertanya apa dia baik-baik saja. Saka tertawa kecil. Dia menggendong Buntal ke dalam pangkuan dan mengelus-elus kepalanya.

"Aku baik-baik saja, Buntal. Semuanya akan baik-baik saja."

***

SELESAI

Selasa, 21 Juli 2020

Character - Bakti

Bakti

Oleh: Caritra Sari



***

Bab Satu

Kalau Bisa Melihat masa Depan

***

Kalau bisa melihat masa depan, tentu Bakti akan pulang cepat siang itu.

Pulang sekolah seharusnya dia menemani Ibu cuci darah ke rumah sakit, tapi Egi, anak paling tajir dan jago basket di kelas 9 saat itu, mengajaknya nonton lomba motor. Lebih tepatnya, balapan liar geng motor kampung sebelah.

"Deket, kok, di Sektor Satu. Paling cuma sebentar," Egi yang belum punya SIM kelihatan keren waktu dia mengeluarkan motor gede dari parkiran samping kantin--entah kenapa tidak ada guru yang menegurnya bawa motor ke sekolah.

Bakti yang bukan siapa-siapa--hanya anak yang ditakuti karena wajahnya seram, tinggi, dan berbadan besar--kontan langsung melompat naik saat Egi menawari boncengan.

Di lokasi Egi lalu mengenalkannya pada ketua geng, Desta, beserta kroni-kroninya. Rata-rata anak kelas 11 dan 12, semua tersenyum ramah saat menyambut Bakti. Tidak ada yang menganggapnya anak kecil, tidak ada yang meremehkan. Mereka mengajak mengobrol, tertawa oleh guyonan Bakti, dan menjawab segala keingintahuannya tentang modifikasi motor.

"Temen lo asik, Gi," kata Desta. Egi cuma nyengir dan menepuk-nepuk pundak Bakti. "Ntar abis racing nongkrong di Burger Spot, yuk. Gue yang traktir."

Ibarat ikan yang sudah tersangkut kail, Bakti yang sudah berbunga-bunga dengan senang hati menerima ajakan tersebut. Dia pun pergi main sampai malam.

Sesekali pulang terlambat tidak apa-apa, bukan? Ibu pasti mengerti.

Kalau saja dia tahu siang itu Ibu pergi sendiri dan tewas tertabrak motor saat dia sedang tertawa lepas bersama teman-teman barunya, tentu dia tidak akan menganggap hari itu hari yang terbaik dalam hidupnya.

***

Bakti tidak sempat melihat ibunya untuk terakhir kali.

Tidak sempat menunjukkan hasil ulangan matematikanya yang dapat 100. Tidak sempat memberitahu dia terpilih jadi peserta terbaik dalam coding bootcamp yang didaftarkan Ibu. Tidak sempat berbagi video kucing yang semalam dia temukan ke WA ibunya. Tidak sempat bilang pagi itu nasi goreng rendang hasil eksperimen Ibu rasanya lezat sekali.

Tidak sempat memeluk Ibu dan bilang sayang.

Tidak sempat meminta maaf karena tadi lupa mengabari kalau dia main sama Egi dan akan pulang telat.

Ketika dia pulang, mereka sedang mengubur ibunya.

Semua terasa seperti mimpi buruk. Ayah tidak menegurnya--dia seperti tidak ada di mata Ayah sebagaimana Ayah sering tidak ada untuknya. Hanya Ibu yang selalu ada dan Bakti baru benar-benar menyadari Ibu sudah tiada pada keesokan sorenya.

Pagi buru-buru berangkat--kenapa semua orang di sekolah memandanginya dan mengucap belasungkawa? Rumah kosong saat dia pulang, pasti Ibu sedang pergi ke pasar. Namun, sampai malam Ibu belum pulang. Setelah PR beres Bakti mengeluh lapar, memanggil Ibu, dan cepat duduk manis di ruang makan. Biasanya Ibu akan segera membuatkannya makan, tapi kali itu Ibu tidak kunjung menjawab.

Ibu tidak akan bisa menjawab panggilannya.

Tidak akan mengacak rambut dan mencium keningnya.

Bakti tidak akan pernah lagi melihat senyumnya. Rumah terasa sangat sepi tanpa Ibu. Dia kini sendiri.

Kalau saja ayahnya tidak sibuk dan sempat mengantar Ibu ke dokter waktu itu, tentu Ibu tidak akan mati.

Beberapa bulan berlalu dan malam itu Bakti menutup pintu rumah, sedikit meringis. Perutnya tadi sempat kena tinju, rahangnya sedikit lebam. Tidak apa-apa, toh lawannya sekarang sudah tak berdaya. Geng lawan kalah telak dalam tawuran kali itu. Walau statusnya selama ini seperti seorang penggemar yang mengintil artis idola, Desta mengizinkannya ikut membela nama geng mereka.

"Oi! Minum dulu buat sang juru selamat!" Begitu Desta memujinya di depan semua anggota geng, jadi sakit sedikit adalah hal yang sebanding.

Bakti ingin segera roboh di kamar dan tidur untuk menghilangkan pusing, tapi rupanya Ayah sudah menunggunya dari tadi.

"Bakti! Dari mana saja kamu?!" bentaknya. Pandangan tajamnya tidak luput dari baju seragam yang lecek dan kotor, rambut yang acak-acakan, dan bercak darah yang belum diseka. Tentu saja, Ayah juga pasti mencium bau alkohol.

"Bagus! Habis tawuran kamu?! Sudah berani minum-minum kamu ya? Udah ditungguin bukannya pulang--"

Bakti terlalu lelah menunggu Ayah hadir untuknya, sampai-sampai tidak bisa mengerem mulutnya seperti biasa. "Kalau iya emang kenapa?"

Ayah sontak menamparnya.

"Kurang ajar kamu! Berani durhaka sama orang tua, hah?! Sudah membunuh ibu sendiri, sekarang membangkang--"

"Ibu mati karena Ayah nggak becus menjaga--"

Ayah lalu meledak.

Malam itu Bakti terkapar setengah sadar di lantai kamarnya, menyesal karena tadi tidak membawa pulang botol alkohol yang dibelikan Desta. Selama ini dia masih menolak minum walau semua orang di sekitarnya membujuk, tapi barangkali… kalau dia minum sampai mabuk, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini.

***

Ayah berhenti memberinya uang saku secara rutin. Tergantung mood saja, Ayah kadang memberinya uang saat ingat bahwa Bakti masih ada, tapi seringnya tidak.

Hari ini adalah hari ulang tahun yang terburuk.

Bakti sudah tiga hari belum makan ketika Desta menyuruh datang ke markas dan memberinya sebuah misi. Kalau berhasil maka dia resmi diangkat menjadi anggota geng. Tugasnya hanya memberi pelajaran pada salah seorang anggota geng lawan yang kemarin menghina Desta. Bakti tidak peduli apakah dia akan menjadi anggota resmi atau tidak--toh selama ini dia sudah loyal pada geng mereka. Dia hanya menyadari satu hal.

Kalau dia mengikuti perintah, Desta akan senang. Kalau lagi senang, Desta akan mentraktirnya makan. Artinya walau tidak mendapat uang dari Ayah, dia tidak akan kelaparan. Tidak perlu disuruh dua kali, Bakti langsung melaksanakan tugas.

Ketika ditemukan, targetnya sedang memalak anak kecil, mungkin masih kelas dua atau tiga SD. Cih, benar-benar memalukan. Dia menghentikan dan menyuruh anak kecil itu pulang, lalu menghajar musuhnya sampai KO.

Setelah kenyang makan, dia bersantai di markas sampai malam. Rumah kosong karena Ayah ke luar kota, jadi buat apa buru-buru pulang?

"Aku sudah dengar tentang kasus tabrak lari ibumu," kata Desta penuh perhatian. "Jangan khawatir, kita akan menyelidikinya dan membalas dendam."

Bakti mengerjap. Belum pernah ada orang yang berhasil membaca pikirannya.

Di malam-malam yang sunyi, kerinduan pada Ibu menjerat dadanya dalam belitan duri tajam. Masa lalu tidak dapat diubah, tapi masa depan? Kalau Bakti bisa menemukan orang yang telah menabrak ibunya, dia akan membereskannya.

Nyawa harus dibayar dengan nyawa, itu baru adil. Ibu akan beristirahat dengan tenang.

Dia akan terbebas dari rasa bersalah yang begitu menyiksa.

Desta mengembalikannya pada masa kini. Dia meletakkan dan membuka minuman kaleng kecil yang jelas bukan berisi air putih di depan Bakti, lalu mengajaknya bersulang.

"Untuk awal yang baru," ujarnya sambil mengangkat alis, seolah mempertanyakan pendirian Bakti saat itu.

Bakti mengambil kaleng itu dengan perlahan, lalu mengangkatnya tanda setuju.

Tidak usah dipertanyakan lagi, bukan? Tidak ada lagi yang peduli padanya seperti Desta. Entah Desta yang mengadopsi Bakti atau sebaliknya, Bakti kini punya keluarga baru.

"Untuk awal yang baru." Bakti lalu menenggak minumannya.

"Oh, ya. Selamat ulang tahun. Great job buat misi pertama kamu!"

Bakti tertawa.

Malam itu terasa panjang. Hari itu batal jadi hari ulang tahun terburuk. Semua permasalahan hidup Bakti sepertinya mulai tersusun rapi. Dia tidak sabar menunggu hari esok yang terlihat cerah. Malam ini terasa begitu sempurna.

Bakti genap berusia 16 tahun saat mabuk untuk yang pertama kalinya.

***

Bab Dua

Kamu Membuat Ibu Mati

***

Kamu di mana? Pulang ke rumah sekarang.
Pesan dari Ayah satu jam yang lalu itu baru dia baca. Setelah itu ada sembilan missed call, semua dari Ayah. Tadi tidak terdengar karena Bakti mensenyapkan ponselnya saat sedang bersama Desta menonton balapan. Bakti lalu mendengus dan melempar tubuhnya ke sofa.

"Kenapa, Ti?"

"Enggak, cuma disuruh pulang sama orang rumah. Males, ah."

Temannya cuma tertawa. Bakti membuka aplikasi permainan di ponsel dan asik main sampai tiba-tiba sebuah pangilan masuk menutupi layar ponsel.

Ayah.

Dia membiarkannya tidak terangkat. Sayangnya permainannya sudah berakhir.

You lose! Begitu tertera di layar.

Bakti berdecak dan dengan dongkol mengulang permainan tersebut. Saat sudah hampir berhasil menyelesaikan, panggilan masuk kembali membuatnya kalah.

Siaaal!

Bakti menekan tombol "Tolak".

Tak berapa lama sebuah pesan masuk.

Bakti! Angkat teleponnya, penting! Dari Ayah.

Ugh, benar-benar menyebalkan!

Bakti memasukkan ponselnya ke tas, tidak sengaja melihat buku PR yang belum dia kerjakan. Ah, dikerjakan atau tidak, tidak ada pengaruhnya. Sekarang sudah mau UTS. Nilai-nilainya sudah terjun bebas sejak awal semester, jadi bikin PR atau tidak nilainya tidak akan langsung berubah jadi bagus. Lagipula selama ini Ayah tidak tidak peduli, bukan? Tidak pernah menanyakan nilai dan sebagainya.

Namun, lima belas menit tanpa ponsel dan sedang tidak berminat mengobrol, rasa bosan akhirnya mendorongnya mengambil buku dan mengerjakan PR. PR selesai tidak lantas membuat mood-nya membaik. Begitu memegang ponselnya lagi, sudah ada banyak missed call dan pesan dari Ayah. Bakti tidak membacanya, kepalanya mendadak pusing.

"Aku duluan ya, ada urusan," kata Egi menepuk pundaknya tidak lama kemudian. Bakti cuma mengangguk. Egi lalu meninggalkan sebuah obat tablet berwarna putih padanya.

"Apaan, nih?"

"Obat sakit kepala. Abis kasihan kayaknya mukamu kok ngenes banget gitu," jawab Egi nyengir. "Sampai ketemu besok."

Bakti lalu meminumnya.

Obatnya… sangat manjur.

Sakit kepalanya menghilang, badannya terasa ringan dan nyaman. Bakti merasa lebih kuat, seolah bisa melakukan apa saja. Semua masalah terasa kecil dan remeh. Ponselnya bergetar, ada panggilan dari Ayah. Ah, namanya orang tua wajar kalau khawatir. Mungkin memang saatnya pulang, pasti ayahnya senang dia sudah bikin PR.

Ternyata ada tamu di rumah. Seorang perempuan cantik, berdiri di samping Ayah dengan wajah cemas. Ayah memperhatikan dan menatapnya marah. Entah bagaimana memperkenalkan perempuan itu sebagai calon istrinya yang baru.

Belum genap setahun Ibu meninggal, Ayah sudah ingin menggantikan Ibu?

Bakti tidak begitu ingat--oke, lebih tepatnya dia tidak peduli karena itu bukan hal penting, makanya buat apa diingat--apa yang dia katakan pada mereka, tapi Ayah menamparnya.

Oh. Apa itu hobi baru ayahnya? Muka ayahnya lucu waktu memerah marah. Apa yang perlu dimarahi, sih?

Bakti tertawa.

Ayah menyeretnya ke kamar dan menghajarnya. Bakti tidak melawan--bukankah selama ini dia sudah jadi anak baik? Dia tidak pernah melawan saat Ayah menghukumnya!

Yah, pokoknya kali itu tidak sakit, jadi tidak perlu dipikirkan. Mungkin akhirnya Ayah kasihan dan mau mulai menyayanginya. Yay! Terserahlah, Bakti cuma mengantuk, ingin tidur.

Saat terbangun di lantai keesokan harinya dengan kepala berdenyut kencang dan setiap inci tubuhnya sakit, semua cacian Ayah terus berputar di benak dan menelanjangi semua kebobrokannya, tidak bisa bernapas karena dia tengah dikubur dalam kamu membuat Ibu mati, Bakti cuma bisa meringkuk dan menangis.

***

"Ti, ada yang nyariin, tuh," kata teman sebangkunya.

Bakti melirik ke pintu kelas, malas bergerak. Badan meriang dan kepala sakit, tanda dia mulai nagih. Boro-boro punya uang buat beli obat itu lagi--oh ya, Egi ternyata jualan dan menolak memberikan "obat sakit kepala"-nya secara gratis--uang buat makan saja tidak ada. Belum ada tugas baru dari Desta, jadi dia belum bisa makan.

Ada seorang anak laki-laki di depan kelas, sepertinya adik kelas. Anak itu melambai saat pandangan mereka bertemu, membuat beberapa orang menoleh ke arah Bakti.

Huh, siapa, sih?!

Bakti meringis saat beranjak bangun. Dia berjalan sampai ke pojok lorong yang tidak terlihat dari kelas. Anak berseragam pramuka itu tentu saja mengikutinya.

"Kak Bakti, ya?" tanya anak itu setelah mereka berhenti.

Bakti memelototinya, bete. "Ada apa?"

Kurus, berkacamata, hanya setinggi bahunya, berbaju rapi--Bakti berani bertaruh dia duduk di deretan terdepan di kelas--anak model begini biasanya tidak ada yang berani mendekati Bakti, tapi anak itu dengan tenang mengulurkan tangan dan tersenyum.

"Saya Darma, Kak, dari kelas 8A. Mau ngasih ini." Darma menyerahkan bungkusan kotak bergambar mangkok bakso dan bertulisan "Selamat Menikmati". Wangi kuahnya benar-benar menggugah selera.

Bakti mengerutkan kening, tapi menerimanya sebelum perutnya keburu berbunyi dan membuatnya malu.

"Apaan nih?"

"Kak Bakti pernah nyelamatin adik saya dari tukang palak. Makasih banyak ya, Kak. Maaf baru nyadar kalau dulu Kak Bakti yang nolongin. Habisnya si Satya deskripsiin orangnya enggak jelas, maklumlah masih kelas 3 SD. Waktu itu dia juga bener-bener ketakutan, jadi enggak terlalu perhatiin ciri-ciri Kakak. Pas kemaren dateng ke bazaar sekolah dan ngelihat Kak Bakti secara langsung dia baru bilang."

Bakti mengerjap, bingung anak ini menyerocos tentang apa. Karena kepalanya masih sakit dan tidak mau repot, akhirnya Bakti cuma mengangguk.

"Aku bikin baksonya sendiri. Maaf kalau ukurannya enggak sama hehehe… tapi kuahnya pasti enak, kok, soalnya bikinan Bunda."

Bel masuk berbunyi dan anak itu pamit pergi.

Siang itu Bakti sedang menghabiskan bakso malang dari Darma di markas ketika Desta memanggilnya.

"Aku sudah menemukan orang yang menabrak ibumu," ujar Desta sambil tersenyum, memberikan secarik foto yang belakangnya berisi nama dan alamat orang yang dimaksud. Ah, ternyata masih sepantaran Desta. "Anak SMA 86. Egi bilang kalau sore anak itu sering lewat lapangan bola deket rumahnya."

Bakti mengangguk, meneguk minumnya dan menyeringai.

"Kalau butuh motor pakai punyaku aja. Kunci ada di meja."

***

Ah, ini terlalu mudah. Bakti menarik pedal gas dan melesat. Kepalanya terasa ringan, sekosong jalanan pada sore hari itu. Dia hanya perlu mengunci fokus pada target, tepat segaris dengan jalur laju motornya. Senggol keras sampai terpental, lalu langsung kabur. Begitu saja rencananya.

Dunia menjadi sunyi, ikut menahan napas.

Dua puluh meter.

Bakti menahan panas di dada yang memberontak ingin keluar.

Sepuluh meter.

Ini untukmu, Ibu.
Lengkingan peluit dari anak-anak yang sedang latihan pramuka di lapangan membelokkan konsentrasinya sesaat.

Lima meter sebelum titik tujuan, motor itu terantuk lubang. Menabrak target dan hilang kendali, suara rem berdecit ngilu. Motornya selip dan berputar.

Bakti terlempar jauh. Menghantam pohon, terguling. Entah apa yang membuatnya terhenti. Terkapar di tanah, terengah memandangi langit jingga yang diam menyaksikan perbuatannya.

Bukannya berhasil mencelakai orang lain, dia malah mencelakai diri sendiri.

Bakti ingin tertawa histeris.

Mungkin… akhirnya sore ini dia diizinkan untuk bertemu Ibu.

Lalu rasa sakit merenggut kesadarannya.

***

Bab Tiga

Seandainya, Seandainya, Seandainya

***

Bakti… Bakti… bangunlah.

Bakti mengerjap. Apa Ibu barusan menyuruhnya bangun?

Ugh, kepalanya pening. Seseorang menempelkan kompres dingin ke atas keningnya. Dia berusaha untuk duduk, lalu memekik saat rusuknya meraung sakit. Orang itu menahannya sebelum dia jatuh.

"Pelan-pelan, Kak. Rusukmu memar."

Suara itu… perlahan pandangannya pulih. Darma sedang menatapnya khawatir. Bakti ingin tanya kenapa dia ada di sana, tapi untuk bernapas saja sulit. Dadanya seperti ditusuk-tusuk pecahan kaca.

"Di, udah telpon ambulans belum?" seseorang bertanya panik.

"Aku enggak ada pulsa!"

"Pake ponselku aja, ada di tas," tukas Darma setengah berteriak. Bakti meringis, suara Darma terlalu kencang.

"Cepetan, kepalanya bocor. Korbannya udah enggak napas!"

Ah. Jadi dia berhasil?

Bakti ingin melihat sendiri orang yang ditabraknya benar-benar mati, tapi dia masih belum bisa bergerak. Rasanya lebih sakit dari pukulan Ayah. Namun, karena sepertinya misinya sukses, tentu saja ini semua adalah harga yang sebanding.

"Hubungi polisi dan orang tua mereka!"

Mendadak Bakti membeku.

Polisi… dan Ayah?

Tentu saja, kamu kan tertangkap basah menabrak orang sampai mati. Salahmu sendiri tidak bisa kabur. Selamat menikmati hari-hari di penjara.

… sial. Dia tidak berpikir sejauh itu.

***

Bakti tidak percaya keberuntungannya.

Darma memberikan kesaksian bahwa motornya selip dan tidak sengaja menabrak korban. Seorang pembina pramuka di lokasi kejadian juga melihat hal yang sama. Bakti tidak mau mengoreksi mereka, bahwa itu sebenarnya bukan kecelakaan.

Dia sudah sengaja mengambil nyawa orang.

Entah kenapa perutnya mulas. Bakti menggigit giginya kuat-kuat, menahan dorongan muntah. Mereka masih di rumah sakit, ibu si korban menangis memeluk jasad anaknya.

Ayah sedang bicara dengan bapak korban yang masih emosi, berusaha menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Keluarga korban belum terima, karena Bakti telah mengebut dan lalai dalam berkendara. Di mata hukum, Bakti juga salah karena mengendarai motor di bawah umur. Setelah melalui diskusi yang alot, akhirnya mereka sepakat untuk damai.

Bakti sama sekali tidak merasa lega.

***

Semua tidak seperti bayangannya. Bukannya membaik, keadaan malah memburuk.

Desta tidak meminta ganti rugi karena motornya rusak, tapi dia memberi Bakti banyak tugas--kali ini tanpa traktiran atau perayaan makan-makan. Desta bilang dia kecewa berat. Dia juga mengingatkan bahwa Bakti banyak berhutang budi padanya. Dengan perbuatannya yang hampir menyeret Desta sebagai pemilik motor ke polisi, Bakti sama sekali tidak pantas menyebut dirinya sebagai teman.

Setelah puas menghukum Bakti, Ayah mulai memonitor kegiatan dan nilai-nilainya di sekolah. Mulai rutin memberinya uang saku untuk sekali makan setiap harinya, sekadar agar dia tidak mati kelaparan. Sulit sekali untuk membuat Ayah tidak marah-marah di rumah. Salah napas sedikit saja Ayah akan meradang.

Tiada hari yang berlalu tanpa rasa sakit, jadi Bakti mulai mengandalkan obat dari Egi untuk menjaga kewarasannya. Uang makan habis buat beli obat, sampai dia pernah pingsan di toilet sekolah.

Untungnya waktu itu Darma pas sedang ada di sana dan langsung membawanya ke UKS. Saat itu otak Bakti lagi macet, jadi ketika ditanya dia keburu mengaku kalau dia belum makan. Mulai hari itu, setiap beberapa hari sekali Darma mengantar makanan untuknya.

Semua mengira Bakti menindas Darma dan memaksanya membelikan makanan. Bakti tidak meluruskan asumsi itu dan Darma tidak kelihatan peduli apa kata orang, jadi klop. Itu adalah awal dari persahabatan mereka.

Saat Bakti ingin kabur dari hidupnya, dia akan mengunjungi Darma pada jam istirahat--atau seringnya waktu anak itu latihan pramuka.

Bakti cuma duduk-duduk di pinggir lapangan sambil menonton latihan atau mengerjakan PR, tidak memikirkan masalah apa-apa. Kadang Darma menemaninya duduk dan menawarkan camilan. Bercerita ini-itu tentang adiknya.

Bakti jarang berkomentar atau bercerita, tapi Darma tidak pernah memaksanya bicara. Anak itu tidak punya ekspektasi apa-apa terhadapnya, hal itu membuat Bakti merasa tenang. Sepertinya ini adalah bagian ternormal dalam kesehariannya, tapi itu saja ternyata belum cukup untuk memperbaiki keadaan.

Saat malam tiba dan sunyi berusaha mencekiknya dengan segenap hati, Bakti terbaring gelisah.

Orang yang membunuh ibunya sudah mati, tapi dia tidak merasa lebih baik. Tidak merasa bebas, dadanya masih terjerat kawat duri. Hatinya terasa gosong, habis terbakar bara yang tak kunjung padam. Semua malah terasa perih, seperti dicabik binatang buas dan dimakan hidup-hidup.

Setelah membunuh anak itu, dia tidak merasa puas. Perasaan bersalah karena "membunuh" Ibu yang tadinya dia pikir akan hilang, justru bertambah karena dia membunuh sang penabrak Ibu.

Kenapa dulu dia sampai bisa berpikiran seperti itu?

Seandainya kepalanya lebih jernih, mungkin dia tidak akan menabrak orang itu. Motornya Desta tidak rusak, Bakti tidak berhutang banyak padanya.

Seandainya tidak bertemu Desta, mungkin dia tidak akan bergaul dengan geng laknat itu. Ayahnya tidak akan marah dan menghukumnya. Dia tidak akan kesakitan maupun kelaparan.

Seandainya siang itu dia tidak silau oleh Egi, dia tidak akan pulang terlambat. Dia akan menemani ibunya, mereka akan lewat jalan lain saat ke dokter, Ibu tidak mati tertabrak. Atau paling tidak, dia yang akan tertabrak dan mati mulia dalam rangka melindungi ibunya.

Bakti sama sekali tidak dekat dengan Tuhan, tapi seandainya Tuhan berbaik hati memberinya keajaiban dan kesempatan sekali lagi, dia akan melakukan apa pun asalkan Ibu tidak jadi mati. Dia akan menuruti semua perintah Ayah. Dia tidak akan main ke luar lagi. Dia akan menjauhi geng nakal, minuman keras, dan narkoba. Dia akan belajar, mendapat nilai bagus, dan membuat orang tuanya bangga.

Seandainya, seandainya, seandainya.

Semua pertanyaan itu pada akhirnya hanya membuatnya hampa. Semakin lelah. Bagai mata air yang habis disedot, Bakti sudah kering. Sama sekali tidak tahu mengapa dia harus tetap hidup kalau hidup ini rasanya begitu kosong dan menyakitkan.

Dia sudah minum obat agar menjadi lebih kuat, lebih tegar menghadapi semua. Untuk sesaat memang berhasil, tapi percuma saja… setelah pengaruh obatnya habis dia akan kembali ke tempat semula. Terempas di dasar jurang, pupus dari harapan.

Sampai di sini sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, jadi dia akan mengakhiri semua. Toh dia telah mengambil nyawa orang yang membunuh ibunya, jadi pantaslah kalau dia juga harus kehilangan nyawa.

Sore itu Bakti mendatangi makam Ibu.

Seratus persen teler setelah minum obat--pengecut sepertinya tentu butuh suntikan keberanian untuk melaksanakan rencananya. Dia terduduk bersimpuh memandangi rumput yang tumbuh di makam, botol Baygon tergeletak di depan, tidak memedulikan pelayat di kuburan sekeliling.

Bakti memejamkan mata, tenang karena pengaruh obat. Dia akan meneguk Baygon untuk mengakhiri hidupnya. Tidak akan sakit--oke, mati keracunan pasti akan sakit, tapi ayolah itu kan hal kecil yang tidak terlalu penting, jadi buat apa juga dipikirkan. Masalahnya akan selesai, beban hidup Ayah akan berkurang, tidak ada yang akan merindukannya.

Egi dan Desta? Jelas tidak. Bakti hanya seonggok kotoran yang menempel di sepatu mereka. Mungkin Darma akan sedikit terguncang, tapi Bakti bukan siapa-siapanya dan anak itu masih punya keluarga yang menyayanginya.

Darma tidak seperti Bakti, yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Bahkan tidak juga Tuhan--Tuhan sudah lama meninggalkannya. Bakti sudah terlalu banyak dosa, mana mungkin Tuhan masih sayang padanya?

Sudahlah.

Bakti akan masuk neraka dan tidak akan mungkin bertemu ibunya di sana, jadi sebaiknya sekarang dia titip salam pada Tuhan saja.

Mencoba menggali otaknya yang sudah karatan, Bakti lalu berdoa.

Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa Ibu dan Ayah. Sayangilah mereka melebihi rasa sayang mereka padaku saat aku masih kecil. Sampaikan rinduku pada mereka, Tuhan. Tolong sampaikan bahwa aku tidak pernah berhenti menyayangi mereka. Amin.

Sudah cukup, tidak usah pakai doa untuk diri sendiri segala, karena pasti tidak akan dikabulkan.

Bakti mengerjap dan menarik napas. Tangannya sedikit gemetar saat meraih dan membuka tutup Baygon.

Cih. Santai saja, anggap seperti minum alkohol.

Selamat tinggal, Ibu.
Bakti mengangkat dan menenggak botol itu.

***

Bab Empat

Rencana yang Terbaik

***

Sepertinya Tuhan benar-benar benci pada Bakti, sampai rencana sederhana saja tidak berhasil.

Seseorang menendang botol di tangannya. Cairan Baygon itu tumpah ke semak-semak. Bakti hanya berkedip seperti orang bego ketika ada orang lain yang memeluknya.

Apa-apaan--

"Ssh… Sayang, Bunda di sini. Jangan lakukan itu, ya? Sshh… semuanya akan baik-baik saja, oke? Bunda sayang padamu."

Bakti membeku, tidak bisa mencerna kata-kata penghibur yang terus mengalir dari perempuan berbaju hitam itu.

Bunda?

Perempuan ini bukan ibunya, kan? Namun, suaranya yang lembut mau tidak mau membuat Bakti teringat Ibu.

Ibu yang menjaganya ketika bermain perosotan. Ibu yang memeluknya ketika dia terjatuh saat belajar naik sepeda. Ibu yang mencium kening dan mengelus-elus kepalanya sebelum tidur, yang membuatnya hangat ketika menggigil sakit.

Ibu yang amat menyayanginya.

Ibu yang seandainya masih hidup, tentu tidak akan membiarkannya mati bunuh diri.

Bakti memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam rasa aman.

Semuanya akan baik-baik saja, Bakti. Ibu sayang padamu.
Begitu sadar kembali, Bakti sedang duduk di teras mushola. Kepalanya mulai sakit, badannya berat. Pengaruh obatnya sudah berkurang. Semua emosi tajam yang tadi dibendung obat kini mengiris-iris dadanya.

Bakti menarik napas dengan susah payah. Melihat ke sekitar, dia masih di komplek kuburan. Suasana sepi, matahari sudah terbenam. Ibu yang menyelamatkannya sedang salat magrib. Suaminya sedang menelepon seseorang.

Bakti baru mengenali mereka. Ternyata mereka adalah orang tua anak yang telah dia tabrak.

"Cepat datang, ya. Dia sudah sadar." Bapak itu lalu mengembalikan ponsel Bakti.

"Ayahmu tidak bisa dihubungi. Saya menelepon temanmu yang ada di daftar kontak emergensi, dia akan menjemputmu sebentar lagi," jelasnya. Dia lalu berpaling pada penjaga mushola dan menyelipkan uang. "Tolong jaga anak ini, ya, Pak. Jangan biarkan dia pergi sendirian kalau temannya belum datang."

Bapak itu lalu pergi ke parkiran, tidak memandang Bakti lagi. Tak lama istrinya selesai salat.

Bakti menunduk, entah kenapa terus teringat sosok ibunya saat menatap perempuan itu. Rasa rindu mencengkeramnya begitu kencang.

"Saya kaget sekali waktu melihatmu ziarah ke sebelah makam anak saya. Ayahmu tidak cerita kalau ibumu sudah meninggal."

Bakti hanya mengedikkan bahu.

"Seharusnya Ibu membiarkan saya mati. Saya sudah membunuh anak Ibu," katanya dengan suara serak. Dia adalah pembunuh berantai, kalau dibiarkan mungkin dia akan kembali menyebabkan orang lain mati.

Dia tidak pantas untuk hidup.

Ibu itu menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Tidak, Nak, saya tidak ingin kamu mati. Saya sudah memaafkanmu."

Bakti terkesiap. Bagaimana mungkin Ibu itu memaafkannya? Dia bahkan masih belum bisa memaafkan anak itu, padahal dia sudah membunuhnya!

Ibu itu memejamkan mata. "Anak saya pernah menabrak orang," dia berkata dengan suara gemetar. "Dia sedang buru-buru membeli obat untuk ayahnya. Dia tidak mau cerita di mana dan siapa, dia cuma bilang tidak sengaja menyenggol orang tersebut dan kabur meninggalkannya. Dia merasa begitu bersalah, namun karena terlanjur kabur, dia sudah tidak bisa meminta maaf."

Ibu itu menarik napas. "Anak saya memikirkan terus kejadian itu. Bagaimana kalau orang itu meninggal? Bagaimana kalau dia meninggalkan keluarga yang membutuhkannya? Bagaimana kalau mereka tidak ridha? Anak saya bilang, kalau suatu saat bertemu kembali dengan orang yang ditabrak, dia ingin memohon ampun dengan sangat. Andai diminta, dia akan melakukan apa saja untuk membayar kesalahannya, bahkan bila memang harus berkorban nyawa. Kini dia sudah tiada sebelum hal itu terjadi, sebelum mendapat kata maaf."

Ibu itu menyeka air matanya, lalu menatap Bakti. "Rasa bersalah yang terpendam karena tak dilepas oleh maaf itu bagai daging yang membusuk dalam tubuh. Perasaan itu menggerogoti anak saya sedikit demi sedikit, membuatnya hancur. Ibu mana yang tega melihat anaknya seperti itu? Saya tidak bisa membiarkan hal yang sama terjadi padamu. Kalau kamu merasa begitu bersalah sepertinya, jangan akhiri nyawamu seperti tadi, Nak. Saya sudah merelakan kepergian anak saya."

Bakti menggigit bibir, tidak bisa menahan air mata. "Ibu tidak mengerti… saya sudah membunuh orang, Bu. Saya sudah banyak berdosa."

"Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat. Minta ampunlah pada Allah, Nak. Dialah Yang Maha Pengampun.

"Andai kamu tahu, kasih sayangnya Allah padamu itu 70 kali melebihi kasih sayang ibumu kepadamu. Apa kamu bisa membayangkan betapa besarnya itu?

"Allah tidak berhenti menyayangimu hanya karena kamu berdosa. Kalau kamu bertaubat, Dia akan mengampunimu, walau dosamu sebanyak buih lautan."

Bakti menyeka pipinya. Apakah benar Allah akan mengampuninya? "Mungkin pengampunan itu hanya untuk orang yang soleh. S-saya bahkan tidak pernah memikirkan-Nya. Saya sudah sangat jauh dari-Nya. Dia tidak mungkin mau mendengar doa saya."

Ibu itu menggeleng, lalu mengelus kepala Bakti dengan sedih. "Tidak, Nak, kasih sayang Allah itu melingkupi segala sesuatu. Apa kamu sadar, Allah itu selalu dekat." Dia lalu mengutip ayat dengan lembut, "Apabila hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila dia memohon pada-Ku.

"Allah tidak meninggalkan hamba-Nya, kitalah yang justru sering meninggalkan-Nya. Dia selalu hadir untukmu. Dia telah menyelamatkanmu hari ini, bukan? Dia sedang menunggumu, Nak. Kembali dan bertaubatlah pada-Nya."

Setelah ibu itu pergi, Bakti duduk termangu. Dia tidak ingat sejak kapan berhenti salat. Dia bahkan sudah lupa cara berwudhu. Dia tidak pernah hadir untuk Allah, tapi ternyata Allah selalu ada untuknya? Bakti mengangkat kepala, memandangi langit malam yang bertabur bintang. Menyadari sebuah kerinduan yang muncul.

Dia sudah lama meninggalkan Dzat yang memilikinya. Sudah lama melupakan-Nya. Sudah melakukan banyak dosa, tapi Allah tetap menyayanginya. Bakti merasa tidak pantas untuk meminta, tapi dia begitu ingin pulang ke dalam ridha-Nya.

Berdoalah pada-Ku, niscaya Ku-kabulkan.
Ah…

Bakti memejamkan mata, memberanikan diri berdoa.

Ya Allah, ampunilah aku… aku mohon… terimalah aku kembali.
Entah bagaimana, rasa sakit yang selama ini mengimpit dadanya perlahan memudar. Tergantikan oleh rasa pasrah dan syukur yang amat sangat.

Bakti memeluk lutut, gemetar oleh tangis. Pipinya masih basah saat seseorang menyentuh pundaknya. Perlahan Bakti menengadah. Darma menatapnya khawatir, terlihat sedikit lega saat mendapati Bakti tidak terluka. Sepertinya dia tahu Bakti butuh waktu untuk bangkit, jadi dia tidak berkata apa-apa. Bakti menatapnya dengan rasa terima kasih. Darma hanya tersenyum. Dia duduk di samping Bakti dalam diam, menemaninya sampai Bakti siap pulang.

***

Akhir tahun pelajaran pun tiba. Bakti berusaha keras mengejar ketinggalannya. Setelah berhasil lulus SMP dengan nilai pas-pasan, Bakti mengikuti program rehabilitasi narkoba atas kemauan sendiri. Karena harus dirawat inap, dia lalu cuti sekolah selama setahun, menunda masuk SMA.

Darma selalu menjenguknya setiap minggu. Membawakan makanan dan buku yang menarik, atau streaming film aksi favorit. Darma bercerita tentang keluarganya dan hal-hal yang terjadi di sekolah, lalu mendengarkan dengan penuh perhatian saat Bakti ingin bercerita. Darma membantunya melewati hari-hari yang sulit. Dia juga mengajari Bakti salat dan membaca Al Qur'an. Bakti merasa beruntung memiliki teman sepertinya.

Mereka memulai kelas 10 di sekolah yang sama. Walau tidak sekelas, Darma mengajaknya ikut ekskul pramuka. Bakti satu regu dengannya, menikmati kegiatan yang mereka lakukan. Setelah regu mereka memenangkan lomba dan membawa nama baik untuk sekolah, perlahan sikap Ayah padanya mulai berubah.

Ayah masih mendidik Bakti dengan keras, tapi setidaknya sudah mengurangi main tangan. Ayah juga sudah menikah lagi. Bakti berupaya menjaga sikap dan kata-katanya. Dia belajar dengan rajin, ingin membahagiakan kedua orang tuanya.

Sore itu Bakti ziarah ke makam ibunya. Hampir dua tahun berlalu semenjak percobaan bunuh dirinya yang gagal. Masa-masa yang kelam itu telah berlalu. Rasanya seperti mimpi. Sama sekali tidak terbayang hidupnya akan membaik seperti ini. Banyak hal yang terjadi yang membuat Bakti amat bersyukur.

Sejak insyaf dan kembali mempelajari agama, hatinya juga berangsur menjadi tenang. Allah sungguh telah menjadikan Islam itu sebagai rahmat bagi seluruh alam. Bakti telah menyaksikan sendiri, bagaimana Allah mengasihi dia yang berlumur dosa, menariknya dari jurang menuju cahaya.

Aku sayang padamu, Bu. Semoga Allah selalu menjagamu di sisi-Nya, begitu Bakti menutup doanya.

Bakti lalu menengadah, memandangi langit sore yang menyelimutinya dalam damai. Dia memang tidak bisa melihat masa depan, tapi kini dia yakin Allah punya rencana yang terbaik untuknya.

***

SELESAI